Wednesday, April 24, 2019

Air Sumber Kehidupan




wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30.

PENDAHULUAN

D
ari penyelidikan yang ada seperti teleskop raksasa yang ada di bumi, setelit teleskop hubble yang menjelajahi angkasa, pengiriman manusia yang menggunakan pesawat Apollo yang kapsulnya mendarat di permukaan bulan. Selanjutnya menggunakan robot kendaraan Spirit and Opportunity serta Curiosity yang membawa peralatan dan instrumen penelitian di daratan Mars. Di permukaan dan alam sekelilingnya yang dijelajahinya termasuk penelitian dari galian tanah di planet Mars. [1] Dari keduanya penelitiannya baik di bulan maupun di mars tidak ditemukan  adanya sumber air. Tidak ada pula kehidupan makhluk hidup seperti pepohonan, tanaman. Begitu pula  kehidupan makhluk biologis dan lainnya, apa lagi manusia seperti di bumi.

Demikianlah dengan tidak ada sumber air, maka makhluk biologis tidak ada pula. Dapat disimpulkan bahwa korelasi antara sumber air dan adanya kehidupan makhluk biologis sangat signifikan sekali. Hal ini dipertegas lagi oleh Yang Maha Benar  dan Maha Pencipta atas firman-Nya,  wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin”. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30. Pahamlah sekarang kita kenapa baik di Bulan dan di Mars tidak ada kehidupan makhluk biologis, karena di sana itu tidak ada sumber air, seperti sungai, laut dan lautan serta air terjun atau mata air.



AIR  SUMBER  KEHIDUPAN
Agar Sadar Diri dan Imannya Teguh
Oleh: A. Faisal Marzuki


K
ajian kita mulai dari mengambil dalil dari Firman-Nya yang artinya “Allah-lah yang menciptakan Langit Ruang Angkasa (Samāwāti) dan Bumi (Ard) dan segala apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa...maka apakah kamu tidak memperhatikan”, Qur’an Surah As-Sajdah 32:4.

Mempelajarinya adalah bernilai ibadah, karena dianjurkan untuk mengetahui agar keimanannya tambah mantap artinya tidak goyah dengan adanya kemajuan-kemajuan dari iptek dan adanya 'cara pandang berpolitik tidak perlu lagi bersumber dari kebenaran' disebut (nama kerennya) 'post-truth politics'.

Di era millenial ke-3 dengan 'post-truth politics' ini yang dengan itu orang mulai tidak perlu menggunakan ajaran integritas moral dan kejujuran dari ajaran agama dalam bernegara, karena post-truth politics' dianggap ilmiah dan modern, padahal menghancurkan sendi-sendi bernegara yang tegaknya oleh karena integritas. Dalam catatan secarah jelas peran Islam dan Nasionalis saling memahami satu sama lain karena masing-masing berintegritas, lihat Sejarah Indonesia khususmya hubungan antara UUD 45 dan Piagam Jakarta. [2]

Di gelombang ketiga kemerdekaan Indonesia lahirnya zaman Orde Reformasi - post-g30s/pki’ ”agama dipisahkan dalam kehidupan bernegara.” Yaitu agar memisahkan persoalan politik dan negara. [3] Hal tersebut bisa cenderung disalah gunakan tafsirannya. Karena dalam  perjalanan sejarahnya menunjukkan seperti itu. (2) Pada zaman Orde Baru mengatakan ”bukan negara sekuler bukan pula negara teokrasi. Orde Lama mengatakan bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) bersumber dari Piagam Jakarta. (2) Ini artinya ‘ruh agama’ ada di UUD 45 sebagaimana sila pertama Pancasila  Ketuhanan Yang Maha Esa. [2]

Bahasan ini di dorong oleh kepedulian berbangsa yang perlu 'jurdil' (kejujuran dan keadilan) yang ada pada ajaran Islam. Dan keteladanan dari kualitas pemikiran atau pemahaman seorang Ūlil Albāb melihat 'alam nan terkembang jadi guru' [4] yang memotivasi penulis sebagaimana Qalam Illāhi mengatakan:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat Kauliyah kebesaran Allah di Alam Semesta - Universe ) bagi Ūlil Albāb.

yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata,

“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Mahasempurna Engkau (atas segala ciptaan-Nya), lindungilah kami dari azab neraka (karena salah sangka, duga negatif, atau tidak memanfaatkan di jalan-Nya)”, Qur’an Surat  Āli ‘Imrān 3:190-191.

Selanjutnya yang menjadi bahan memahami kajian tema ini adalah clues (petunjuk) ada di Qur’an Surah As-Sajdah 32:4 seperti telah disebutkan diatas sekali. Dan Surah An-Nāzi’āt yang artinya ”(27) Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangunnya? (28) Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, (29) dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). (30) Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.  (31) Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (32) Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (33)  (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”, QS An-Nāzi’āt 79:27-33.


PENJELASAN PENCIPTAAN
ALAM SEMESTA DALAM ENAM MASA

A
l-Qur’an surat ke-32, As-Sajdah, ayat ke-4 penggal pertama menerangkan bahwa Samāwāti (Langit Ruang Angkasa) dan Ard (Bumi) dan apa yang ada diantara keduanya – disebut sebagai Alam Semesta terbentuk sampai seperti yang ada sekarang ini diperlukan dalam enam (sittati) masa (ayyāmin). Ada pula dalam terjemahan yang lain dari kata Al-Qur’an - ayyāmin mengartikan dengan kata hari.

Kalau tidak paham fenomena (ayat-ayat) Kauniyah ini  sering menimbulkan permasalahan. Sebab, enam masa tersebut ditafsirkan berbeda-beda, mulai dari enam hari, enam periode, hingga enam tahapan. Oleh karena itu, pembahasan berikut mencoba menjelaskan bahwa sittati  ayyāmin itu maksudnya adalah enam masa, dari sudut pandang keilmuan kosmologi, astronomi dan fisika atau fisika nuklir serta geologi yang mempelajari dengan sungguh fenomena Kauniyah ini. Dasar penelitiannya dengan mempelajari fenomena-fenomena Alam Semesta yang dikaitkan dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang bertalian dengannya.

Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kata sittati ayyāmin yang artinya enam masa bukan enam hari adalah pada surat ke-79, surat An-Nāzi’āt. Isi firman Allah dalam surat An-Nāzi’āt pada ayat 27 sampai dengan ayat 33 seperti ayat-ayat Kauniyah dalam Qalam Illahi tersebut di atas, tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa terjadinya penciptaan Alam Semesta secara kronologis. [5] Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayat-ayatnya. Bahasan lengkapannya ada di (klik -->) Penciptaan Alam Semesta Dalam Enam Masa.

Topik yang akan dibahas disini adalah penciptaan makhluk dari air [6] sebagai yang menyebabkannya adanya makhluk biologis. Selanjutnya dengan air ini sebagi sumber kehidupan makhluk biologis termasuk kemudiannya manusia. [6]

Makhluk biologis waktu penciptaan Alam Semesta masa pertama dari alam semesta ini belum ada. Makhluk biologis ada setelah memasuki masa kelima penciptaan alam semesta. Karena alam semesta belum cukup untuk dapat memungkinkan dan memenuhi syarat kehidupan makhluk biologis.

Alam semesta belum stabil. Panasnya sangat kepalang tanggung amat-amat-amat panasnya, karena benda-benda di alam jagat raya seperti langit, bintang-bintang, gugus bintang, dan benda-benda angkasa seperti matahari, planit-planit sedang dalam keadaan prosesmenjadi dan air pun sebagai sumber kehidupan makhluk biologi belum ada. Malah benda-benda angkasa ini saling bertabrakan. Baru pada masa kelima proses penciptaan alam semesta ada tanda-tanda akan adanya makhluk biologis, yaitu adanya sumber air.


MULAI ADA AIR DI BUMI

Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”, Al-Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 31.

P
engiriman Air ke Bumi Melalui Komet, Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 31). Bunyi firman-Nya: Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”. Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air.

Jadi, darimana datangnya air? Air [6] diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. [6] Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. [5] [6] Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya. [5]

Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama mulai ada berupa tumbuhan bersel satu itu pun mulai muncul di dalam air.


MULAI ADANYA KEHIDUPAN
MAKHLUK BIOLOGIS DAN MANUSIA

Dan kamu lihat bumi ini kering (tak ada kehidupan makhluk biologis samasekali), kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) diatas (bumi)-nya hiduplah bumi itu menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis (makhluk-makhluk biologis seperti burung-burung, kupu-kupu, bunga-bungaan tetumbuhan, dst, dst) yang indah (rupanya), Qur’an Surah Al-Hajj 22:5.


P
roses geologis serta lahirnya hewan dan manusia, Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 32 dan ayat 33. Bunyi firman-Nya ayat 32: ”Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh” Makna dari tinjauan ilmuan Kauniyah, ”gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan ’daratan’, ’pembentukan air’ dan ’munculnya tumbuhan pertama’. Gunung-gunung terbentuk dari adanya interaksi antar lempeng superkontinen disebut Pangaea yang tadinya satu superkontinen menjadi kontingen-kontingan yang disebut benua-benua. Kemudian terpisah menyebar menjadi bagian benua-benua dengan nama masing-masing seperti Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. [5]

Sedang fungsi gunung-gunung yang ada pada setiap benua adalah sebagai ”pasak” Bumi benua masing-masing, sebagaimana yang tercantum dalam surat ke 16, surat An-Nahl ayat 15 yang artinya: ”Dan Dia menancapkan gunung di Bumi agar Bumi itu tidak bergoncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”[5]

Guna adanya dataran tanah di Bumi pada masing-masing benua bagi manusia oleh Tuhan Mahapencipta diterangkan dalam firman-Nya sebagai berikut: (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu,” Surat An-Nāzi’āt ayat 33. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, dan adanya air di laut dan di sungai-sungai serta jalan-jalan, maka terciptalah tumbuhan dan hewan. Dan last but not lease akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi. [5]

Jika diurutkan dari Masa Ketiga hingga Masa Keempat, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang artinya: ”Dan Dia ciptakan padanya (bumi) gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa. Memadai (memenuhi kebutuhan) untuk mereka yang memerlukannya”.[5]


PENUTUP

D
emikianlah proses sejak kemunculan alam semesta hingga akhirnya terciptanya manusia seperti kita sekarang ini. Uraiannya diambil dari penafsiran ”enam masa penciptaan alam” dalam surat As-Sajdah ayat 4, kemudian pada penggal terakhir menyebutkan ”maka apa kamu tidak perhatikan,” Qur’an Surah As-Sajdah 32:4.

Hal ini mengundang Ulil Albab [4] mencari tahu, yaitu dengan mengunakan sebagai perantara antara kombinasi aqli dan naqli. Aqli, kajian (penelitian) alam semesta (ayat-ayat kauniyah) menggunakan metodelogi sains. Naqli, pentadabburan (kajian) ayat-ayat Al-Qur’an (terutama ayat alam semesta) yang bertalian dengan alam semesta yang sedang diselidiki.

Apa yang terjadi dalam setiap masa proses penciptaan alam semesta yang disebutkan dalam Surah An-Nāzi’āt dari ayat 27 sampai ayat 33. Dari memahami Surah tersebut  dengan pengetahuan yang baru menggunakan metodelogi sains dan pentadabburan (kajian) ayat-ayat Al-Qur’an Surah-Surah An-Nāzi’āt, Al-Anbiyā’, As-Sajdah, An-Nahl,  Āli ‘Imrān, Al-Hajj, dengan itu tersimpulkan manfaat Alam Semesta bagi manusia. Yaitu untuk kesejahteraan kehidupan manusia di bumi dan lingkungan hidupnya sekitarnya - sebagaimana yang disebutkan dalam surat Fushshilat ayat 10 - Dia ciptakan bumi, gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi. Dan Dia berikan rezeki-rezeki yang cukup bagi kebutuhan dan keperluan hidupnya di Bumi.

Memang sungguh Dia (Allah) Mahahidup. Dia (Allah) Mahaberdirisendiri mengurus semua makhluk-Nya dengan sebaik-baiknya melalui perantaraan fasilitas yang telah Dia (Allah) ciptakan dan sediakan bagi makhluknya dengan sebaik-baiknya.

Tinggal lagi manusia yang diberi kemampuan sebagai khalifah pemakmur kehidupannya di Bumi sadar dan syukur akan pemberian-Nya bagi kepentingan sesama ummat manusia dengan lingkungan alamnya agar hidupnya sejahtera.

Itu hanya dapat dicapai dengan bekerja (ikhtiar sunatullah) menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Namun, hal itu hanya dapat dicapai dengan baik asalkan adanya dalam kehidupan bersosial kemasyarakatannya ditegakkan dengan keadilan, dari adil timbul keamanan. dari keamanan timbul kedamaian. Baru peradaban manusia yang di ridhoi-Nya, ada dan maju serta berkembang secara signifikan sebagai negara yang adil dan makmur (aman, damai serta sejahtera) dalam naungan dan suasana ”Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofūr” [7] bagi seluruh penduduknya. Wallāhu A’lam bish-Shōwab. Billāhitt Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM



Catatan Kaki:
[1] NASA's Mars Exploration Rover (MER) mission was a robotic space mission involving two Mars rovers, Spirit and Opportunity, exploring the planet Mars. It began in 2003 with the launch of the two rovers: MER-A Spirit and MER-B Opportunity—to explore the Martian surface and geology; both landed on Mars at separate locations in January 2004. Both rovers far outlived their planned missions of 90 Martian solar days: MER-A Spirit was active until March 22, 2010, while MER-B Opportunity was active until June 10, 2018 and holds the record for the longest distance driven by any off-Earth wheeled vehicle. Terjemahannya: Misi Mars Exploration Rover (MER) NASA adalah misi robot luar angkasa yang melibatkan dua penemu Mars, Spirit dan Opportunity, menjelajahi planet Mars. Itu dimulai pada tahun 2003 dengan peluncuran dua penemu: MER-A Spirit dan Peluang MER-B — untuk menjelajahi permukaan Mars dan geologi; keduanya mendarat di Mars di lokasi yang terpisah pada Januari 2004. Kedua penjelajah jauh melampaui misi yang direncanakan selama 90 hari matahari Mars: MER-A Spirit aktif hingga 22 Maret 2010, sementara Peluang MER-B aktif hingga 10 Juni 2018 dan rekor yang bertahan lama dalan kemampuan jelajah jarak yang terpanjang digerakkan oleh kendaraan roda di luar bumi.
[https://en.wikipedia.org/wiki/Mars_Exploration_Rover]

Curiosity is a car-sized rover designed to explore the crater Gale on Mars as part of NASA's Mars Science Laboratory mission (MSL). Curiosity was launched from Cape Canaveral on November 26, 2011, at 15:02 UTC and landed on Aeolis Palus inside Gale on Mars on August 6, 2012, 05:17 UTC. The Bradbury Landing site was less than 2.4 km (1.5 mi) from the center of the rover's touchdown target after a 560 million km (350 million mi) journey. The rover's goals include an investigation of the Martian climate and geology; assessment of whether the selected field site inside Gale has ever offered environmental conditions favorable for microbial life, including investigation of the role of water; and planetary habitability studies in preparation for human exploration. Terjemahannya: Curiosity adalah penjelajah seukuran mobil yang dirancang untuk menjelajahi kawah Gale di Mars sebagai bagian dari misi Laboratorium Sains Mars (MSL) NASA. Curiosity diluncurkan dari Cape Canaveral pada 26 November 2011, pukul 15:02 UTC dan mendarat di Aeolis Palus di dalam Gale on Mars pada 6 Agustus 2012, 05:17 UTC. Situs Pendaratan Bradbury berjarak kurang dari 2,4 km (1,5 mi) dari pusat target touchover rover setelah perjalanan 560 juta km (350 juta mi). Tujuan penjelajah termasuk penyelidikan iklim dan geologi Mars; penilaian apakah lokasi lapangan yang dipilih di dalam Gale pernah menawarkan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan mikroba, termasuk investigasi peran air; dan studi kelaikan planet dalam persiapan untuk eksplorasi manusia. Pada Desember 2012, misi dua tahun Curiosity diperpanjang tanpa batas waktu, dan pada 5 Agustus 2017, NASA merayakan ulang tahun kelima pendaratan penjelajah Curiosity. Bajak masih beroperasi, dan pada 23 April 2019, Curiosity telah berada di Mars selama 2386 sol (2451 total hari) sejak mendarat pada 6 Agustus 2012. (Lihat status saat ini). Desain Curiosity direncanakan dan berfungsi sebagai dasar untuk penjelajahan Mars sampai tahun 2020 yang  membawa berbagai instrumen peralatan ilmiah.
[https://en.wikipedia.org/wiki/Curiosity_(rover)]
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/12/sejarah-piagam-jakarta.html
[3] https://nasional.kompas.com/read/2017/03/24/19084521/presiden. jokowi. pisahkan.agama.dan.politik
[4] Qur’an Surat  Āli ‘Imrān 3:190-191.
[5] Prof. Dr. T. Djamaluddin, Ahli Astronomi, Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa.
[6] wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30.
wa laqad khalaqnal insāna minsulālatim min thīn. Artinya: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, Qur’an Surah Al-Mu’minūn 23:12.
[7] Makna lughawi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafūr. Mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebut Negeri Saba’ sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr? Karena dalam bahasa kalimat tersebut mempunyai arti “Negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun”. Meski kalimatnya singkat namun maknanya padat, dan dapat mewakili semua kebaikan yang dulunya ada pada Negeri Saba’ tersebut, karena “negeri yang baik” bisa mencakup seluruh kebaikan alam dan pemerintahannya yang berkuasa ketika itu, dan “Rabb Yang Maha Pengampun” bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala , Rabb Alam Semesta. □□



Sumber:
https://misykatulanwar.wordpress.com/2008/06/10/proses-penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa/
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/10/penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa.html
https://spaceplace.nasa.gov/space-robots/en/
http://www.skyandtelescope.com/astronomy-news/hubble-confirms-dark-energys-clout/
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2014/05/islam-ilmu-pengetahuan-i.html
http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2014/05/islam-modernisasi-i.html
Terjermahan arti ayat al-Qur’an diambil dari ALFATIH, Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka ALFATIH □□□

Sunday, April 7, 2019

Sejarah Islam di Minangkabau




KATA PENGANTAR

B
uya Hamka atau lengkapnya, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, pemilik nama pena Hamka. Lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Buya Hamka sangat dikenal sebagai seorang ulama, dan sastrawan Indonesia dengan bukunya yang terkenal a.l. Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938). Setelah itu, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Baca juga (klik --->) Mengenang Sastrawan Besar Hamka. Buya Hamka juga sebagai wartawan, pengajar dan penulis.

Banyaknya pengetahuan yang ada pada Buya Hamka melalui “autodidak” dan banyak membaca disertai ingatannya yang kuat disertai pula dengan bakat sebagai penulis. Dengan itulah terbit karya monumentalnya berupa buku Tafsir Al-Azhar 30 juz, sebelumnya menulis sejarah Islam.

Dalam Sejarah Umat Islam, Hamka menulis tentang sejarah Islam dengan sistimatika periode berkuasa kerajaan. Ia menekankan peranan raja dan kerajaanya yang pernah menguasai Nusantara. Menurutnya, Islam di Indonesia berhubungan dengan Arab lebih dulu daripada India. Bukti sejarah yang paling nyata adalah ditemukannya perkampungan Arab pada tahun 674 di pantai Barat Sumatra dan Kerajaan Kalingga pada masa Ratu Shima, yang keduanya bersumber dari berita Tiongkok. Sejarawan Gusti Asnan mencatat, Hamka telah menemukan sumber-sumber lama yang sebelumnya tidak pernah digunakan penulis pada zamannya. Ia memberikan informasi yang sangat bernilai mengenai sumber-sumber yang dipergunakannya seperti Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-Raja Pasai karya Nuruddin Ar-Raniri, Tuhfat Al-Nafis karya Ali Haji, Sejarah Cirebon dan Babad Giyanti.

Lewat Perbendaharaan Lama, Hamka menunjukkan penguasannya tentang warisan, atsar, jejak, dan petuah yang diwariskan tokoh-tokoh Nusantara. Ia menguraikan tentang sejarah kebangkitan Islam di Minangkabau secara khusus dalam Ayahku, biografi Abdul Karim Amrullah (Inyiak De-Er) yang ditulisnya.

Hamka memiliki metode tersendiri dalam memaparkan penelitiannya di bidang sejarah. Ia mengedepankan sikap kritis dalam menelaah tulisan-tulisan sejarawan Belanda tentang Indonesia. Menurutnya, para sejarawan Belanda telah memberikan andil yang besar dalam banyak data, tetapi tetap perlu kritis menerimanya. Dengan daya kritis dan analisisnya, Hamka berani merekonstruksi sejarah dengan argumentasi dan dalil yang kuat. Ia tidak sekadar mengulang-ulang catatan sejarah yang terpapar dalam literatur-literatur baku ketika berbicara maupun menulis tentang sejarah.  “Sejarah Islam di Minangkabau” yang akan dipaparkan ini di ambil dari tulisan Buya Hamka di laman (home page) Pesantren Buya Hamka dalam judul Sejarah Minangkabau.



SEJARAH ISLAM DI MINANGKABAU


PENDAHULUAN

B
ahwasanya Minangkabau sudah pernah menempuh zaman kebesaran dan kejayaan semasa 500 atau 600 tahun yang lalu, tidaklah dapat dipungkiri lagi, bahwa di dalam kisah-kisah kuno, sebagaimana di dalam Sejarah Melayu karangan Tun Sri Lanang, telah tersebut juga bahwa nagari Minangkabau itu dahulunya suatu kerajaan besar. 

Belahan raja-raja keturunan Sang Sapurba yang turun di bukit Siguntang Mahameru (Palembang, Sumatera Selatan) yang menurunkan raja-raja Melayu, kata Tun Sri Lanang dirajakan juga di Minangkabau. Orang tua-tua Minangkabau mengatakan, bahwa mereka keturunan Maharaja Diraja yang turun dari puncak gunung Merapi (Sumatera Barat) tatkala datang dari tanah besar Hindustan. 

Perkara turun dari gunung atau asal daripada bangsa dewa dari kahyangan dan lain-lain itu, adalah kepercayaan yang hampir rata pada masa dahulu daripada negeri-negeri Timur. Bukankah bangsa Jepang mengatakan, bahwa mereka turun daripada dewa matahari? Orang Pasemah juga mempercayai, bahwa “Si Pahit Lidah” turun dari berombong cahaya matahari? 

Di dalarn penyelidikan ahli-ahli, kerajaan yang paling tua di tanah Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya, ialah kerajaan Sriwijaya (orang Arab menyebut ‘Syarbazah’, orang Cina menyebut ‘Sheh Li Fosheh’ dan lain-lain). Pendiri kerajaan itu ialah Maharaja Syailendra. Di antara rajanya yang masyhur ialah Sri Tri'Buana. 


Kerajaan Sriwijaya

Di zaman kebesaran Sriwijaya, kota Palembang lama menjadi pusat agama Budha yang terbesar. Dia bersahabat dengan kerajaan Cina, dan ganti-berganti mengirimkan utusan. Kita sebagai penduduk pulau Sumatera boleh berbangga, bahwa riwayat Sumatera, tegasnya Sriwijaya, telah ada 100 tahun sebelum Nabi Muhammad dilahirkan.  Di zaman pemerintahan Maharaja Hsian di negeri Cina, (memerintah 454 - 464), maharaja itu telah menerima utusan  daripada Maharaja  pulau Kandali.  Kandali itu adalah pulau Andali, yang biasa juga ditulis  dalam  huruf Cina “Kandalaih”  atau  “Andalaih”. ltulah pulau Andalas  ini, yang oleh lbnu Bathuthah disebut Sumatera, dan berpusat di  Palembang. 

Di tahun 502, tahun 519 dan tahun 520, datang juga utusan Maharaja Sriwijaya itu menjelang benua Cina. Dari pulau Sumatera itulah disiarkan agama Budha ke tanah Jawa, sampai ke negeri Jepang. Di Palembang berdiri Asrama Budha yang amat besar. Wazir (Perdana Mentri)-nya yang masyhur ialah, Demang Lebar Daun. Melihat tahun-tahun yang tersebut, beranilah kita memastikan, bahwa Kerajaan Sriwijaya telah ada 100 tahun sebelum Nabi Muhammad lahir. 

Sebab beliau lahir di tahun 571, di Sumatera telah berdiri suatu kerajaan yang teratur. Di tahun 671 I Tsing, seorang muarrich (muarikh, penulis sejarah) bangsa Cina telah melawat ke tanah Sriwijaya. Katanya kerajaan itu berdiri di tepi sungai yang bernama ‘Mo-shi’ (sekarang disebut sungai Musi). Waktu dia datang ke sana, Maharaja tengah pergi berperang ke negeri Melayu, yaitu Inderagiri, Kampar dan Siak (sekarang bagian dari derah-daerah yang ada di provinsi Riau). 

lbnu Khardizbah, pengarang ‘Al-Masalik wal Mamalik’ mengatakan, bahwa negeri Qilah di bawah kuasa raja Palembang. Bertemu sepucuk surat tua di India yang rupanya ditulis di tahun 1005 menyatakan, bahwa raja-raja Palembang itu disebut Maharaja Gunung. Masa kebesarannya, Maharaja Sriwijaya itu melebarkan pengaruhnya sampai ke Sailon (Caylon, Sri Lanka). Jawa juga di bawah pengaruhnya.

Itulah sebabnya maka pemimpin dan presiden kita Ir. Sukarno pernah mengatakan, bahwa riwayat persatuan Indonesia sekarang ini, setelah merdeka, adalah riwayat yang ketiga. Pertama: Persatuan di zaman Sriwijaya; Kedua: Persatuan di zaman Majapahit; Ketiga: Di zaman persatuan Negara Republik Indonesia ini.


Kerajaan Darmasraya 

Sriwijaya mundur karena pertikaian agama, di antara Mazhab Budha Hinayana dengan Mahayana. Mahayana Mazhab Budha yang terbesar di pulau Jawa. Hinayana di Palembang. Persatuan kerajaan mulai lemah, maka masuklah Raden Wijaya raja Singasari menyerang dan mengalahkan Sriwijaya di tahun 1275.

Lantaran Sriwijaya tidak bangun lagi, dipindahkan pusat kerajaan arah ke hulu, yaitu diantara Jambi dan Minangkabau sekarang ini, dengan nama “Darmasraya” (arinya Jiwa yang bebas). Sejak itu dia telah menjadi sebuah kerajaan kecil yang tidak lagi mempunyai kuasa yang luas sebagai Sriwijaya dahulu, sebab kebesaran telah pindah ke Jawa kepada kerajaan Majapahit, yang berdiri sesudah (kerajaan) Singasari. 

Waktu Raden Wijaya menunjukkan, bahwa dia telah berkuasa di bumi Melayu, menaklukkan Sriwijaya dan menyatakan perlindungan atas Darmasraya, telah dipakainya adat raja-raja pada masa itu. Tandanya menang, dibawanya dua putri Melayu ke tanah Jawa, Putri yang tua bernama Dara Petak, bergelar Sri Indrahwari, dan yang muda Dara Jingga, dijadikan permaisuri oleh Maharaja Majapahit yang bernama Maharaja Sri Marmadewa, kemudian keturunan-keturunan dari Majapahit dari permaisuri Melayu itulah yang dirajakan di Minangkabau, turun-temurun. 

Di tahun 1286 Baginda Maharaja Kertanegara mengirimkan patung Budha ke Minangkabau sebagai tanda perhubungannya dengan raja-raja keturunan Jawa itu. Sebagai alamat, bahwa Minangkabau adalah suatu kerajaan berdiri sendiri di dalam lingkungan Majapahit. Patung itu telah dibawa ke gedung arca Jakarta tahun 1935.


Kerajaan Pagaruyung

Setelah raja-raja yang bertakhta kerajaan di Darmasraya itu menilik di keliling negerinya, ada lagi daerah yang lebih bagus untuk kerajaan, dipindahkanlah ke tempat yang bagus itu. Itulah dia ‘Pagarruyung’, yang dapat ditempuh dari Darmasraya dengan menelusuri sungai Batang hari. Ruyung adalah sebagai ibarat daripada ‘keteguhan” (dari kata pagar dan ruyung, makna ruyung adalah keteguhan). 

Memang bagus tempat itu ditilik dari letaknya, yang dilingkung oleh bukit-bukit dan gunung-gunung berkeliling. Namun demikian perhubungan dengan Jawa sebagai perhubungan famili, tidaklah diputuskan. Sekali-sekali berziarah-ziarahan (saling kunjung mengunjungi juga. Di kaki gunung Merapi didirikan rumah tempat sembahyang Budha, bernama Parahiangan. Hiang artinya Tuhan.


Aditiawarman

Di tahun 1343 yang menjadi maharaja di Minangkabau ialah Maharaja Aditiawarman. Maharaja itu senantiasa ingat akan perhubungan keluarganya ke Majapahit. Maka baginda titahkan membuat patung nenek-moyangnya permaisuri raja Majapahit itu, diberi nama patung ‘Manju Shri’ (Manja Sari), artinya yang maha suci. Patung itu sekarang (ada) di dalam gedung arca di Berlin (kota di negara Jerman), terbuat daripada emas. 


Pengaruh Kerajaan Pasai

Karena letaknya yang kokoh dipagar gunung itu, susahlah ‘angkatan besar’ (pasukan tentara asing) dari luar untuk datang menyerang ke sana. Di waktu Kerajaan Pasai di tanah Aceh telah memeluk agama Islam, di bawah perintah Al-Malikus Shalih, waktu Ibnu Bathuthah datang ke Pasai dinyatakannya, bahwa raja tengah mengirimkan utusan ke Muljawa, mengajak raja di sana memeluk agama Islam.

Kalau dibandingkan tahun pengembaraan Ibnu Bathuthah dengan tahun Aditiawarman memerintah bolehlah dikatakan di dalam satu zaman. Samalah masanya Al-Malikus Shalih dengan Aditiawarman. Setengah ahli sejarah Eropa berat sangkanya, bahwa yang disebut oleh lbnu Bathuthah Muljawa itu ialah Minangkabau. (Muljawa) Barangkali asal kata dari Malayu-Jawa. Upanya di zaman Aditiawarman telah mulai agama lslam dimasukkan dan dipropagandakan. Kedatangan utusan (dari Kerajaan Pasai) rupanya tidak disambut dengan peperangan, tetapi dengan damai saja dengan cara diplomasi kata orang sekarang. Sebab orang yang telah beragama Budha, tidak begitu susah memahamkan ajakan megakui adanya Tuhan.

Masuknya  agama Islam telah merubah susunan istiadat di dalam istana (Pagaruyung). Yaitu raja dijadikan tiga sela, (yaitu) raja alam, raja adat dan raja ibadat. Orang besar-besar dijadikan empat balai". Dua menjaga adat-istiadat lama. (Indomo Saruaso dan Bendahara atau Titah Sungai Tarab). Dan dua pula untuk menunjukkan nagari telah Islam, untuk mengadakan perhubungan dengan nagari-nagari yang telah menerima Islam, yaitu Makhdum di Sumanik dan Tuan Qadhi di Padang Ganting.


Kerajaan Islam Malaka dan Perantauan Minang

Di tahun 1400 berdiri kerajaan Islam, Malaka. Raja-raja Islam Malaka, mulai daripada Sultan Muhammad Syah, terang-terang menjadi pembela dan penyiar agama Islam. Maka mana rakyat Minangkabau yang tidak merasa puas dengan susunan kebudayaan campuran Hindu - Islam itu, Srimenanti, Jehol, Naning, Lukut dan lain-lain itulah yang pindah ke tanah Malaka, membuat negeri di Rambau, masyhur dengan nama ‘Negeri Sembilan’. 

Raja-raja asal Minangkabau di sana, memakai gelar “Yang Dipertuan", dengan singkat “Yamtuan". Supaya perhubungan dengan nagari asal jangan putus, ditetapkan juga daerah itu sebagai rantau dari Tuan Makhdum, yang memang tebal ke-lslamannya. Sebagai juga Kampar, Indragiri dan Siak menjadi rantau daripada Tuan Qadhi.

Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Minangkabau masih tetap sebagai keadaannya yang dahulu. Sesudah Malaka jatuh, Aceh memulihkan kebesarannya kembali, dan menentang Portugis. Dari Samudera Pasai kerajaan dipindahkan ke Pidir, dari Pidir dipindahkan ke Aceh Besar.


Pengaruh Kerajaan Darussalam Aceh

Di sana didirikan Kota Raja, nagari diberi nama Darussalam, sebagai pusat keteguhan Islam di Sumatera. Di antara Portugis dengan Aceh terjadi perlombaan perniagaan di pantai barat pulau Perca (pulau Sumatera). [1] Demikian juga dengan Belanda yang telah mengancam di Jawa. Pantai barat yaitu Singkil, Barus, Tiku, Pariaman, Padang, Salido sampai ke lnderapura menjadi negeri persimpangan. Aceh terpaksa menaklukkan negeri-negeri itu, sehingga terlepas dari kuasa Minangkabau. Di lnderapura sampai berdiri cabang kerajaan Aceh dikota Padang duduk gubernur Aceh.

Di Pariaman terjadi perebutan kekuasaan Portugis dengan Aceh, masyhur di dalam kisah perlawanan raja ‘Nan Tunggal Megat Jabang’, pahlawan Aceh dengan raja Sipatokah (Portugis) merebut kuasa di pantai Pariaman. Di zaman Iskandar Muda Mahkota Alam, raja Aceh yang paling masyhur dan besar, yang mula memerintah tahun 1604, amatlah besar pertentangan itu. Waktu itulah sengit perebutan pengaruh dengan Barat (bangsa Eropa seperti a.l. Portugis, Belanda).

Tetapi raja-raja Minangkabau, di Gudam Balai Jingga, di Jirung Kampung Dalam, di kota Pagarruyung, tidak sanggup lagi menghadapi perjuangan orang di tepi pantainya. Namanya rakyat di pesisir Minangkabau, hakikatnya di bawah kuasa Aceh. Bersamaan dengan serangan politik, Aceh membawa juga penyiaran agama yang di zaman Iskandar Muda Mahkota Alam (Raja ke-12 dari Aceh Darussalam) [2] telah menjadi pcmbicaraan yang tinggi mutunya di tanah Aceh. Sehingga Aceh diberi gelar ‘Serambi Makkah’.


PERKEMBANGAN ISLAM DI MINANGKABAU

U
lama-ulama telah membicarakan agama dengan merdeka. Dua faham bertentangan pada masa itu, yaitu faham Syekh Abdur Rauf dan Nuruddin Ar-Raniri yang mempertahankan faham Ahlissunnah, “Wihdatusy Syuhud”, yang menyatakan (yang bermakna), bahwa alam itu “bekas kuasa Tuhan” - ciptaan Tuhan. Sedang faham Hamzah Al-Fanshuri dan Syamsuddin As Samatrani yang berfaham “Wihdatul Wujud”, (yang maknanya) beri'tiqad bahwa alam itu adalah “sebagian daripada Tuhan”, laksana buih lautan yaitu sebagian daripada ombak! 

Murid (Syekh) Abdur Rauf datang ke Minangkabau, bertempat di Ulakan Pariaman, bernama Burhanuddin, karena mendengar bahwa pengikut Hamzah Fanshuri telah masuk pula ke Minangkabau dan memilih Cangking sebagai pusatnya.

Cangking adalah di Padang Darat. Tentu saja faham Cangking lebih lekas tersiar daripada faham Ulakan. Pertama, karena lebih dekat kepada ajaran agama Budha yang menyatakan, bahwa di dalam diri sendiri ada Tuhan. Kedua, faham ini tidak memberatkan benar (tidak sepenuhnya melaksanakan atar) mengerjakan ibadat (seperti dalam Ajaran Islam yang sebenarnya). Adapun di Aceh sendiri faham Hamzah Fanshuri itu tidaklah laku, dia dapat dikalahkan oleh Abdur Rauf yang besar pengaruhnya di sisi Sultan.



Peran Kaum Paderi

Demikianlah duduknya i'tiqad dan agama sampai kepada permulaan abad ke-19. Di permulaan abad itulah datang gerakan baru yang amat hebat, yang mula-mula menggoncangkan batu sendi adat-istiadat, dengan datangnya kaum Paderi dari negeri Makkah di bawah pimpinan Haji Miskin di Pandai Sikat. 

Kaum Paderi atau kaum putih adalah kaum agama yang teguh dan kuat iman. Terutama lagi mereka telah melihat contoh-contoh kekerasan (keteguhan) beragama yang digerakkan oleh kaum Wahabi di tanah Arab.

Menurut keyakinan mereka, perjalanan agama secara damai sebagai (mana) selama ini, menghilangkan sifat pelajaran agama yang sejati (sebenarnya), sehingga tercampur dengan pelajaran agama yang lain, yang bukan berasal daripada agama itu sendiri. 

Orang Wahabi di tanah Arab memandang orang yang tidak sefaham dengan dia sebagai “musuh”, walaupun sama-sama Islam. Sebab ke-Islaman mereka - menurut pandangan Wahabi - pelaksanaan Islam semacam itu hanya tinggal nama saja, mereka telah memperserikatkan Tuhan dengan yang lain. 

Kaum Paderi Minangkabau juga berpendirian begitu (sama dengan apa yang didapatnya dari Makkah) terhadap pemeluk agama Islam Minangkabau. Tidak ada di Minangkabau (ketika itu) tanda-tanda Islam yang hidup (yang seharusnya sama dengan ajaran Islam yang sebenarnya). Raja-raja masih mencampurkan upacara Hindu dengan Islam. Guru-guru agama masih berkhidmat kepada kubur-kubur orang yang dipandang keramat. Pemuda-pemuda masih bergurau-senda mengadu ayam. Maka pada keyakinan kaum Paderi, barulah negeri akan selamat, kalau sekiranya pemerintahan yang lemah dan tidak beragama itu dihapuskan dan diganti dengan pemerintahan kaum agama semata-mata. Maka amat hebatlah pergerakan Paderi sejak bagian pertama (1801 - 1826) yaitu zaman menyusun, dan bagian kedua (1826 -1837), zaman berperang menyiarkan faham (dakwah Islam yang didapatnya dari Makkah), sampai jatuhnya Bonjol ke tangan Belanda. 

Dengan jatuhnya Bonjol, banyak perubahan yang telah terjadi dan Minangkabau menghadapi suasana baru. Walaupun kaum Paderi telah dapat dikalahkan, namun Islam telah dapat menempuh suasana baru. Kaum adat menambah lagi memasukkan anasir Islam ke dalam adat. Sehingga timbul pepatah-pepatah adat “Syara' nan mengatakan, Adat nan memakai”. “Sudah adat ke balairung, sudah syara' ke mesjid”. Baca juga (klik --->) Sejarah PerjuanganKaum Pedri.

Kaum agama pun mendapat kedudukan lebih bagus daripada dahulu. Di tiap-tiap nagari disusunlah Orang Empat Jenis, yaitu “Penghulu, “Manti”, “Dubalang” dan “Malim”. Ditentukan pula pakaiannya, “Penghulu (Kepala Adat) berpakaian hitam”, “Manti (Pembantu Kepala Nagari) berpakaian ungu”, “Dubalang (Kepala Nagari) berpakaian merah” dan “Malim (Orang Alim, Ulama, yang mengurus masalah agama) berpakaian putih”. [3]


Pemerintahan Hindia Belanda

Pemerintah Belanda, sesudah perang Paderi itulah melakukan politik-politiknya yang baru untuk menamkan kuasanya di Minangkabau. Mula-mula ditanamnya jabatan ‘Regent’ (Bupati, Wali atau Pengawas) pada beberapa nagari. Nagari-nagari yang telah tertanam benar pengaruh Paderi, diangkatnya orang-orang yang kuat beragama. Setelah nyata bahwa jabatan regent tidak bersetuju dengan masyarakat Minangkabau, diadakannya pula jabatan ‘Laras’ (Kepala Distrik atau Kepala Nagari). Sesudah itu dimasukkannyalah ‘monopolistelsel’ (masalah perpajakan, penduduk asli dikenakan pajak oleh Hindia Belanda).

Di dalam perjanjian ‘Plakat Panjang’ yang masyhur, diakuinya derajat penghulu sebagai ‘pengatur nagari’. Kuasanya dikembalikan dan kuasa kaum agama tidak ada lagi. Untuk membuat golongan yang akan menjadi tulang-punggungnya, diadakannyalah Sekolah Raja di Bukittinggi. Keluaran-keluaran Sekolah Raja itulah yang mulai menyiarkan pengaruh Belanda, menjadi (melalui) guru (yang akan mengajarkan murid-murid yang terlepas dari ajaran Islam, dan pegawai (kaki tangan pelaksana pemerintahan Hindia Belanda di lini pertama dalam menghadapi rakyat (pribumi).


Syekh  Ahmad Khatib Al-Minangkabaui

Anak adik Tuanku Laras di Kota Gadang, di akhir abad ke-19, ibunya orang Empat Angkat, pusat kaum Paderi 50 tahun sebelum itu, masuk ke dalam Sekolah Raja yang baru didirikan itu. Setamat dari sekolah dia pun melanjutkan pelajarannya ke negeri Makkah. Anak ini bernama Ahmad (kemudian dikenal dengan nama Ahmad Khatib), anak daripada Abdul Lathif. Sesampai di Makkah berkat kesungguhan hatinya mempelajari agama, apalagi dasar-dasar ilmu umum telah ada pula karena bersekolah (di Sekolah Raja), dia telah 'menjadi salah seorang Ulama yang mempunyai riwayat dan cita-cita luar biasa. Ilmunya mendapat penghargaan tinggi, sampai dia mendapat jabatan imam dan khatib mazhab Syafi'i di dalam Masjidil Haram, termasuk orang-orang yang sangat terkemuka di negeri Makkah, turut duduk di dalam majelis Syarif-syarif. Murid-murid pun datanglah berduyun-duyun terutama dari tanah Minangkabau

Hatinya (Ahmad Khatib Al-Minangkabaui yang telah mendapat gelar Syekh) kecewa, sebab itu dia tidak hendak pulang lagi ke negerinya. Hanya murid-muridnya yang disuruhnya pulang. Maka murid-murid Syekh Ahmad Khatib itulah yang pulang ke kampung menyiarkan ajaran gurunya.


Murid-Murid Syekh  Ahmad Khatib di Minangkabau

Di antara murid-murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui di Minangkabau ialah Syekh Muhammad Jamil Jambek, Almarhum Dr. Abdul Karim Amrullah, Almarhum Dr. Abdullah Ahmad. Almarhum Syekh Jamil Jaho, Almarhum Syekh Muhammad Zein Simabur, Almarhum Syekh Muhammad Zein Lantai Batu, Almarhum Syekh Thaib Sungayang.


Murid-Murid Syekh  Ahmad Khatib di Luar Minangkabau

Murid-murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui di luar Minangkabau ialah Almarhum Syekh Abbas Padang Jepang, Almarhum Syekh Abdul Lathif Panambatan, Almarhum Syekh Hasan Ma'sum Mufti Kerajaan Deli. Almarhum Syekh Muhammad Nur Mufti Kerajaan Langkat. Di Mandahiling Syekh Abdul Qadir Al Mandili. Di Malaya Almarhum Syekh Thahir Jalaluddin dan Almarhum Syekh Abdullah Shalih bekas Mufti kerajaan Johor. Di Jawa: Kiyai H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di Yogyakarta dan Kiyai H. Adnan di Solo. Maka besarlah penibahan (perubahan) di dalam semangat agama, lantaran murid-murid Syekh Ahmad Khatib itu.


Peran para Syekh (Ulama) di Minangkabau

Di tahun 1911 Syekh Abdullah Ahmad mengeluarkan surat kabar Al-Munir dan Al-Akbar. Dalam tahun 1912 beliau mendirikan sekolah Adabiyah di Padang.  Tahun 1916 Zainuddin Labai mendirikan seko1ah agama di Padang Panjang. Tahun 1918 Syekh Abdul Karim Amrullah mendirikan Sumatera Thawalib. Tahun 1920 Haji Datuk Batuah membawa faham Komunis ke Sumatera Barat (Penyimpangan Agama Islam dengan memasukkan faham Komunisme ke dalam Ajaran Islam). Tahun 1922 Ahmadiyah Qadian mencoba-coba mengacau faham Islam Sumatera Barat, tetapi tidak berhasil. Tahun 1925 Syekh Abdul Karim Amrullah membawa gerakan Muhammadiyah dari Jawa. Tahun 1928 Belanda mencoba memasukkan ‘Guru Ordonansi’ (Guru  didikan Hindia Belanda dengan membawa konsep ajarannya terpisah dengan ajaran agama, tidak ada ajaran agama di sekolah), tetapi tidak berhasil, karena keteguhan hati para Ulama menolaknya, terutama Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyiak De-Er, Ayah Buya Hamka). 

Tahun 1930 Muhammadiyah mengadakan kongres di Bukittinggi. Sesudah Kongres Muhammadiyah itu, Islam kembali menempuh zaman gemilang di Sumatera Barat. Sejak itulah sekolah ‘Sumatera Thawalib’ berganti menjadi ‘Persatuan Muslimin Indonesia’ dan memasuki gerakan politik. Sejak itu pula perkumpulan ‘Attarbiyatul Islamiyah’ diperbaiki organisasinya. Tahun 1941, karena dipandang amat berbahaya bagi Belanda, Dr. Abdul Karim Amrullah dibuang ke tanah Jawa. Tanggal 21 bulan Jumadil Akhir 1364 - 2 Juli 1945, beliau mcninggal di tanah pembuangannya, tetapi ajarannya telah hidup di dalam masyarakat! Tiap-tiap orang Minangkabau yang insyaf, merasai kehidupan itu.



PENUTUP

D
emikianlah Sejarah (peran dan perkembangan Agama atau Ajaran Islam di) Minangkabau. Mulai dari Kerajaan Budha di Palembang, Kerajaan Hindu dan Budha di Jawa, Kerajaan Damasraya, Kerajaan Pagaruyung, Kerajaan Pasai, Kerajaan Darussalam, Kerajaan Islam di Malaka, serta luar biasa pengaruh dari didikan Syekh Ahmad Khatib yang murid-muridnya berperan sedemikian rupa bagi generasi berikutnya sampai sekarang. Dan antisipasinya dalam menghadapi pengaruh penjajahan Eropa terutama Hindia Belanda yang “phobia” dengan Islam dengan cara mendirikan sekolah ala Belanda, Sekolah Raja. Serta melalui sistim jabatan “regent” dan jabatan “laras” serta “monopolistelsel” sebagaimana telah dipaparkan diatas.  Baca juga (klik --->) Siti Manggopoh SingaBetina Melawan Belanda.

Beberapa kosakata yang tidak lazim digunakan sekarang diberi penjelasannya yang berada dalan tanda kurung (……) untuk memudahkan mengerti kosakata dalam bahasa yang dikenal sekarang ini. Boleh jadi tulisan ini diambil dari sebagian buku kebangkitan Islam di Minangkabau secara khusus dalam buku Ayahku, biografi Abdul Karim Amrullah (Inyiak De-Er) yang ditulisnya. Atau juga Sedjarah Islam di Sumatera yang ditulis Buya Hamka tahun 1950, yang bahasanya menggunakan kosakata Bahasa Indonesia tahun itu. Wallahu A’lam bish-Shawab.

Last but not least dari tajuk “Sejarah Islam di Minangkabau” banyak pengetahuan dan pelajaran yang dapat diambil dari salinan buah pena dari Buya Hamka ini bagi kita semuanya. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Catatan Kaki:
[1] http://ghobro.com/info/suku-suku-muslim-di-pulau-perca
[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Iskandar_Muda
[3]https://www.academia.edu/36447585/Studi_Terhadap_Kosakata_Bahasa_Arab_Dalam_Bahasa_Minangkabau?auto=download
https://kbbi.web.id/ □□


Sumber:
Hamka, Sedjarah Islam di Sumatera, Medan 1950.
http://www.ponpeshamka.com/2016/03/sejarah-minangkabau-oleh-buya-hamka.html?fbclid=IwAR15znJT-cT7O3uM-LavZmLbPN-mI2z0I89hHJvxJtiwOjSTVDlmCT5qvxg
http://ghobro.com/info/suku-suku-muslim-di-pulau-perca
https://en.wikipedia.org/wiki/Iskandar_Muda
https://www.academia.edu/36447585/Studi_Terhadap_Kosakata_Bahasa_Arab_Dalam_Bahasa_Minangkabau?auto=download
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/07/mengenang-satrawan-besar-hamka.html
https://kbbi.web.id/
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Malik_Karim_Amrullah 
https://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2016/04/sejarah-perjuangan-kaum-padri.html 
https://bedahbuku-faisal.blogspot.com/2017/05/kecermelangan-syeikh-ahmad-khatib.html
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/08/siti-manggopoh-singa-betina-melawan.html □□