Wednesday, March 14, 2018

UUD 1945 Dan Calon Presiden


 


Pilpres:
 Presiden Orang Indonesia Asli atau Bangsa Lain yang WNI?
Oleh Prijanto (Asisten Teritorial KASAD 2006-2007 & Rumah Kebangkitan Indonesia) pada hari Selasa, 13 Mar 2018 - 08:05:52 WIB [1]


Jenderal Sudirman : “Pertahankan Rumah dan Pekarangan”

Bung Karno: “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembeli-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak!” 


A
rtikel ini bukan bicara SARA untuk kepentingan politik praktis atau bermaksud untuk mempertajam masalah SARA. Artikel ini membicarakan Konstitusi Negara sebagai sokoguru negara dan bangsa yang harus dipertahankan dan dilaksanakan secara konsekuen sesuai suasana kebatinan ketika konstitusi disusun untuk Indonesia Merdeka. Judul terkait Pasal 6 (1) UUD 45 asli dan hasil amandemen.

Lalu apa hubungannya dengan pesan Jenderal Sudirman dan Bung Karno? Pesan tersebut menunjukkan itulah karakter dan mental kejuangan orang Indonesia asli dan pejuang pendiri republik. Jiwa nasionalisme dan patriotiknya sangat kuat. Karakter dan mental kejuangan tersebut, juga dimiliki anggota BPUPKI dan PPKI, selaku perumus ‘dasar negara’ dan ‘undang-undang dasar’ untuk Indonesia Merdeka.

Pesan Jenderal Sudirman bukan mempertahankan rumah dan pekarangan tempat tinggal, tetapi bermakna luas, pertahankan isi dan teritorial Indonesia. Sedangkan ucapan bung Karno sangat jelas, yang seharusnya diikuti oleh generasi penerus negeri ini. Bagi generasi penerus yang mewarisi Indonesia Merdeka beserta nilai-nilainya, perlu introspeksi apakah sudah berbuat sesuai pesan para founding fathers?


Hilangnya Roh Pribumi

Suasana kebatinan, semangat nasionalisme dan jiwa patriotik, mempengaruhi cara berpikir founding fathers. Pernyataan singkat dan tegas Pasal 6 (1) UUD 45: “Presiden ialah orang Indonesia asli” sebagai contoh semangat nasionalismenya. Pasal ini berhubungan dengan Pasal 26 (1): “Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara”.

Sedangkan penjelasan Ps 26 (1) di UUD 45: ‘Orang-orang bangsa lain, misalnya peranakan Belanda, peranakan Tionghoa dan peranakan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara Republik Indonesia, dapat menjadi warga negara’.

Dengan demikian, sangatlah jelas, para pendiri republik berkehendak negeri ini dipimpin Presiden orang Indonesia asli bukan orang bangsa lain walau mereka sudah warga negara Indonesia. Nilai dan prinsip inilah yang harus dipegang teguh generasi penerus. Lalu siapakah orang Indonesia asli itu? Mereka yang datang pertama ketika Nusantara masih kosong, merekalah orang Indonesia asli. Mereka hidup membangun peradaban dan bersumpah sebagai bangsa Indonesia pada 28 Oktober 1928.

Mengamandemen UUD 45 dengan meniadakan bagian ‘Penjelasan’ sama dengan memutus pewarisan nilai-nilai bangsa Indonesia kepada generasi penerus. Penjelasan Pasal 26 (1) menunjukkan para founding fathers sangat cerdas, waskita dan visioner. Terkait siapa Presiden Indonesia telah disiapkan dengan batasan-batasan yang jelas, siapa yang berhak, siapa warga negara dan siapa yang disebut orang-orang bangsa lain.

Dalam perjalanan, UUD 45 asli diamandemen. Pasal 6 (1) berubah menjadi: “Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden”.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kalimat di atas tidak cocok sebagai kalimat undang-undang dasar. Kalimat tersebut cocoknya untuk undang-undang tentang tata cara dan syarat pemilihan presiden. Masalah kalimat, itu hal kecil. Ada yang lebih penting, mendasar dan sangat menyedihkan, pasal tersebut telah kehilangan rohnya. Roh orang Indonesia asli atau pribumi, yakni tercabutnya hak istimewa pribumi selaku pejuang, pendiri, pemilik dan penguasa republik.

Membicarakan pribumi, hendaknya tidak dimaknai sabagai sikap diskriminatif dan intoleran. Keberadaan pribumi di dunia itu ada, bukan maya. Mereka memiliki hak azasi dan hak istimewa yang harus diperhatikan dan dihormati oleh negara. PBB pun memperhatikan masalah pribumi. Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Pribumi, telah dikutip Majelis Umum PBB dalam Resolusi PBB 61/295.


Invasi Senyap Terhadap Konstitusi

Sejalan dengan pertambahan penduduk, tidak berkembangnya geografi dan berkurangnya sumber daya alam, jelas mempengaruhi geopolitik, geostrategi dan geoekonomi negara-negara dunia. Perubahan ini melahirkan pemikiran globalis, liberalis, kapitalis dan neokolonialis. Indonesia bak zamrud khatulistiwa dan ratna mutu manikam dunia, jelas menjadi incaran mereka.

Mayjen TNI Purn M. Sochib berpendapat, soal globalisasi yang kemudian sering disebut liberalisasi, dan disambut antusias oleh banyak penduduk dunia, dikarenakan sebelumnya mereka hidup dalam suasana otoritarianisme. Dasar manusia yang rakus, globalisasi dimanfaatkan untuk mengembangkan kapitalisme oleh korporasi-korporasi besar, sehingga lahirlah new capitalism dan new colonialism, tulis M.Sochib.

Tulisan M.Sochib ada benernya. Itulah sejatinya yang terjadi di dunia saat ini. Di balik promosi globalisasi dan liberalisasi, di balik itu ada niat jahat bahwa “milikku milikku dan milikmu milikku”. Kerja sama bilateral, regional dan internasional hanyalah sopan santun dan kedok, yang hakikatnya hidup saling intip dan yang lengah akan dimakan, karena masing-masing sebagai pesaing.

Banyak cara dilakukan oleh korporasi dunia untuk kepentingan dirinya, apakah melalui intervensi terhadap paradigma konstitusi, budaya, ekonomi maupun migrasi penduduk. Menurut Jenderal TNI Purn Widjojo Soejono (90 th) sesepuh TNI-AD, dalam beberapa kesempatan sering mengingatkan bahwa saat ini sudah terjadi “invasi senyap” terhadap Indonesia. Beliau mengajak kita untuk segera bangkit atau berubah sebelum punah.

Apakah ada invasi senyap terhadap konstitusi kita, merupakan pertanyaan kritis dan kontekstual. Mencermati penuturan beberapa tokoh yang terlibat dalam amandemen UUD 45, dalam hal ini mantan anggota DPR/MPR RI, indikasi itu ada. Berbagai berita yang dimuat di media, juga menunjukkan adanya indikasi kebenaran ikut campurnya asing.

Artikel John Mempi “Di Balik Amandemen 1945” [2] menulis secara gamblang siapa sponsor asing, siapa operator asing, siapa kurir dan peloby dari dalam negeri saat amandemen. Jika yang disinyalir John Mempi dan penuturan mantan anggota DPR/MPR RI benar, maka saya berpendapat suka tidak suka, sadar tidak sadar, patut diduga invasi senyap terhadap konstitusi kita telah terjadi.


Rekomendasi

Jika ada bisikan, di era globalisasi saat ini tidak boleh ada diskriminatif, harus toleran dan semua warga negara punya hak sama serta pertanyaan, ketika persilangan dan perkawinan antar etnis serta budaya sudah terjadi dalam keseharian, lalu siapa yang dimaksud orang Indonesia asli? Seyogyanya bisikan dan pertanyaan tersebut tidak langsung ditelan dengan merubah pasal 6 (1) UUD 45.

Apabila secara sosiologis ada perkembangan kehidupan dalam masyarakat, sehingga diperlukan penjelasan tentang orang Indonesia asli, bisa dijelaskan secara adendum di bagian penjelasan, tanpa harus merubah kalimat “Presiden ialah orang Indonesia asli”. Sebab setelah terjadi perkawinan silang, kita masih bisa membuat stratifikasi sosial orang Indonesia asli. (Dr. M. Dahrin La Ode M.Si, Trilogi Pribumisme: Resolusi Konflik Pribumi dengan Non Pribumi).

Kita tidak boleh memandang remeh adanya perubahan Pasal 6 (1) dan Pasal 1 (2) dari UUD 45 asli, serta tambahan Bab VIIB, Pemilihan Umum, Pasal 22E, pada amandemen UUD 45. Kita harus melakukan olah yudha untuk menemukan jawaban adakah skenario yang buruk terhadap Indonesia atas perubahan pasal-pasal dan penambahan bab tersebut. Masalah ini perlu dan akan dibahas secara khusus pada artikel lain.

Apabila hasil amandemen jauh dari Pembukaan UUD 45, dan bukan demi bangsa Indonesia atau patut diduga adanya agenda asing, maka ajakan untuk “Kembali ke UUD 45 Asli, Untuk Disempurnakan” kiranya perlu dilaksanakan. Selamat berjuang kepada LBH Solidaritas Indonesia, Beli Indonesia, Save NKRI, Selamatkan NKRI, Front Nasional, PPAD, FOKO, GKI, Kongres Boemiputra, Sahabat Weka, GBN, Gerbang Bumiputra, Gerakan Pemantapan Pancasila dll, semoga perjuangan saudara mendapat ridho dari Tuhan YME. Insya Allah, amin (*)


Lampiran:

UUD 1945 REPUBLIK INDONESIA

Dalam video graphic recording ini, Pramono Edhie Wibowo mengajak kita mendalami kembali esensi Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, buah pemikiran para Pendiri Bangsa.

Pembukaan UUD 45 selalu relevan sebagai pegangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat terus maju, hidup, dan kuat; sekarang dan di masa mendatang. Dari Pembukaan UUD 45 ini Pramono Edhie Wibowo mensarikan konsep Kemandirian, Keadilan dan Kesejahteraan.

Mari saksikan gambar hidup video graphic recordingnya [3] mengenai uraian: --klik--> UUD RI 1945


Catatan Kaki:
[1] Dituliskan kembali dari sumbernya:
http://www.teropongsenayan.com/83723-pilpres-presiden-orang-indonesia-asli-atau-bangsa-lain-yang-wni#.WqkKhUzW7Y8.facebook
[3] https://www.youtube.com/embed/4fSR4GRVIOA


Baca Juga:

Tuesday, March 13, 2018

Islam Sempurnakan Peradaban di Sevilla





K
ota dan kawasan di sekitar Ishbiliya adalah sebutan dalam bahasa Arab untuk kota dan kawasan di sekitar Sevilla, Spanyol. Kota ini terletak di tepian Sungai Guadalquiver. Kaum Muslim menaklukkan kota ini sekitar tahun 716. Sejak itu, ia menjadi kota terbesar kedua setelah Cordoba. Luas areanya mencakup 187 hektar, dengan jumlah penduduk sekitar 83 ribu jiwa. Hingga pertengahan abad ke-9, kawasan perkotaan masih banyak menyisakan jejak peninggalan bangsa Romawi.

Tapi segera mengalami rekonstruksi besar-besaran, begitu jatuh ke tangan umat Muslimin. Abd al-Rahman II, penguasa dari dinasti Umayyah, memerintahkan agar tembok kota dibangun kembali serta diperkuat. Begitu pula kawasan permukiman yang terletak di sisi timur dan utara.

Pembangunan terus berlanjut hingga Khalifah Abu Ya’qub Yusuf memindahkan ibu kota ke Sevilla. Termasuk di antaranya merekonstruksi Alcazar (Istana, Tempat Tinggal Raja, Royal Place) yang dibangun oleh Abd al-Rahman II pada tahun 1172 sampai tahun 1176.

Khalifah juga membangun beberapa masjid besar. Hingga kota itu direbut oleh pasukan Nasrani pimpinan Ferdinand III dari Kastila pada tahun 1248, sudah terdapat sebanyak 72 masjid di seluruh Sevilla (Ishbiliya).

   Di masa keemasannya, saat pemerintahan dinasti Almovarid (Al-Murābitūn), Sevilla (Ishbiliya) adalah kota yang sangat sibuk. Ia pusat dari banyak bidang kehidupan, mulai dari keagamaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, hingga budaya. Banyaknya masjid, kata Thomas Glick pada karyanya The Dictionary of the Middle Ages, menandakan berkembangannya aspek agama di sana.

Sedangkan, hadirnya madrasah serta perpustakaan besar menunjang geliat intelektualitas. Adapun pada ranah seni dan budaya diwakili oleh keberadaan bangunan-bangunan berarsitektur menawan, termasuk di antaranya Istana (Alcazar), Masjid Almohad (Al-Murābitūn), menara La Giralda (menara adzan), dan masih banyak lagi.

   Dalam artikel bertajuk Sevilla Islamic Heritage, Sarah Irving menyatakan, keindahan arsitektur Islam di Sevilla telah menghadirkan kekaguman hingga berabad-abad. Ini menjadi salah satu bukti kebesaran peradaban Islam di Spanyol. Sevilla juga merupakan pusat perekonomian di kawasan Laut Mediterania. Kehidupan ekonomi yang sangat kental diabadikan dalam risalah yang ditulis Ibnu Abdun. Sejarawan ini mengungkap secara akurat denyut nadi perekonomian dan perdagangan sehari-hari di kota itu.

Disebutkan bahwa produk unggulan dari wilayah ini yakni minyak zaitun. Sentra pembuatannya berada di Aljarafe [1]. Selain itu, menurut Ibnu Abdun, di pasar-pasar yang ada, berlangsung transaksi dagang dalam jumlah besar untuk komoditas tekstil, rempah-rempah, dan kerajinan logam. [2]


Di Sevilla Lahir Ilmuwan Muslim Terbaik

S
evilla pernah menjadi salah satu kota ilmu yang masyhur ketika kaum Muslimin berkuasa di Andalusia berabad-abad silam. Dalam Peradaban Islam sangat memperhatikan perkembangan aspek keilmuan. Tak terkecuali di Sevilla. Gairah intelektual mewarnai gerak kehidupan masyarakat setempat sehingga melahirkan tokoh serta karya-karya luar biasa yang berkontribusi bagi kemajuan khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Sejarawan sains Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arabs mengatakan, reputasi Sevilla tidak kalah mentereng dengan kota-kota ilmu lainnya di Andalusia, semisal Cordoba, Granada, Valencia, Toledo, dan Malaga. Perpustakaan besar, sebagai ciri khas sebuah kota pusat intelektualitas, juga terdapat di kota tersebut.

Demikian pula sarana pendidikan, antara lain madrasah dan universitas, melengkapi jajaran fasilitas ilmu. Tak heran, Sevilla menjadi magnet bagi kaum cendekia dan intelektual dari berbagai wilayah untuk berkiprah. Mereka memperluas wawasan ilmu dalam tingkatan yang paripurna. Beberapa tokoh penting tampil dari kota mengagumkan ini. Di antaranya seorang matematikus terkemuka. Namanya Ibnu al-Yasamin al-Ishbilli.

Ia dikenal luas dari karya yang bertajuk Al-Urjuza al-Yasminiya fil Jabr wal Muqabala, atau puisi tentang Aljabar dan Perbaikan. Al-Ishbilli yang wafat pada tahun 1209 ini berasal dari Afrika Utara. Tapi, pendidikan diperolehnya di Sevilla. Ilmuwan besar Ibnu Qasim al-Shalubin tercatat sebagai salah satu mentornya. Darinya, al-Ishbilli menimba ilmu aljabar. [3]


Ilmu Astronomi Berkembang Pesat di Sevilla



S
ejarah mencatat Al-Urjuza al-Yasminiya, yang kemudian menjadi maha karyanya, ditulis di Sevilla. Begitu besar rasa cinta pada kota itu membuat tokoh hebat ini tidak ingin meninggalkannya. Al-Ishbilli berkarya hingga akhir hayatnya di sini. Dunia ilmu tidak melupakan figur yang satu ini, yakni Abu Muhammad Jabir Ibnu Aflah. Keahliannya terutama pada bidang astronomi. Selain itu, ia sangat menguasai ilmu hitung.

Kehebatan Ibnu Aflah dikagumi banyak kalangan, bahkan bangsa Eropa punya panggilan khusus, Geber (Jabir) yang kerap bersinggungan dengan nama Latin, Jabir Ibnu Hayyan (Jabir - Abu Muhammad Jabir Ibnu Aflah). Seperti halnya al-Ishbilli, sebagian besar masa hidup Ibnu Aflah dihabiskan di Sevilla. Karya besarnya mencakup Kitab al- Haiaa (Koreksi pada Almagest). [4] Di dalamnya dibahas teori gugus planet dekat (Venus dan Merkurius) juga garis edarnya antara matahari dan bumi.

Ia sekaligus mengkritik pemikiran Ptolemeus. Ide dan gagasan Ibnu Aflah terbukti memberi perbaikan penting di lingkup astronomi. Warisan intelektual yang lain adalah model tata surya untuk menggambarkan pergerakan benda-benda angkasa. Prestasi besar ditorehkan Muhammad Ibnu Fattuh al-Khamairi. Kepiawaian dalam mencipta beragam instrumen astronomi menempatkannya dalam jajaran tokoh ilmu paling berpengaruh dari Sevilla.

Al-Khamairi berhasil membangun sebuah astrolabe di kota tersebut. Tepatnya pada tahun 1213. Laman muslim heritage memperkirakan, setidaknya ada delapan instrumen serupa yang dibuat. Kini, alat-alat itu disimpan di beberapa museum besar di Eropa, atau menjadi koleksi pribadi.


Ilmu Pertanian Berkembang Pesat di Sevilla

S
ektor pertanian yang maju pesat di Sevilla pada masa itu turut menarik perhatian kaum cendekia. Muncul nama Abu Zakaria Yahya Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad al-Awwam. Kitab Al-Filaha yang ditulisnya mengulas secara mendalam seluk-beluk pertanian. Risalahnya pada bidang ini, Al-Filaha, menjadi karya istimewa pada abad pertengahan, puji Philip K. Hitti. Karya itu mencakup dua bagian utama. Pertama yang berisi tentang karakteristik lahan, pengairan, dan jenis tanaman.

Dan kedua membahas aspek pemilihan bibit, musim panen, cara bercocok tanam, juga penanganan pascapanen. Pengaruh buku ini sangat besar dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ahli botani disematkan pada figur bernama lengkap Abu Abbas Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Mufarraj. Ia lebih di kenal dengan nama al-Nabati. Dia kelahiran Sevilla, tepatnya pada tahun 1240. Ibnu Mufarraj punya kaitan erat dengan ilmuwan besar Ibnu al-Baytar, karena ia adalah gurunya. [5]

Arsitektur Islam



A
rsitektur Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik dan metafisik bangunan melalui konsep pemikiran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan muslim.

Aspek Fisik adalah sesuatu yang tampak secara jelas oleh panca indra. Dalam hal ini sebuah bangunan dengan fasade yang memiliki bentuk dan langgam budaya Islam dan dapat dilihat secara jelas melalui beberapa budaya, seperti budaya Arab, Cordoba, Persia sampai peninggalan Wali Songo. Bentuk fisik yang biasa diterapkan dalam sebuah bangunan seperti penggunaan kubah, ornamen kaligrafi, dan sebagainya.

Aspek Metafisik adalah sesuatu yang tidak tampak panca indra tetapi dapat dirasakan hasilnya. Hal ini lebih kepada efek atau dampak dari hasil desain arsitektur Islam tersebut, seperti bagaimana membuat penghuni / pengguna bangunan lebih nyaman dan aman ketika berada di dalam bangunan sehingga menjadikan penghuni merasa bersyukur. Contoh lain hasil desain ruang-ruang dalam sebuah rumah, bisa menjadikan komunikasi orangtua dan anak lebih dekat, sehingga membuat mereka rajin beribadah.


Penutup

D
emikianlah peran Peradaban Islam di abad tengah, abad dari kejayaan Islam yang mengintegrasikan Ajaran Islam dan Sains serta Teknologi yang membangun Peradaban kelas Dunia – Islam sebagai dīn yang ber-Peradaban.



Hal ini dimungkinkan karena ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an serta As-Sunnah sering memotivasi umat Islam (Muslimin) untuk berilmu, karena dengan iman dan ilmu umat Islam diangkat derajatnya.

Firman-Nya dalam Kitabullah mensuratkan yang artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. [6] Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM



Video --klik--> SEVILLA - ISHBILYA


Catatan Kaki:
[1] El Aljarafe adalah sebuah wilayah yang terletak di provinsi Sevilla, Andalusia, Spanyol.
[2]http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/09/ohwxj1313-islam-sempurnakan-peradaban-di-sevilla
[3]http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/09/ohwx7b313-di-sevilla-lahir-ilmuwan-muslim-terbaik
[4] Almagest adalah bentuk Latin dari nama dalam bahasa Arab (الكتاب المجسط al-kitabu-l-mijisti, yaitu "Buku Besar") dari sebuah risalah astronomi yang mengemukakan gerakan kompleks bintang-bintang dan lintasan planet, semula ditulis dalam bahasa Yunani sebagai μαθηματικ σύνταξις (Mathematike Syntaxis, "Risalah Matematika"); kemudian diberi judul Ή Μεγάλη Σύνταξις (Hè Megalè Syntaxis, "Risalah Besar") oleh Ptolomeus dari Alexandria, Mesir. Ptolomeus mempersembahkannya kepada umum di Canopus, Mesir pada tahun 147/148. Model geosentriknya diakui sebagai kebenaran selama lebih dari seribu tahun di Arab dan masyarakat Eropa. Almagest adalah sumber terpenting mengenai informasi tentang astronomi Yunani kuno.
[5]http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/09/ohwxdg313-ilmu-astronomi-dan-pertanian-berkembang-pesat-di-sevilla
[6] QS Al-Mujādalah 58:11 □□



Sumber:
http://www.republika.co.id
https://id.wikipedia.org/  
https://www.youtube.com/embed/eUMsJ3d7RWE
dan sumber-sumber lainnya. □□□