KATA PENGANTAR
T
|
ema asli adalah ‘Kota Banten Pernah Diibaratkan
Amsterdam’ penulisnya DN. Halwany, namun dalam bab penutup adalah kami yang
buat karena tersentuh dengan perjalanan sejarah Orde Reformasi yang ditulis
oleh Rahadian Rundjan seorang esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah, dengan tema “20 Tahun Reformasi - Apakah
Reformasi di Indonesia Sudah Berjalan di Jalurnya yang Benar? [1]
Dalam salah satu paragraph tulisannya menyebut. “Pilar
reformasi memang memiliki retakan di mana-mana, namun, seharusnya masih belum
terlambat untuk ditambal. Untuk mewujudkannya perlu modal tabiat baik, akal
sehat, serta idealisme reformis sejati”.
Uraian DN. Halwany ini sangat menarik dalam
menggambarkan bagaimana usaha-usaha sultan memajukan negerinya sekaligus mempertahankan
kedaulatan negerinya dari tangan asing dengan kolonialisme dan politik ‘devide et impera’ diantara penduduk dan
negeri-negeri nusantara lainnya yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa.
‘Devide
et impera’ adalah politik pecah belah, politik adu domba ini adalah
kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan
menjaga kekuasaan dengan cara memecah belah kelompok yang tadinya besar menjadi
kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah dikendalikan untuk kepentingannya.
Dalam konteks lain, politik pecah belah juga mencegah kelompok-kelompok kecil
untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Itulah teroris
zaman tempo doeloe.
Awalnya, devide et impera merupakan
strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis mulai pada abad
15 seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Prancis. Bangsa-bangsa tersebut
melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam,
terutama di wilayah tropis. Seiring dengan waktu, metode penaklukan mereka
mengalami perkembangan, sehingga devide et impera tidak lagi sekadar
sebagai strategi perang namun lebih menjadi strategi politik dalam negeri.
Akhirnya ‘devide
et impera’ yang dilakukan negara asing ini telah berhasil meluluh lantakkan
eksistensi kedaulatam negeri-negeri kesultanan sehingga takluk dibawah
kolonialisme.
Baiklah paparan selanjutnya dapat diikuti seperti
yang akan diuraikan berikut ini. Selamat menyimak. □ AFM
KOTA BANTEN
IBARAT AMSTERDAM
PENDAHULUAN
B
|
anten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang
lalu, pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan
Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570, sudah menjalin hubungan
perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. Bahkan banyak pula
melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan, hal ini yang membuat cemas
bangsa Eropa, karena dalam persaingan perdagangan internasional.
Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa
itu. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak
dapat diremehkan. Terlebih dalam kemampuan berpolitik, seperti yang
tersirat dalam buku berjudul “The Sultanate of Banten” secara resmi
diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O’Cornesse, kepada bupati Serang
Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu.
Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan, isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten, penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. Menurut Dubes O’Cornesse, penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa Indonesia, terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsip-arsip yang ada di Eropa.
USAHA-USAHA SULTAN MEMAJUKAN NEGRINYA
P
|
erancis atau bangsa Eropa lainnya, mengagumi Banten dan menjadikannya satu
pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17, Banten di masa itu merupakan pusat
peniagaan dunia, kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis
kata O’Cornesse. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun
1527 berkembang menjadi pusat perdagangan, terutama pada tahun 1570 sampai abad ke-19. Kota Banten Lama yang
didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten), juga
berkembang menjadi satu kota muslim yang tidak
kalah baiknya dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana,
pasar dan juga masjid besar.
Kota Banten atau Bantahan menurut sebutan negara Eropa, dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan kota di Amsterdam saat itu, sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16, beliau mencari hasil bumi terutama Lada dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedagang.
Sebelum Banten menjadi Kota Muslim, Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya
yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan
perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten, saat itu Banten masih dibawah
Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. Perdagangan Lada ini begitu ramai dan menguntungkan, sehingga para
sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi
tersebut. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis Lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu Lada dari Malabar dan Aceh. Lada ini lah yang sangat di
gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan
dan Portugal untuk mencari Lada di Banten pada tahun
1519, sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia.
Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi Lada di Banten, dengan cara menginstruksikan semua
penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil Lada mereka ke Kota Banten, untuk diolah dengan standar
mutu tinggi. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam
500 pohon Lada dan hasilnya dikirimkan
ke Kota Banten. Di Banten pusat industri untuk produksi Lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga
kini. Dengan tindakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi ‘Imperium Lada’ -
bahan rempah-rempah yang disukai Eropa, Arab dan lainnya.
Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Selain Malaka, Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa, khususnya Belanda dan Portugis. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi Lada. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri Lada, sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya.
Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan
Makkah, India, Siam, Kamboja, Vietnam, Taiwan dan Jepang.
Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa, India dan
Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus.
Peta ini dibuat pada tahun 165 M/CE. berdasarkan tulisan geograf
Starbo (27 - 14 SM/BCE) dan Plinius (akhir abad
pertama M/CE). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran
dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung utara Sumatra,
kemudian menyusuri pantai barat Sumatra, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus
melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara, 1978: 21-38).
Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan pembangunan armada
kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa, dan bangsa Inggris
dipercaya untuk membangun armada tersebut. Kesultanan Banten memasuki
persaingan perdagangan Lada internasional yang sangat
ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672. Akhirnya, sampai VOC (Belanda) merebut
Banten pada tahun 1682, saat kekuasaan Sultan Agung Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji
Abunhasr Abdul Kahhar.
PENUTUP
D
|
emikianlah sejarah Nusantara masa lalu yang
tidak banyak di kenal oleh generasi muda sekarang tentang sisa-sisa kejayaan
negeri-negeri di Nusantara ini. Kami salut dengan sultan-sultan di Nusantara
ini yang telah cukup mewarnai kejayaan negeri-negeri Nusantara ini. Kalaulah
tidak disadari jalannya sejarah bangsa ini yang perlu ‘tunggal ika’, maka
Nusantara Indonesia ini hanya tinggal nama. Padahal kesultanan-kesultanan sejak
dari Aceh, Riau, Sulawesi, Kalimantan, Maluku telah menyerahkan kedaulatannya
demi ‘tunggal ika’ dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kita perlu pemimpin dan politisi serta penegak
hukum lainnya yang mempersatukan kita semua, dimana adanya Orde Reformasi
adalah sebagai koreksi atas dua orde sebelumnya. Namun sebagaimana yang
diingatkan oleh Rahadian Rundjan dalam tulisannya yang bertemakan ‘20 Tahun
Reformasi - Apakah Reformasi di Indonesia Sudah Berjalan di Jalurnya yang
Benar?’ Katanya, “Pilar reformasi memang memiliki retakan di mana-mana, namun,
seharusnya masih belum terlambat untuk ditambal. Untuk mewujudkannya perlu
modal tabiat baik, akal sehat, serta idealisme reformis sejati.” [1] Tidak
membiar adanya ‘penghujam-purukkan’ salah satu agama yang telah rela mengganti
Piagam Jakarta menjadi bagian dari dicantumkan dalam Preambul atau Pembukaan
(Mukaddimah, Pendahuluan) UUD 1945, dan menghapus kalimat yang lainnya. [2]
Last
but not least - “Jangan pernah merobohkan pagar, tanpa
mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan, tanpa
mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat”, Buya Hamka; “Barang siapa yang
tidak memperhatikan sejarah, maka akan dirugikan oleh sejarah itu sendiri”, A.
F. Marzuki. Billāhit
Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM
CATATAN KAKI
[1]
https://www.dw.com/id/apakah-reformasi-di-indonesia-sudah-berjalan-di-jalurnya-yang-benar/a-43685560 □□
KEPUSTAKAAN
Ambary, H.M., H. Michnob dan John N. Miksic, (1988),
Katalogus Koleksi Data Arkeologi Benten, Direktonat Perlindungan &
Pembinaan Peninggalan Sejarah
Halwany, Michrob, (1989), Catatan Sejarah & Arkeologi : Ekspor Impor di
Zaman Kesultanan Banten,
Kadinda Serang,
(1991), The Shift of The Karangantu-Market Site in Banten Lama
(1993), Catatan Masa Lalu Banten □□□
SUMBER
http://perpushalwany.blogspot.com/2009/10/kota-banten-pernah-diibaratkan.html
https://www.dw.com/id/apakah-reformasi-di-indonesia-sudah-berjalan-di-jalurnya-yang-benar/a-43685560
Dan
sumber-sumber lainnya. □□□□