Thursday, September 22, 2016

Kisah Muallaf Hajah Irene Handono





PERKENALAN DIRI

N

amaku Irene Handono. Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di Organisasi gereja.

Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayahku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donator terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.

Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.


MENJADI BIARAWATI

Aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu, menjadi Biarawati, bertempat tinggal di Gereja. Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.


BERKENALAN DENGAN ISLAM

Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni  pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa? Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari Jum’at siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.


MENEMUKAN ISLAM DARI SUMBER ASLINYA

Kesimpulan yang didapat tentang Islam. Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al-Ikhlas.


TERTARIK DENGAN SURAT AL-IKHLAS

Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan bisa diterima!", pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu, tapi pribadinya tiga, yaitu: Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. "Allāhu ahad, ini yang benar," putusku pada akhirnya.


DIALOG TAJAM TENTANG KONSEP TUHAN

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakan, "Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan."

"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur, sambil maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.

"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi," tanyaku lebih mendalam.

Dosen menjawab: "Tidak bisa!" Aku jawab: “Bisa saja”. Kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.

"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!", tegas Pastur. Aku katakan: “Kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?” "Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!", tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?" Dia tidak mau jawab.

"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.

"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi. "Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.

"Apa maksud Anda?" Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini 'kok ada suster (panggilan bagi biarawati) yang tidak tahu siapa yang melantik RW?

"Sebetulnya saya tahu," ucapku. "Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.  "Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah."  "Apa maksud Anda?" Mereka semakin tak mengerti.

Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah."

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.

Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantin, kaisar Romawi.

Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.

Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemuan berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhānallāh.


KELUAR DARI BIARA

Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.

Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.


MENCARI DAN MENDALAMI ISLAM

Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.

Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!

Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.

Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?"

"Siap!" jawabku. "Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau. "Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. "Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau lagi.  "Islam" jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.


BERSYAHADAT DAN MELAKSANAKAN SHALAT

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum Ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.

Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.


TERPISAH DENGAN KELUARGA

Agama baruku yang kupilih, tak dapat diterima mereka. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima, naik haji. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, "kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitaan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?" Ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.

Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?"


MULAI BERDAKWAH

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.

Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.


PENUTUP

Demikianlah kisah lika-liku perjalanan hidup Hajah Irene Handoko dalam mencari Agama-Yang-Hak yang tidak mudah tantangannya. Ia mengalami terputusnya hubungan dengan Orang Tua dan Saudara-saudaranya. Bercerai dengan suaminya. Tapi, Alhamdulillah, ketiga anaknya dari suami yang pertama menjadi muslim dan muslimah, Kini beliau, Hajah Irene Handono menjadi muslimah pendakwah begitu pula suaminya. Subhānallāh, wal-Hamdulillāh, wa Lā Ilaha illalLāh, walLāhu Akbar. □ AFM


Ikuti pula tayangan video facebook “Dakwah Hj. Irene Handono” Klik kalimat yang berwananya dalam tanda petik.


Sumber:
https://www.facebook.com/notes/3-islam-forever-3/kisah-muallaf-hj-irene-handono-/324716940874925/ XII-11-2011□□□

Wednesday, September 21, 2016

Maninjau Negeri Para Inspirator dan Pembaharu



Oleh: Abdul Khalik





Saya sangat terkesan dengan negeri kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu.” (Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka).


I


nilah pernyataan seorang putera asli kelahiran Sungai Batang. Negeri di tepian danau Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten, Agam, Sumatera Barat. Salah satu kaldera gunung purba pulau Sumatera di masa lalu yang keindahan dan kesuburannya, telah menyumbangkan begitu banyak putera-putera terbaik bagi pembangunan negara ini, sejak dahulu hingga kini.

Tercatat sejumlah nama para inspirator dan pembaharu negara ini, lahir atau dibesarkan dari rahim nagari-nagari (sebutan desa atau kampung) di tepian danau Maninjau. Menyebut beberapa nama saja, misalnya DR. H. Karim Amarullah (pembaharu Islam Abad 19), Buya Hamka (ulama besar dan mantan Ketua MUI serta pahlawan nasional), Muhammad Nasir (mantan Perdana Menteri, Ketua Masyumi dan pendiri DDII), Isa Anshary (politisi muslim Masyumi).

Ada pula Buya AR Sutan Mansur (Ketua dan Tokoh Muhammadiyah), Muhammad Nazir (Laksamana TNI AL dan pendiri Akademi AL), Rasuna Said (tokoh pendidikan dan emansipasi wanita), R. St. Pamuntjak (diplomat ulung), Syafruddin Prawiranegara (mantan Perdana Menteri PDRI dan Menteri Keuangan), Marzuki Yatim (mantan Menteri), Kaharuddin (mantan Gubernur Sumbar) serta Nur Sutan Iskandar (sastrawan).  Atau yang terkini, misalnya mantan Menteri Sosial  Bachtiar Chamsyah, akademisi ITB Yasraf Amir Piliang dan novelis terkenal Ahmad Fuadi.

Kesana lah aku dan keluarga mudiak (pulang kampung) untuk bertemu keluarga yang masih ada. Plus menikmati keindahan danau Maninjau serta merasakan berbagai sensasi tak terlupakan dari  negeri itu, usai Idul Fithri 1434H lalu. Aku merekam kuat perjalanan itu dan menyajikannya kepada pembaca, sebagai  bekal, jika nanti berkesempatan mengunjungi negeri nan elok itu.




Menuju Maninjau

Dari Medan via jalan darat, saat sampai di kota Lubuk Sikaping, ibu kota Kabupaten Pasaman, ada dua lintasan yang bisa digunakan. Di hari biasa, Anda bisa menuju Maninjau via Bukittinggi, dengan lebih dulu melintasi Bonjol (kota khatulistiwa) serta Palupuh (kecamatan heroik di masa perjuangan kemerdekaan). Dari Bukittinggi menuju Padang, setibanya di Padang Luar, berbeloklah ke kanan menuju Matur. Dari Matur, Anda akan menemukan sensasi kelok 44 yang terkenal itu, sebelum tiba di nagari Maninjau.

Namun, saat liburan (Idul Fithri, Idul Adha, dsb), jangan coba-coba melintasi jalur ini (seperti tersebut diatas). Dipastikan akan terjebak dalam kemacatan parah. Melintaslah di jalan alternatif dari Lubuk Sikaping menuju Lubuk Basung (ibu kota Kab. Agam) via Padang Sawah. Meski jalan ini kecil, tapi cukup nyaman. Bahkan, jarak tempuh bisa dipersingkat hingga 40 km. Dari Lubuk Basung, kita akan langsung menuju Muko-muko di tepian danau Maninjau.

Di pinggiran jalan kedua lintasan itu, kita akan disuguhi pemandangan indah berupa deretan perbukitan, persawahan, rumah bagonjong (rumah adat Minang) serta tabek (kolam) yang menyejukkan mata. Kami memilih lintasan kedua, menuju Maninjau, karena arah Bukittinggi kabarnya macat total.

Muko-muko salah satu nagari di tepian danau Maninjau. Desa ini terkenal dengan PLTA (pembangkit listrik tenaga air) yang memasok listrik untuk Kab. Agam, Padang Pariaman hingga Padang. Di sini, Anda bisa memanjakan keluarga dengan water park yang berada di areal sungai muko-muko, pintu keluar air danau Maninjau.

Dari nagari Muko-muko menuju nagari Maninjau, jarak tempuhnya sekira 30 menit. Diperjalanan Anda akan melintasi sejumlah nagari dengan hamparan sawah dibatasi perbukitan di sisi kiri. Di sisi kanan, terlihat lautan air tawar dengan keramba menjorok ke tengah danau. “Tak muak-muak mata melihat pemandangan ini,” kata Paktuo Muhammad Nur, 80, pedagang buah  Tebingtinggi, lahir di nagari Galapung, yang ikut rombongan kami.

Sebelum memasuki nagari Maninjau, kita akan melintasi kampungnya Bachtiar Chamsyah dan keluarga pengusaha asal Medan Muhammad Arbie (Garuda Hotel Group), bernama nagari Bayur. Kampung ini relatif lebih maju dibanding nagari-nagari lain selingkar dana Maninjau. Pusat ekonomi Bayur disebut dengan ‘Pakan Rabaa,’ yang pekanannya setiap hari Rabu. Namun, geliat ekonomi di Bayur tidak hanya saat Pakan Rabaa, tapi sepanjang hari, karena ditempat ini juga, ada pusat transaksi hasil danau Maninjau, yakni ikan mujair.

Ikan mujair, merupakan hasil ternak keramba yang terkenal dari danau Maninjau. Rata-rata panen dari usaha itu di selingkar danau, bisa mencapai 60 ton per hari, terang Menan, 65, warga pemilik keramba di Bayur. Ikan mujair danau Maninjau disukai, karena rasa dagingnya berbeda dengan mujair kolam. “Mujair sini tak bau lumpur, dan bersih” terang dia.

Hasil keramba ini, memenuhi pasar ikan di berbagai kota besar, mulai dari Padang, Bukittinggi, Pekan Baru hingga ke Jambi dan Medan. “Kalau melihat mujair yang hitam pekat dan besar, itu asalnya dari sini,” ujar seorang peternak keramba.

            Di kampung ini juga, ada masjid Raya Bayur, masjid terbesar di Kec. Tanjung Raya yang mampu menampung 1.000 jemaah. “ Masjid ini dibangun parantau Bayur yang sukses,” ujar seorang pedagang di depan masjid itu. Ornamen masjid itu unik, karena ditata menggunakan model masjid-masjid Minang di masa lalu. Misalnya kubah masjid yang terlihat khas, berupa ornamen gabungan budaya Minang dan Islam.

Kalau lasak sedikit, Anda bisa mengunjungi kediaman keluarga mantan Mensos RI Bachtiar Chamsyah. Lokasi kediamannya agak ke atas dari lintasan jalan Bayur. Rumah itu berada di tengah hamparan sawah yang masih didiami keluarga mantan politisi PPP itu.

Kami melintasi sebuah kampung antara Maninjau dan Bayur, yang menjadi lokasi destinasi wisata. Di kampung Gasang ini, banyak ditemukan pemandian, hotel dan homestay untuk wisatawan. Selain cafe dan restoran serta lapak pedagang yang menjual aneka buah tangan dari hasil danau Maninjau.  Misalnya, bada masiak (ikan asli danau Maninjau yang diasapi), rinyuak (sejenis ikan teri halus yang sering dijadikan peyek dan perencah gulai) atau ikan mujair asap.

Ikan bada masiak, rinyuak dan mujair asap, dijual eceran. Cukup dengan mengeluarkan kocek Rp 20 ribu Anda akan mendapatkan panganan itu sekira 500 gram. Ada juga peyek rinyuak yang khas menemani perjalanan, seharga Rp 10 ribu perbungkus.

Terdapat pula aneka makanan dan kue-mue asli Minang di jual di tepian jalan. Jika musim durian (biasanya bulan Juli-Agustus), buahan beraroma sengit itu, sangat istimewa di kampung selingkar danau Maninjau, karena durian Maninjau menjadi salah satu buah terbaik di ranah  Minang.

Lima tahun lalu, ada tempat pemandian air panas di nagari Gasang. Sumber airnya berasal dari perut perbukitan. Tapi tempat itu, tidak terlihat lagi. Entah sudah hilang, akibat gempa beberapa tahun sesudahnya. Sesampai di Maninjau, aku langsung menuju kampung halaman orang tua di nagari Galapung. Besok aku bertekad menyusuri kembali nagari di sekeliling danau itu.


Warisan Yang Nelangsa

Tak jelas sejak kapan nagari-nagari selingkar danau Maninjau pertama kali dihuni. Tapi dari berbagai keterangan dan fakta yang dihimpun, tanah ini sudah ditinggali sejak berabad-abad lalu. Amir Sjarifoeddin Tj. A, penulis buku ‘Minangkabau, Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol,’ (2012), menyebutkan Maninjau menjadi salah satu bagian dari Luhak nan tigo, yakni Luhak Agam. Sehingga Maninjau termasuk dalam wilayah inti dari ranah Minangkabau.

Keesokan hari, dari nagari Galapung, aku langsung mendatangi nagari Buya Hamka. Ternyata, hingga kini, warisan kerajaan yang pernah berkuasa di Maninjau di masa lalu, masih bisa ditemukan di Sungai Batang. Aku sempat melihat istana lama serta kediaman datuk/wali nagari/penghulu nagari selingkar Maninjau, berada di nagari Sungai Batang Ateh. Istana itu terbuat dari kayu keras yang kokoh dan diperkirakan berusia lebih dari 2 Abad. Namun, bangunan itu terlihat kusam dan tidak terurus, didiami keluarga dari penghulu itu. Saat kusambangi, bangunan itu terkunci. Dari keterangan, keluarga itu lagi pergi ke luar daerah.

Dari istana itu, hamparan danau Maninjau bisa dilihat sejauh mata memandang. Ke ramudiak (arah hilir) ada dua rumah gadang lain, yakni kediaman holf bestuur (asisten wedana) Sungai Batang yang kini masih ditinggali keturunannya. “Dulu kantornya masih ada, pas disamping rumah, tapi sudah rubuh,” ujar guide kami, yang mengaku pengurus Perpustakaan Buya Hamka.

Dulu nagari Sungai Batang ramai, tambah mantan jurnalis yang minta namanya tak dimuat. Namun sesudah terjadi peristiwa pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) 1958-1960, kampung itu berubah sunyi dan ditinggal warganya.

Aku, sempat diajak melihat lokasi pertempuran antara TNI dengan tentara PRRI di sekitar Sungai Batang. Guide itu, menunjukkan padaku perbukitan yang jadi markas TNI serta diinformasikan pula sejumlah gua di lereng bukit yang jadi markas tentara PRRI. “Di sini pertempuran antara TNI dan PRRI sengit, bekas-bekasnya masih ada,” ujar dia.

Saat berjalan, guide kami nyeletuk; “Jangan lihat Sungai Batang sekarang ini. Sebelum PRRI ramai. Tapi sekarang macam kota mati. Banyak rumah dan lahan yang ditinggal,” terang dia. Dicontohkannya kemasyhuran Sungai Batang, yakni keberadaan maktab ‘Ihya Ulumuddin’ yang didirikan DR. H. Karim Amarullah, tempat dimana Buya Hamka awalnya dikenalkan dengan ajaran Islam.

Di masa lalu, dia mengisahkan, banyak santri dari manca negara, mulai Malaysia, Thailand hingga Filiphina bersekolah di maktab (Sungai Batang, Maninjau) itu. Alasannya, maktab itu menjadi batu loncatan untuk bisa diterima di University Al Azhar Kairo, Mesir. Di masa Menteri Pendidikan Daoed Yoesoef, maktab itu berubah status menjadi madrasah tsanawiyah, sehingga kemasyhurannya hilang. “Ini salah satu cara pemerintah merusak sistem pendidikan Islam di sini,” ujar guide itu, dengan nada sinis.

Tak hanya itu, aku juga mengunjungi sejumlah tempat yang menjadi warisan para inspirator dan pembaharu dari Maninjau. Di antaranya, rumah kediaman dan perpustakaan Buya Hamka, tempat kelahiran Nur Sutan Iskandar, tempat kelahiran Rasuna Said. Rumah tua dan surau (mushalla) DR.H. Abdul Karim Amarullah (ayah Buya Hamka), masjid Syekh Amarullah (buyut Buya Hamka) dan rumah Muhammad Nasir.

Di perpustakaan Buya Hamka Sungai Batang, aku menyempatkan diri melihat sejumlah foto dokumentasi ulama yang terkenal hingga ke manca negara itu. Di rumah itu, masih bisa dilihat tempat tidur, kursi/meja dan tongkat Buya Hamka. Ada juga sejumlah foto dokumentasi ulama yang wafat pada 1980 itu. Juga dokumentasi foto sejumlah ulama pembaharu Islam (kaum muda) asal Minangkabau, misalnya Syekh Ahmad Khatib, Zainuddin El Labay, Syekh M. Jamil Jambek, Syekh M. Thahir Jalaluddin Al Azhary serta DR. H. Karim Amarullah.

Penjaga perpustakaan Safaruddin Imam Batuah, mengatakan rata-rata pengunjung perpustakaan itu berkisar 10-20 orang perhari. Di hari-hari besar, misalnya Idul Fithri pengunjung bisa membludak. Wisatawan yang datang juga berasal dari berbagai daerah dan mancanegara. Beberapa keluarga berlogat Melayu, diperkirakan berasal dari Malaysia, terlihat mengunjungi perpustakaan itu.

Saat asik mengamati perpustakaan itu, salah seorang pengunjung bertanya kepada penjaga pustaka itu. “Ada foto keluarga Hamka bernama Wadud? “ ujar tamu itu. Sontak, wajah  Safaruddin, terlihat berubah. Perubahan itu, bisa aku tangkap. Penasaran, aku memburu tamu yang bertanya itu, siapa gerangan orang bernama Wadud itu.

Terungkaplah sebuah kisah yang berusaha disembunyikan selama ini. Wadud, merupakan adik tiri Hamka lain ibu yang murtad masuk Kristen, ketika dia merantau ke Amerika. Ketika Wadud pulang ke kampung, masyarakat Maninjau heboh, karena adik Hamka itu melakukan missi Kristenisasi di ranah Minang. “Wadud ini sempat membuat heboh dan dia diusir, karena menjalankan Kristenisasi di Padang,” ujar tamu itu.

Ketika Marzuki Yatim, tahun 1958, ketika itu sebagai anggota DPR pergi ke Amerika selama tiga bulan lebih atas undangan US State Depertment, buya Hamka menitip pesan untuk menemui adiknya Wadud, sebagai bagian dari perhatian kepada adiknya untuk tetap dalam Islam. (1)

Tahun 2005 lalu, Wadud meninggal di Amerika. Namun, dari keterangan Safaruddin, Wadud dibuang dari keluarga Amarullah, karena berpindah agama. Saudara Hamka itu berasal dari istri DR. H. Karim Amarullah bernama Hindun. Namun, bukan anak kandung DR. H. Karim Amarullah, melainkan anak tiri.

Kembali ke  awal cerita. Perpustakan Buya Hamka ini didirikan atas prakasa ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia). “Inilah fakta bagaimana orang luar menghargai Buya Hamka, sementara negeri sendiri mengabaikannya,” keluh Safaruddin. Hingga kini, terang dia, perpustakaan itu didanai ahli waris, melalui penjualan buku-buku Buya Hamka mencapai 137 judul. Belakangan diakui perhatian pemerintah mulai ada pula. Namun, di perpustaakn itu cuma terlihat belasan judul buku saja. Salah satunya ‘Tafsir Al Azhar’ yang fenomenal itu.

Aku membeli buku Hamka berjudul ‘Tasawuf Modern’ sebagai kenang-kenangan. Harganya mahal, untuk satu buku dengan kualitas cetak yang buruk, satu makalah stensilah Hamka yang digabung plus satu novel Nur Sutan Iskandar ‘Salah Pilih’,  aku harus merogoh kocek Rp 200 ribu. Tapi aku maklum, karena dana itu juga diperuntukkan merawat warisan sang inspirator itu.

Nasib warisan yang lebih trragis, justru terlihat di tempat kelahiran sastarawan angkatan pujangga baru Nur Sutan Iskandar. Tempat kelahirannya yang juga di nagari Sungai Batang itu, hanya dipugar sekali, yakni pada 1996. Rumah tua keluarga itu, kelihatan kian ringkih di makan usia.

Di beranda rumah itu, ada taman bacaan masyarakat (TBM) Nur Sutan Iskandar. Pengelola TBM Jusni, 25, mengaku dari 82 judul tulisan Nur Sutan Iskandar, hanya terdapat 14 judul saja koleksi di TBM itu. “Itupun merupakan bantuan Baperasda Sumbar. Sekali saja dibantu, sampai kini ndak ado lai,” ujar mantu dari cucu novelis masa lalu itu. Prihatin dengan kondisi TBM itu, saya memberikan saran-saran mengembangan TBM dan memberikan hadiah beberapa buku yang saya bawa.

Di perjalanan dari Sungai Batang menuju Maninjau, aku menyempatkan diri berziarah ke makam dan kediaman DR. H. Karim Amarullah serta Syekh Amarullah (ayah dan buyut Buya Hamka).  Makam keduanya berada di halaman rumah, terlihat masih terawat. Saat ini, rumah itu ditinggali kerabat Hamka. Di dalam hanya terlihat peralatan rumah tangga dan sejumlah buku tua di atas rak ruang tamu serta foto keluarga dari masa lalu lengket di dinding rumah.

Selain itu, juga mengunjungi masjid Taqwa Syekh Amarullah di Sungai Batang Ateh. Sayangnya di masjid yang baru direnovasi itu, aku tak mendapatkan keterangan apapun. Tapi posisi masjid yang berada dibawah istana Maninjau yang kuceritakan di atas. Aku yakin masjid itu dulunya rumah ibadah resmi dari kenagarian Maninjau/Sungai Batang.

Aku juga menyempatkan sholat zhuhur di masjid raya Bancah, kampung di antara Sungai Batang dan Maninjau. Masjid ini salah satu yang tertua di selingkar danau Maninjau, berdiri pada 1907. Keistimewaannya, karena arsitektur dan tatanannya yang tidak berubah. Ada gapura di depan halaman dan kolam mengelilingi masjid, dengan jendela yang lebar, persis berada di tepian danau. Guide kami, mengatakan pada 1960-1965, nagari Bancah menjadi salah satu basis gerakan PKI di Maninjau.

Di nagari Maninjau, aku mencari lokasi kediaman dan kelahiran tokoh pendidikan dan emansipasi wanita Hj. Rasuna Said. Beberapa warga sekitar yang kutanya, menunjukkan salah satu rumah tua yang kondisinya tak terurus. Mereka mengakui rumah tua berloteng dan berarsitektur Eropah itu, tempat kelahiran Rasuna Said.

Bangunan itu kini berubah menjadi mushalla, tempat kaum ibu di kampung itu mengaji. Kondisi rumah itu compang camping. Beberapa bagian dinding rumah sudah lepas. Di halaman rumah terpampang tulisan, “rumah ini milik H. Muhammad Said.’ Mungkin yang dimaksud adalah ayah dari tokoh pendidik itu.

Di seberang jalan, ada madrasah ibtidaiyah Hj. Rasuna Said. Namun, warga mengatakan sekolah itu bukan tempat tokoh pendidik itu mengajar. “Sekolahnya yang dulu dipinggir danau sudah hancur dan tak ada lagi,” terang tetangga di sekitar kediaman itu.

Kabarnya, kini hanya ada seorang cucu keluarga Rasuna Said di Maninjau yang menjaga seluruh aset peninggalan pahlawan modernitas wanita itu. Tapi aku tak berhasil menemuinya. Yang kulihat sebelumnya, salah satu dari dua rumah peninggalan keluarga Rasuna Said, di kampung lain, tertulis pamlet ‘rumah ini dijual.’ Rumah tua dibangun 1872 itu, kelihatan megah jika dibanding rumah-rumah disekitarnya. Agaknya, keluarga Rasuna Said, kala itu, dari kalangan terpandang dan kaya.

Sedangkan tempat tinggal Muhammad Nasir setelah pindah dari negeri kelahirannya di nagari Sumpur, Kec. Alahan Panjang, Kab. Solok, kini tak ada lagi. Informasi yang kuterima tapak rumah itu ada di kelokan pertama Maninjau dari kelok 44 menuju Matur. Karena infonya rumah itu sudah tak ada lagi, aku mengurungkan niat melacaknya.

Ternyata, sebagian besar warisan para inspirator dan pembaharu Maninjau itu dalam kondisi nelangsa. Aku terpekur, membayangkan kebesaran jasa mereka di masa lalu, terabaikan oleh perjalanan waktu. Jika sudah demikian nama besar pun tak mampu menolong harta yang tertinggal. Semua akan sirna dan hilang ditelan zaman.

Jam di pergelangan tanganku, menunjukkan pukul 16.30. Perlahan matahari condong ke Barat, menyinari sebagian sisi perbukitan danau Maninjau. Kami memutuskan kembali pulang ke Galapung. Di perjalanan baru tersadar, keasikan malacak kisah masa lalu sang inspirator dan pembaharu Maninjau itu, membuat kami tak sempat makan siang. Walaupun begitu, aku merasa puas, ketika esok harinya kembali meninggalkan Maninjau, pulang ke kampung kelahiranku. Selamat tinggal Maninjau, jika panjang umur aku akan datang kembali.


Catatan Kaki:

[1] Dari admin blog yang mengisahkan langsung kepada kami ketika akan berangkat ke Amerika Serikat ketika itu. Titipan pesan itu langsung diberikan buya Hamka karena keluarga kami sering berkunjung kesana, terutama di hari Raya.


Sumber:

http://abdulkhalik-news.blogspot.com/2015/01/maninjau-negeri-para-inspirator-dan.html□□□