Friday, August 18, 2017

Siti Manggopoh Singa Betina Melawan Belanda







Saat kanak-kanak, Dullah merebut ikan hasil pancingan Siti. Bukannya takut, Siti malah menantang duel. “Ikan ini kudapat dari hasil keringatku. Ini hakku. Kau tak boleh merampasnya. Selangkah aku tak surut menghadapimu! Tarung kita?”

Inilah kisah dari Minangkabau. Tentang perempuan cantik yang memimpin Perang Belasting seabad silam. Perang ini membuat Belanda kalang kabut; 53 dari 55 serdadu Belanda yang bermarkas di Benteng Nagari Manggopoh meregang nyawa.



Pendahuluan

A
da yang tidak tersiarkan dengan semestinya -karena kini memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia- dari catatan sejarah Indonesia dalam memperjuangkan kebebasan (kemerdekaan) Indonesia dari penjajahannya, yaitu seorang tokoh bernama Siti Manggopoh, 1880-1965). Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung seperti R. A. Kartini dari Jepara, Jawa Tengah. Atau Cut Nyak Din dari Aceh yang berani mempertaruhkan nyawa dalam cinta tanah air dan agama. Bahkan mungkin orang lebih mengenal Rochana Koeddoes, pejuang hak-hak perempuan di Padang, Sumatera Barat.

   Namun kalau dilihat dari catatan perjalanan hidup dan sepak terjang Siti Manggopoh tidak kalah dari ketiga pendekar tersebut. Dalam kelemah lembutannya sebagai perempuan Minang, ia mampu menunjukkan peran perempuan di tengah dominasi laki-laki yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Ia siap mengorbankan nyawa dalam beberapa pertempuran melawan penjajah Belanda.

   Teriakan takbir “Allahu Akbar” selalu berkumandang untuk mengobarkan semangat perjuangan pasukan yang dipimpinnya, yang semuanya laki-laki. Karena “keperkasaan perjuangannya” itulah, masyarakat Minang Menggelarinya “Singa Betina Manggopoh”. Dialah satu-satunya “Singa Betina dari Minangkabau”, karena tak ada perempuan seberani dia dalam merintis kemerdekan di Sumatera Barat.

   Padahal jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsa, adat, budaya dan agamanya. Bagaimana tidak, Siti Manggopoh tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui perpajakan (belasting) yaitu memajaki warga Minang di negeri Minang sendiri oleh dan demi kepentingan penjajah. Saat itu Siti Manggopoh perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawanan terhadap penjajah yang terjadi di negeri ini.


Riwayat Siti Manggopoh

P
erempuan Minang ini memiliki nama Siti. Ia lahir bulan Mei tahun 1880. Nama Manggopoh dilekatkan pada dirinya, karena ia terkenal berani maju dalam perang Manggopoh. Manggopoh itu sendiri merupakan nama negerinya (kampung tempat tinggalnya).

   Siti merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kelima kakaknya dengan senang hati menyambut kelahiran Siti, karena Siti adalah anak perempuan pertama sekaligus terakhir yang dilahirkan dalam keluarga mereka. Kelima kakak laki-laki Siti pun selalu mengusung Siti ke mana-mana. Ia membawa Siti ke pasar, ke kedai, ke sawah, dan bahkan ke gelanggang persilatan.

   Siti pun pernah bermain sangat jauh dari kenagarian Manggopah, bahkan sampai ke daerah Tiku, Pariaman. Tak hanya itu, ketika kakaknya belajar mengaji ke surau, Siti juga di ajak dan mengecap pendidikan surau. Sebagai perempuan Minang, Siti memiliki kebebasan. Ia membangun dirinya secara fisik dan mental serta rohani. Ia belajar mengaji, bapasambahan dan juga persilatan. Sifat dan pengalaman seperti itulah kiranya yang menyebabkan Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajah Belanda di negerinya.


Siti Menikah

S
iti menikah dengan Rasyid. Pernikahan mereka ternyata tidak membuat Siti terikat dengan tugas perempuan di dalam rumah tangga saja. Justru bersama suaminya Rasyid, Siti memiliki semangat dan arah perjuangan yang setujuan. Mereka bahu membahu berusaha keras melepaskan penderitaan rakyat Minangkabau. Kesadaran ini muncul ketika Siti dan Rasyid merasakan bahwa telah terjadi penindasan di negerinya oleh pemerintah kolonial Kerajaan Belanda yang disebutnya Hindia Belanda.

   Dari catatan yang ada, meski sebagai seorang tokoh pun ternyata Siti pernah mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Konflik dengan rasa keibuan yang mesti menyusui anaknya yang masih usia kecil, padahal disatu sisi, ia merasa sebuah panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda. Namun, ia segera keluar dari konflik bathin itu dengan memilih panggilan jiwa untuk membantu rakyat.

   Inilah catatan untuk Siti Manggopoh. Ia pun kembali memunaikan tanggungjawabnya sebagai seorang ibu setelah melakukan penyerangan. Catatan lagi menyatakan bahwa Siti pernah membawa anaknya, Dalima, ketika melarikan diri ke hutan selama 17 hari, dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan dipenjara 14 bulan lamanya di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang. Perempuan Minangkabau pemberani yang bertaruh mengikut sertakan anaknya ke medan perang, karena kondisi fisik anaknya yang masih kecil - perlu perawatan orang tuanya.


Penerapan Pajak Langsung (Balesting)

P
enerapan Pajak - Belasting merupakan tindakan pemerintah Belanda yang menginjak harga diri bangsa Minangkabau. Rakyat Minangkabau merasa terhina ketika harus mematuhi peraturan untuk membayar pajak tanah (dan pajak lainnya) yang dimiliki secara turun temurun. Apalagi peraturan pemungutan pajak (belasting) langsung ini dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau. Di Minagkabau, tanah adalah kepunyaan komunal menurut adat Minangkabau yang sudah turun temurun sampai saat ini.

   Kesewenang-wenangan Belanda dalam memungut pajak di tanah kaum sendiri, membuat rakyat Minangkabau melakukan perlawanan. Perlawanan tersebut juga tidak dilupakan oleh Belanda. Pemerintah kolonial Belanda mengirimkan marechaussee (marsose), karena adanya sebuah gerakan yang dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni tahun 1908. Belanda sangat kewalahan menghadapi Siti Manggopoh pada saat itu, bahkan ia meminta bantuan kepada serdadu Belanda yang berada diluar nagari Manggopoh. Bermula perang di mulai di Kamang (16 kilo meter dari Fort de Kock - Bukittinggi, kemudian berlanjut di Manggopoh, Lintau Buo dan daerah-daerah lainnya.

   Siti Manggopoh memang membangun diri dan keberanian (tomb boy) serta kecerdasannya sejak dari kecil. Bakat lahiriah inilah yang muncul ketika menyusun siasat yang diatur sedemikian rupa olehnya. Dia dan beberapa pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Siti memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.


Pembantaian Tentara Belanda

D
i markas benteng Belanda di Manggopoh, sewaktu tentara Belanda sedang mengadakan pesta judi dan mabuk-mabukkan, masuklah seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah Siti – buruan pemberontak yang paling di cari tentara Belanda. Siti langsung membaur dengan tentara yang sedang mabuk itu.

   Karena kelelahan dan teller akibat minuman keras itu, akhirnya puluhan tentara Belanda terkapar tak sadarkan diri, melihat peluang tersebut Siti segera memberi isyarat kepada para pejuang yang sudah menunggu di luar benteng untuk segera masuk dan menyerangnya.

   Para pejuang merebut benteng (markas) Belanda yang sebelumnya membantai dulu puluhan serdadu Belanda. Tercatat dari 55 serdadu Belanda, 53 orang tewas, dan 2 orang berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka parah ke Lubuk Basung.

   Dalam Perang Manggopoh ini, Siti memenangkan pertarungan dengan Belanda. Ia berhasil menyelamatkan bangsanya dari penjajahan. Oleh sebab itu, sejarawan Minangkabau mencatat Siti Manggopoh sebagai satu-satunya perempuan Minangkabau yang berani melancarkan gerakan sosial untuk mempertahankan nagarinya terhadap penjajah asing. Bahkan tidak jarang gerakan yang dilancarkannya secara fisik.

   Perebutan benteng akhirnya dikuasai pihak pejuang ini. Kemudiannya menyulut menjadi Perang Manggopoh yang lebih intens lagi oleh Belanda dengan dibantu serdadu Belanda dari luar Manggopo. Tujuh dari pejuang tewas dan 7-nya lagi tertangkap hidup-hidup oleh Belanda termasuk Siti Manggopoh dan suaminya. Kemudian Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo Magek, dipenjarakan serdadu Belanda. Namun, lantaran mempunyai bayi, Siti terbebas dari hukuman sebagaimana biasanya, yaitu pembuangan ke daerah lainnya. Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada tanggal 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupten Agam, Sumatera Barat.


Usulan Menjadi Pahlawan Nasional

S
emasa zaman penjajahan Belanda, banyak sudah pahlawan nasional yang turut serta membela negara ini. Kendati begitu, ada juga pejuang yang tak dikenal sama sekali. Boleh jadi, lantaran itu pula Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat dan DPRD setempat, baru-baru ini, kembali mengusulkan kepada Pemerintah Pusat, supaya Mandeh Siti Manggopoh atau yang lebih dikenal dengan sebutan Siti Manggopoh, dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Alasannya, perempuan ini terbukti amat ditakuti Belanda lantaran pernah menaklukan benteng sang penjajah dari inisiatifnya seorang diri (yang dibantu oleh lasykar pejuang lainnya seperti yang telah disebutkan) di Manggopoh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.


Penutup

D
alam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama Siti Manggopoh memang tidak pernah muncul ke permukaan. Lantaran itu pula, sejarah pejuang perempuan yang satu ini hanya diketahui sebagian masyarakat Sumatera Barat. Namun masyarakat setempat masih menghargainya, terbukti lewat peringatan 93 tahun (pada tahun 2014) Perang Manggopoh, yang sekaligus menjadi momentum peresmian Monemen Siti Manggopoh yang didirikan tahun 2014.

   Dia dinobatkan oleh Satria Muda Indonesia sebagai pendekar silat Minang. Gelar tersebut sebagai penghormatan terhadap kiprah Siti yang juga dikenal sebagai pesilat tangguh sejak remaja. Selain itu, Siti juga membangun gelanggang persilatan di Tanah Nagari Manggopoh.

   Pada bulan Juni tahun 1908 jam 12.00 mereka bersama Dalima anaknya dalam gendongan Siti, diangkut ke Lubuk Basung dengan pengawalan ketat pasukan serdadu Belanda. Ternyata orang tua dan anak sulung mereka, Yaman, sudah lebih dulu berada di sana. Meski sudah menyerah, Siti masih saja menunjukkan keperkasaannya sebagai pahlawan. Menjawab interogasi petugas kolonial Belanda, dengan lantang ia menyatakan tidak takut dihukum gantung. Saya menyerang markas dan membunuh serdadu Belanda, karena Belanda telah melanggar adat dan agama warga Manggopoh,” katanya. “Saya peringatkan pula agar serdadu-serdadu Belanda tidak lagi merendahkan martabat perempuan Minang yang sangat ditinggikan di masyarakatnya,” lanjutnya. Menyaksikan keberanian perempuan itu, interogator kolonial Belanda itu geleng-geleng kepala. Akhirnya untuk sementara mereka ditahan di Lubuk Basung.

   Setelah mendekam di tahanan selama 14 bulan di Lubuk Basung, mereka dipindahkan ke penjara Pariaman, dan 18 bulan kemudian mereka dipindahkan lagi ke penjara Padang. Setelah 12 bulan di penjara di Padang, Rasyid dibuang ke Manado, Siti yang juga minta dibuang bersama suaminya ke Manado, malah dibebaskan dengan alasan punya anak kecil. Sejak saat itulah tak terdengar lagi genderang perang di Manggopoh. Siti tinggal di rumah mengasuh anaknya, Dalima, yang tak lama kemudian meninggal.

   Pada tahun 1960, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Nasution menyampaikan penghargaan kepada Siti, bertempat di Balai Nagari. Nasution mengalungkan penghargaan Negara dan Rakyat atas keperkasaan Singa Betina dari Sumatera Barat itu.

Sang Jenderal bahkan sempat membopong dan mencium wajah tua Siti, yang di hari-hari tuanya sering dipanggil “Mande (Ibu) Siti”. Ketika usianya mencapai 78 tahun, tubuhnya semakin lemah, sementara matanya mulai rabun. Namun akhirnya pada tahun 1964 harapan masyarakat Manggopoh terwujud juga. Pemerintah RI menggelari Siti sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI.

   Dan setahun kemudian, tepatnya 22 Agustus 1965, sang pahlawan pun wafat dalam usia 85 tahun di rumah salah seorang cucunya di kampung Gasan, Kabupaten Agam. Almarhumah dimakamkan di taman Makam Pahlawan Padang.

   Riwayat perjuangan Singa Betina yang gagah berani itu tersimpan di museum Adityawarman dan Gedung Wanita Rochana Koeddoes, Padang. Siti telah berjuang, Siti telah tiada, tapi sosok kepahlawanan dan perjuangannya tetap dikenang sepanjang masa. □ AFM



Bahan Penulisan:

http://coretananakminang.blogspot.com/2014/03/siti-manggopoh-singa-betina-dari-minang.html http://www.berdikarionline.com/siti-manggopoh-dan-perang-belasting/  
https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Belasting, dan sumber-sumber lainnya. □□□