Thursday, September 24, 2020

Memahami Usaha Beramal Ibadah

 

 

 MEMAHAMI USAHA BERAMAL IBADAH

Oleh: A. Faisal Marzuki

 

KATA PENGANTAR

Sebagian dari Umat Islam menganggap bahwa karena faktor Amal Ibadah  yang kita kerjakan atau dilakukan kita masuk surga. Sebenarnya tidak demikian. Amal Ibadah tidak bisa berdiri sendiri. Melainkan ada kaitannya juga dengan Nikmat Allah dan Rahmat Allah.

Dengan itu memahami usaha amal ibadah yang kita lakukan itu ada kaitannya dengan nikmat Allah yang diberikan kepada pelaku ibadah karena rahmat dari Allahu Rabbi.

Tanpa pemahaman seperti itu sia-sialah apa yang kita lakukan disangka ‘untung malahan buntung’. Mari ikuti bahasan berikutnya.

 

PENDAHULUAN

U

ntuk memahaminya mari ikuti kisahnya sebagai berikut. Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiallāhu ‘anhu (ra), beliau berkata, Rasulullah Muhammad shalallāhu ‘alaihi wa sallam (saw) mendatangi kami, kemudian beliau bersabda: Jibril berkata; Wahai Muhammad, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla (baca: ‘azza wa jalla) memiliki seorang hamba dari hamba-hambanya yang lain, hamba tersebut telah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla selama lima ratus tahun di puncak sebuah gunung di sebuah pulau yang dikelilingi dengan lautan yang lebar dan tinggi gunung tersebut adalah tiga puluh dzira’.

Jarak dari setiap tepi lautan yang mengelilingi gunung tersebut adalah empat ribu farsakh. Di gunung tersebut terdapat sebuah mata air yang selebar beberapa jari, dari mata air tesebut mengalir air yang sangat segar dan berkumpul ke sebuah telaga di kaki gunung.

Di sana juga terdapat pohon-pohon delima yang selalu berbuah setiap hari sebagai bekal hamba tersebut beribadah kepada Allah di hari-harinya. Setiap kali menjelang sore, hamba tersebut turun dari atas gunung menuju telaga untuk mengambil air wudhu, sekaligus untuk memetik buah delima lalu memakannya, baru kemudian mengerjakan shalat.

Setelah usai shalat, hamba tersebut selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala (baca: allāh ta’ālā), supaya kelak ketika ajalnya datang menjemput, dia dicabut nyawanya dalam keadaan sujud kepada Allah dan dia juga berdo’a supaya setelah kematiannya, jasadnya tidak dirusakkan oleh bumi dan oleh apapun juga sampai datangnya hari kebangkitan.

Jibril berkata, “Allah Ta’ala mengabulkan semua do’a-do’a sang hamba. Kemudian kami melintasi hamba tersebut, ketika kami turun dan naik lagi, kami menemukan sebuah pengetahuan bahwa, Nanti pada hari dibangkitkan, hamba tersebut akan dihadapkan pada Allah Ta’ala.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Masukkan hambaku ini ke surga dengan sebab rahmat-Ku”. Hamba tersebut berkata, “Dengan sebab amalku Ya Rabb”.

Allah berfirman, “Masukkan hambaku ke surga dengan sebab rahmat-Ku”. Sekali lagi hamba tersebut berkata, “Dengan sebab amalku Ya Rabb”. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Sekarang coba timbang amal hambaku ini dengan nikmat yang telah aku berikan kepadanya.”

Dan ternyata setelah ditimbang, nikmat penglihatan yang telah diberikan Allah kepada hamba tersebut, menyamai dengan timbangan amal ibadah yang telah dilakukannya selama lima ratus tahun. Dan masih tersisa anggota tubuh lain yang belum ditimbang, sedangkan amal hamba tersebut ternyata sudah habis.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Sekarang masukkan hambaku ini ke neraka”. Dengan perintah Allah tersebut, kemudian para malaikat menggiring hamba ke neraka. Tiba-tiba ketika akan digiring ke neraka, hamba tersebut berteriak sambil menangis, “Ya Rabb, masukkan aku ke surga dengan rahmat-Mu”. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para Malaikat; “Tahan dulu wahai malaikat, dan bawa kesini”.

Hamba tersebut lalu dibawa oleh para malaikat kehadapan Allah Ta’ala. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hambaku, siapakah yang telah menciptakanmu yang sebelumnya kamu bukan apa-apa?” Hamba tersebut menjawab, “Engkau Ya Rabb.” Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang telah memberikan kekuatan kepadamu, sehingga kamu mampu beribadah kepadaku selama lima ratus tahun?” Hamba menjawab, “Engkau Ya Rabb.”

Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang telah menempatkanmu disebuah gunung yang berada ditengah-tengah laut yang luas, mengalirkan dari gunung tersebut air yang segar sedangkan di sekelilingnya adalah air yang asin, yang (dengan air tawar) menumbuhkan buah delima setiap malam yang seharusnya hanya setahun sekali berbuah, serta siapa yang telah memenuhi permintaanmu, ketika engkau berdo’a supaya dimatikan dengan cara bersujud?” Hamba tersebut menjawab dengan wajah menunduk malu dan bersuara pelan, “Engkau Ya Rabb.”

Allah Ta’ala berfirman, “Itu semua tak lain hanyalah berkat rahmat-Ku, dan dengan berkat rahmat-Ku juga, engkau akan Aku masukkan kedalam surga.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat, “Masukkan hambaku ini ke surga, engkau adalah sebaik-baik hamba, wahai hamba-Ku.”

Dan dimasukkanlah hamba tersebut kedalam surga berkat rahmat Allah Ta’ala. Kemudian Jibril berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu terjadi berkat rahmat Allah swt (baca: subhāna wa ta’ālā), wahai Muhammad.”

 

HUBUNGAN RAHMAT ALLAH DENGAN AMAL IBADAH & NIKMAT ALLAH


Maka Allah swt menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah swt tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah swt berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu.”

 

Allah Ta’ala berfirman, “Itu semua tak lain hanyalah berkat rahmat-Ku, dan dengan berkat rahmat-Ku juga, engkau akan Aku masukkan kedalam surga.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat, “Masukkan hambaku ini ke surga, engkau adalah sebaik-baik hamba, wahai hamba-Ku.”


Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah swt, bukan karena banyaknya amal Ibadah Mahdhah (hablum minallāh) yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa saja. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah lainnya (Ibadah Ghairu Mahdhah, hablum minannās) - amalan-amalan lainnya tidak ada artinya?

Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia (Ibadah Mahdhah, hablum minallāh), amal ibadah lainnya (Ibadah Ghairu Mahdhah, hablum minannās) [1] adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah swt. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia, melainkan rahmat tersebut harus diusahakan atau dijemput dengan melakukan amalan-amalan lainnya sebagaimana Rasulullah saw mengajarkan kepala umatnya dengan beberapa cara agar rahmat Allah swt  itu bisa diraih sebagai berikut:

  • Pertama, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah swt dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah, QS Al-A'rāf 7:56.
  • Kedua, bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, QS Al-A'rāf 7:156-157. 
  • Ketiga, kasih sayang kepada makhluk-Nya, baik manusia, binatang. maupun tumbuhan - lingkungan hidup. 
  • Keempat, beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, QS Al-Baqarah 2: 218. 
  • Kelima, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah saw, QS An-Nūr 24:56. 
  • Keenam, berdo’a kepada Allah swt untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Mahapengasih (ar-Rahman) lagi Mahapenyayang (ar-Rahim). Firman Allah swt, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, QS Al-Kahf 18:10. 
  • Ketujuh, membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an, QS Al-An'ām 6:155). 
  • Kedelapan, menaati Allah swt dan Rasul-Nya, QS Āli ‘Imrān 6:132. 
  • Kesembilan, mendengar dan memperhatikan dengan tenang (khusyu’) ketika dibacakan Al-Qur’an, QS Al-A'rāf 7:204. 
  • Kesepuluh, memperbanyak istigfar, memohon ampunan dari Allah swt. Firmannya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” QS An-Naml 27:46. 
  • Kesebelas, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,  dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.  Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. . .”, QS Al-Qashash 28:77. 
  • Kedua belas, Rasulullah saw yang pernah disampaikan beliau secara serius dalam salah satu khutbahnya yang artinya sebagai berikut: “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah swt berfirman kepadamu: Anjurkanlah olehmu berbuat baik (murū bilma’rūf) dan laranglah perbuatan yang munkar (wanhaw ‘anil munkari), agar jangan datang suatu saat dimana kamu berdo’a tetapi Aku (Allah) tidak menjawab do’amu; kamu meminta tetapi Aku (Allah) tidak kabulkan; kamu memohon pertolongan, tetapi Aku (Allah) tidak memberi pertolongan.”

 

PENUTUP

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Amal Ibadah itu amat berguna, tapi jangan atau tidak perlu dibangga-banggakan (riya’) “nih lho, berkat amalan guè jadi hebat”. Karena kalau kita membangga-banggakan diri menjadi takabur (sombong) yang dengan itu cenderung meremehkan orang lain dan lupa kepada (rahmat) Nya - ingat bahwa manusia itu berproses untuk menjadi baik atau buruk, ketika dia buruk jangan dicela (diolok-olokkan) - perlu dida’wahi. Apalagi kepada Allāhu Rabbi, seolah kita masuk surga adalah karena amalan kita saja (lihat kisah seorang ahli ibadah yang menyebutkan bahwa mendapat surga karena hasil amalan ibadahnya yang dikerjakannya itu  - pasti masuk surga).  Padahal kekurangan kita masih banyak dihadapan Allāhu Rabbi - nikmat Allah itu banyak dibanding amal ibadah kita. Sebenarnya manusia mempunyai banyak kelemahan seperti khilaf, lupa, lalai entah karena sibuk, ilmu atau pengetahuannya masih kurang (menganggap diri sudah tahu semuanya), dan  last but not least - usia yang semakin lanjut yang berpotensi mudah lupa, dst.

Dengan itu disamping beramal ibadah yang telah ada (telah dilakukan), perlu pula rahmat Allāhu Rabbi di jeput dengan cara mengamalkan seperti yang disebutkan diatas, yaitu dari “12 Cara Rasulullah Menjemput Rahmat Allah” yang bersumber dari Kitab Allah (baca kitabullāh, Al-Qur’an).

Demikianlah paparan dari tema tersebut diatas. Semoga uraiannya menambah paham dari kandungan ilmu yang bermanfaat yang dengan itu mendatangkan ridho dan rahmat-Nya bagi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Āmīn, Allāhumma āmīn. Wallāhu A’lam Bish-Shawāb. Billāhi Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM

 


Catatan Kaki:

[1] Kedudukan “Habblum minan Nās” sebagai yang disebutkan dalam penggalan ayat 77 dalam Surah ke-28, Al-Qashash ini yang menyebutkan: “dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,  dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.  Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Kedudukan “Habblum minan Nās” sebagaimana peringatan Rasulullah saw yang pernah disampaikan beliau secara serius dalam salah satu khutbahnya yang artinya sebagai berikut:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah subhana wa ta’ala berfirman kepadamu: Anjurkanlah olehmu berbuat baik (murū bilma’rūf) dan laranglah perbuatan yang munkar (wanhaw ‘anil munkari), agar jangan datang suatu saat dimana kamu berdo’a tetapi Aku (Allah) tidak menjawab do’amu; kamu meminta tetapi Aku (Allah) tidak kabulkan; kamu memohon pertolongan, tetapi Aku (Allah) tidak memberi pertolongan.”

Itulah jawab-Nya! Itulah yang menyebabkan pintu do’a jadi tertutup. Bukan karena melalaikan hubungan dengan Allah secara konvensional, seperti shalat, shiyam dan sebagainya, akan tetapi karena meremehkan hubungan sesama manusia - “habblum minan nās”, sebagai anggota masyarakat yang turut bertanggung jawab atas keselamatan hidup bermasyarakat (habblum minan nās) itu sendiri. Yakni tugas “Amar Ma’ruf (Agent of Development) dan Nahi Munkar (Agent of Change)”. Tugas: “Menegakkan Kebajikan, memberantas kemunkaran”. Itulah posisi dan itulah peranan duniawi umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi “shibghah” (identitas) bagi kepribadian Umat Islam. [2]

[2] halaman v, Buya M. Natsir, Do’a dan Dzikir, Imam Hasan Al-Banna, Media Da’wah, Jakarta 1427 H/2006 M.

 

Sumber:

https://www.almunawwir.com/kisah-seorang-hamba-yang-telah-beribadah-selama-500-tahun/

Buya M. Natsir, Do’a dan Dzikir, Imam Hasan Al-Banna, Media Da’wah, Jakarta 1427 H/2006 M.

Dan sumber-sumber bacaan lainnya. □□

Saturday, September 5, 2020

Black Hole dalam Al-Qur’an

 


 

 KATA PENGANTAR

 

A

pa dan seperti apa ‘bintang’ black hole itu? Black hole adalah bintang raksasa berbentuk ‘lubang-hitam’ yang mampu menyedot dan menyapu semua benda langit di sekitarnya. Black hole atau ‘lubang-hitam’ bisa dibilang penemuan ilmuan yang paling fenomenal di abad ke-20 dalam bidang astronomi. Sebelumnya, tidak seorang ilmuwan yang pernah membayangkan bahwa di langit ada sejumlah bintang yang tampak ‘mengerikan - karena mampu menyedot dan menyapu semua benda langit di sekitarnya’  apalagi bintang itu memang tidak terlihat.

Black hole atau lubang-hitam - seperti definisi ilmuwan NASA - yaitu medan gravitasi sangat kuat. Akibatnya, benda-benda langit yang dekat dengannya tersedot dengan intensitasnya yang tinggi tanpa terkecuali. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotannya. Black hole terbentuk ketika sebuah ‘bintang besar’ mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi.

Sebelum para ilmuan astronomi menemukan black hole atau lubang hitam ini, Al-Qur’an telah menyebutkannya pada abad ke-7. Sementara ilmuan mulai membicarakannya pada abad ke-18. Untuk itu mari ikuti pembahasannya seperti yang akan diuraikan berikut.


 

Penjelasan Adanya ‘Bintang’ 

Black Hole dalam Al-Qur’an

Oleh: A. Faisal Marzuki

 


“Falā uqsimu bil ‘khunnas’, ‘al-jawāril’ ‘kunnas’. 

Arti tafsirnya:

ALLAH bersumpah dengan bintang yang tersembunyi, yang bergerak cepat dan yang menyapu. [QS at-Takwīr 81:15-16]

 

PENDAHULUAN

 

S

elama berabad-abad, kisah Al-Qur’an terkait adanya bintang tersembunyi ini menjadi misteri. Hingga pada tahun 1790 Pierre Simon Laplace memprediksi bahwa ada bintang tersembunyi yang kecepatan lepasnya sama dengan kecepatan cahaya rc² = √2GM.

Kemudian disusul tahun 1910 obyek tersebut tampak dalam teori relativitas umum Einstein sebagai obyek langit yang mampu melengkungkan kontinum ruang-waktu, selanjutnya tahun 1916 radius kritis obyek tersebut dihitung oleh Karl Schwarzschild.

Pada akhirnya pada tahun 1967 John Archibald Wheeler memberinya nama untuk fenomena tersebut dengan sebutan black hole atau ‘lubang hitam’ dalam bahasa Indonesia.

Fakta kosmologi modern menunjukkan bahwa ‘lubang hitam’ tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sehingga seolah-olah tersembunyi di keluasan langit, namun bisa dideteksi dari daya tariknya yang besar sehingga akan menyapu materi yang didekatinya, dimana konsentrasi gas disekitar black hole bergerak dengan laju sebesar 400 km/s.

Black hole ini terbentuk saat sebuah bintang mulai kehabisan bahan bakar dalam tungku thermonuklirnya, bintang dengan massa 20 kali massa matahari memungkinkan untuk hancur dan berubah menjadi black hole karena bintang besar itu memiliki medan magnet dan massa yang besar.

Bila massa bintang itu kecil, maka magnetnya tidak mencukupi untuk menyapu benda-benda disekitarnya sehingga tak mampu merobek ruang-waktu sebagaimana black hole, bintang seperti ini hanya menjadi katai putih (white dwarf) atau bintang mati.

Gravitasinya yang begitu kuat pada ‘lubang hitam’ ini akan mencegah apapun lolos dari jeratannya serta akan jatuh kedalam terowongan kuantum, tak ada sesuatu termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya yang sangat kuat itu, sehingga ‘lubang hitam’  ini bekerja seperti vacum cleaner.


 

ILMUAN MENELITI ADANYA ‘BINTANG’ BLACK HOLE

 

B

agaimana black hole bisa dilihat sedangkan ia tidak mengeluarkan pancaran cahaya? Muncul pemikiran dari seorang peneliti bahwa black hole itu memiliki ukuran tertentu, dan ia berjalan di ruang angkasa. Ia pasti akan lewat di depan sebuah bintang sehingga cahaya bintang itu tertutup dari penglihatan. Seperti hal gerhana matahari, dimana siang hari menjadi kelam dalam jangka waktu tertentu karena Matahari tertutup oleh Bulan. Setelah pernyataan hipotesis ini diteliti, kemudiannya terbukti benar secara ilmiah. Maka para ilmuwan sepakat bahwa cahaya bintang tersebut tertutup karena lewatnya black hole, sehingga mengakibatkan tertutupnya pancaran cahaya bintang yang dilaluinya. Hal itu terjadi selama jangka waktu tertentu, kemudian bintang tersebut kembali menunjukkan sinarnya setelah berlalunya black hole.

Mengenai bobotnya, black holes seberat bumi diameternya kurang dari satu sentimeter saja! Dan black holes seberat matahari diameternya hanya 3 km. Subhanallah!

Black Holes atau ‘lubang-hitam’ dalam ukuran sedang beratnya sebesar 10 pangkat 31 kg atau 10 ribu milyar-milyar-milyar kg, dengan diameter 30 km. Ada banyak black holes di pusat galaksi kita dan galaksi-galaksi lainnya, diantaranya ada yang memiliki berat jutaan kali berat matahari. Diperkirakan jumlah black holes di alam raya ini jutaan bahkan ribuan juta.

 

‘BINTANG’ BLACK HOLE DALAM AL-QUR’AN


A

l-Qur’an diturunkan berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dimulai sejak tanggal 17 Ramadhan, saat Nabi Muhammad SAW berumur 40 tahun hingga wafatnnya pada tahun 632. Nabi lahir 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 580 Masehi. Berdasarkan hitungan tersebut Al-Qur’an diturunkan di abad ke-7.

Al-Qur’an menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum adanya fenomena black hole yang ditemukan oleh ilmuan astronomi. Mari kita perhatikan dan kaji ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan black hole. Yakni di Surah At-Takwīr, firman Allah SWT menyebutkan: “Falā uqsimu bil ‘khunnas’, ‘al-jawāril’ ‘kunnas’. Dalam Surah at-Takwīr (81) ayat 15-16, ALLAH bersumpah dengan bintang yang tersembunyi, yang bergerak cepat dan yang menyapu. Kedua ayat ini umumnya oleh ahli tafsir diterjemahkan dengan kalimat: “Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam”, sebagaimana disebutkan ALFATIH - Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam hal ini khunnas diartikan “bintang-bintang’. Sementara dalam bahasa Arab, bintang biasanya disebut dengan kata najm, dengan bentuk plural (jamak)-nya adalah nujum.

 

Kajian Penafsiran Surah at-Takwīr (81) ayat 15-16

Penafsiran kata “bintang tersembunyi” didasarkan kepada pemakaian kata al-khunnas yang dipakai untuk merujuk kepada objek bintang. Sementara dalam bahasa Arab, bintang biasanya disebut dengan kata najm, dengan bentuk plural (jamak)-nya adalah nujum.

Pemakaian kata al-khunnas dalam bahasa Arab ini menurut ahli tafsir merupakan bentuk plural dari khanis - yang artinya ‘sesuatu yang menghilang’. Jadi, khanis itu berarti lenyap dari pandangan mata.

Namun demikian, pada ayat berikutnya, ALLAH berfirman, “yang beredar dan terbenam”. Sehingga dimaknai ada satu jenis bintang yang beredar (aljawār) sangat cepat sehingga kecepatannya melebihi kecepatan cahaya yang dipancarkannya.

Ketika menafsirkan ayat ini, para ‘ahli tafsir klasik’ mencoba mereka-reka dengan menjelaskan soal bintang yang tak terlihat itu. Imam Al-Qurthubi menafsirkan: “Yaitu bintang-bintang yang bersembunyi di siang hari, dan tersapu atau tertutup pada petang harinya”.

Imam Ar-Razi mengatakan, “ALLAH bersumpah demi bintang-bintang yang tersembunyi di siang hari, yaitu hilang cahayanya dari pandangan mata, tetapi ia tetap berada pada tempat peredarannya, dan tersapu atau tertutupi pada petang harinya”.

Sementara beberapa ‘ahli tafsir modern’ menafsirkan: “yaitu bintang-bintang yang menghilang atau kembali pada porosnya, dan melintas ke peredarannya kemudian bersembunyi kembali”.

Penafsiran para ulama, baik klasik atau modern memiliki satu benang merah. Yaitu, bahwa ada sejenis bintang yang wujudnya ada tapi tidak dapat dilihat oleh pandangan mata.

Hal ini mirip dengan salah satu fenomena alam di ruang angkasa yang baru pada abad ke-20 ditemukan oleh para pakar astronomi. Penemuan itu dikenal dengan istilah black-hole. Black-hole sesungguhnya adalah bintang yang meredup cahayanya dan berubah menjadi pekat.

Dalam Surah ke-81, At-Takwīr, firman Allah SWT menyebutkan: “Falā uqsimu bil ‘khunnas’, ‘al-jawaril’ ‘kunnas’. Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter. Pertama, khunnas (الْخُنَّسِ) - yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannās (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuwan tentang karakter black hole yakni; invisible, tak terlihat tapi ada. Kedua, aljawār (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole yang kedua yaitu moves, artinya bergerak. Lafal Al-Qur’an tersebut yang menyebutkan ‘aljawār (الْجَوَارِ)’ lebih tajri’, artinya lebih perfect (sempurna) dibanding penjelasan ilmuan yang menyebutkan moves (bergerak), sebab ‘aljawār (الْجَوَارِ)’   bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat. Ketiga, al-kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole yang bersifat vacuum cleaner yaitu  alat penyedot semua benda yang ada dilantai karpet.

Kata kunnas berasal dari kata kanasa artinya menyapu, miknasah alat untuk menyapu. Kunnas bentuk jamak dari kānis yang artinya menyapu. Kata kunnas adalah shigat muntaha jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kānis.

Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas - al jawāril - kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes. Yaitu, Pertama, khunnas (الْخُنَّسِ) - yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannās (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuwan tentang karakter black hole yakni; invisible, tak terlihat tapi ada. Kedua, aljawār (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ketiga, al-kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole yang bersifat seperti  alat penyedot semua benda yang ada dilantai karpet - vacuum cleaner.

 

PENUTUP

 

D

emikianlah pengungkapan misteri ‘bintang’ black hole yang mulai dibicarakan abad ke-18 dan kemudian ditemukan ilmuan pada abad-20. Namun sebelumnya telah diungkapkan pada abad ke-7 dalam firman Allah Mahapencipta di Surah ke-81, At-Takwīr, ayat 15 dan 16 [1] yang maknanya mengandung kaidah kebenaran ilmu pengetahuan seperti yang telah dipaparkan diatas.


Hal mana adalah suatu pelajaran tafsir Al-Qur’an yang berharga karena unsur-unsur kajiannya mengandung kebenaran ilmiah. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw yaitu Hadits Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an: خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاآنَ وَعَلَّمَهُ Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”, HR Bukhari.


Hadits Kewajiban Mencari Ilmu: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ Artinya: “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”, HR Ibnu Abdil Barr.  Sungguh Maha Benar Firman-Mu, Ya Allah! Sesuai pula dengan tuntunan Rasul-Mu, Ya Allah!

Demikian Allah ‘Azza Wa Jalla bersumpah “Falā uqsimu bil ‘khunnas’, ‘al-jawāril’ ‘kunnas’ - ALLAH bersumpah dengan bintang yang tersembunyi, yang bergerak cepat dan yang menyapu - AL-KHUNNAS atau BLACK HOLE seperti yang terlihat dalam video terlampir dibawah ini. Dalam al-Qur’an Surah ke-81, at-Takwīr ayat 15-16 menggambarkan kedahsyatan “bintang” tersebut. Ini menandakan pesan-Nya yang akan disampaikan itu amat penting sekali yang banyaknya 29 ayat. Dahsyat sekali pesan-pesannya itu, kebetulan ‘admin’ baca dan tadaburi tadi pagi melalui Tafsir Al-Azhar Buya Hamka dan bacaan-bacaan lain seperti terlampir dalam daftar bacaan (KEPUSTAKAAN) sebagai sumber penulisan. Billāhi Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM


Mari saksikan pula video al-khunnas atau popular disebut sebagai balck hole  atau lubang hitam (klik tanda panahnya).

 


 

CATATAN KAKI:

[1] Dalam Surah at-Takwir (81) ayat 15-16, ALLAH bersumpah dengan “bintang yang tersembunyi” (al-khunnas) yang dipakai untuk merujuk kepada objek bintang, para ahli astro fisika dan astronom menyebutnya black hole yang bergerak cepat dan yang menyapu. Kedua ayat ini umumnya oleh ahli ditafsirkan dengan kalimat “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam”.

Penafsiran kata “bintang tersembunyi” didasarkan kepada pemakaian kata al-khunnas yang dipakai untuk merujuk kepada objek bintang. Sementara dalam bahasa Arab, bintang biasanya disebut dengan kata najm, dengan bentuk plural (jamak)-nya adalah nujum.

Pemakaian kata al-khunnas dalam bahasa Arab ini menurut ahli tafsir merupakan bentuk plural dari khanish - yang artinya ‘sesuatu yang menghilang’. Jadi, khanis itu berarti lenyap dari pandangan mata.

Namun demikian, pada ayat berikutnya, ALLAH berfirman, “yang beredar dan terbenam”. Sehingga dimaknai ada satu jenis bintang yang beredar (aljāwar) sangat cepat sehingga kecepatannya melebihi kecepatan cahaya yang dipancarkannya.

Ketika menafsirkan ayat ini, para ‘ahli tafsir klasik’ mencoba mereka-reka dengan menjelaskan soal bintang yang tak terlihat itu. Imam Al-Qurthubi menafsirkan: “Yaitu bintang-bintang yang bersembunyi di siang hari, dan tersapu atau tertutup pada petang harinya”.

Imam Ar-Razi mengatakan, “ALLAH bersumpah demi bintang-bintang yang tersembunyi di siang hari, yaitu hilang cahayanya dari pandangan mata, tetapi ia tetap berada pada tempat peredarannya, dan tersapu atau tertutupi pada petang harinya”.

Sementara beberapa ‘ahli tafsir modern’ menafsirkan: “yaitu bintang-bintang yang menghilang atau kembali pada porosnya, dan melintas ke peredarannya kemudian bersembunyi kembali”.

Penafsiran para ulama, baik klasik atau modern memiliki satu benang merah. Yaitu, bahwa ada sejenis bintang yang wujudnya ada tapi tidak dapat dilihat oleh pandangan mata.

Hal ini mirip dengan salah satu fenomena alam di ruang angkasa yang baru pada abad ke-20 ditemukan oleh para pakar astronomi. Penemuan itu dikenal dengan istilah black-hole. Black-hole sesungguhnya adalah bintang yang meredup cahayanya dan berubah menjadi pekat.

 

 

KEPUSTAKAAN:

https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an

https://islam.nu.or.id/post/read/103765/tanggal-lahir-nabi-

muhammad

Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Al-Azhar, Prof. Dr. Hamka, Juzu' 30, Penerbit PT. Pustaka Panjimas, Jakarta 1984, Halaman 51-64.

https://www.islampos.com/misteri-black-hole-dalam-al-quran-39546/

https://kanzunqalam.com/2019/02/22/kisah-al-quran-tentang-al-khunash-black-hole-diungkap-penelitian-fisika-modern/

https://www.dic.or.id/hadist-tentang-kewajiban-menuntut-ilmu/  □□