Monday, May 20, 2019

Memahami Keluasan Makna Taqwa




KATA PENGANTAR

K
ata taqwa sering kita dengar, saking seringnya, seringkali kita kehilangan makna yang sebenarnya. Padahal taqwa ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Manusia sedunia yang populasinya sudah mencapai tujuh setengah miliar sangat membutuhkan taqwa. Kalau tidak kita menjurus kepada chaos of globalisation yang lebih dasyat lagi. Kenapa? Karena ujung daripada ketidaksependapatan yang saling memaksa dalam berfikir dapat menimbulakn konflik hebat antar kelompok bangsa. Lebih luas lagi antar kelompok bangsa-bangsa, menurut catatan sejarah, mengakibatkan perang.

Peperangan yang akan datang lebih berbahaya lagi. Dulu senjata bom atom hanya dimiliki Amerika dan USSR (sekarang Rusia). Sekarang yang mempunyai senjata nuklir bertambah. Kini dimiliki pula oleh China, Korea Utara, Pakistan, India, Inggris, Prancis, Israel. Dulu saja korban PD II 80 juta jiwa, setengah jutanya korban karena Bom Atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Sekarang daya rusaknya beribu kali, karena kualitasnya tidak sama dengan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki, namanya 'nuclear missile'. Yaitu Peluru Kendali (Rudal)  berkepala Nuklir yang bisa disetel kepada kota di seluruh dunia mana saja yang akan menjadi sasarannya. Tambah lagi Senjata Kuman dan Senjata Kimia lainnya. Begitu dahsyatnya perang yang akan datang itu!

Pergaulan atau hidup sesama manusia bukan hanya memerlukan sains dan tekologi saja. Lebih dari itu adalah ‘akhlakul karima’ yang orang umum sering menyebutkannya ‘moral integritas’. Tanpa ini kacaulah dunia seperti disebutkan diatas.

Datangnya konsep ‘akhlakul karima’ atau ‘moral integritas’ dari Tuhan Maha Pencipta Alam Semesta dan Manusia. Artinya tidak datang dari buah pikiran manusia. Karena pada dasarnya yang mendominasi manusia adalah ditimbulkan serta memperturutkan saja apa yang timbul dari rasa ego-nya. ‘Ego pribadi’ atau ‘ego kelompok’, bahkan lebih dari itu adalah ‘ego bangsa’, bahkan 'ego antar kelompok bangsa’.

Motornya penggeraknya adalah ‘hawa nafsu’ atau dalam istilah politik ‘interest’. Hal inilah yang menimbulkan pertentangan manusia yang berperang dengan menggunakan rudal berkepala nuklir sebagai bahaya sangat dahsyat berikutnya.

Padalah konsep adanya bangsa dan suku (warna kulit, bahasa, negara, kelompak-kelompok negara) dalam Konsep Ajaran Islam adalah untuk saling kenal-menganal (ta’aruf) [1] yang (mestinya) menimbulkan ‘3T1I’- Ta’aruf; Tafahum; Ta’awun dan Itsar. [2]

Selanjutnya agar lebih terasa nilai yang sebenarnya dari makna taqwa ini mari ikuti urainnya seperti berikut ini.




MEMAHAMI KELUASAN MAKNA TAQWA
DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN
UMMAT MANUSIA
Oleh: A. Faisal Marzuki


Bertaqwalah pada Allah dimana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk (yang sudah menjadi kebiasaan burukmu itu) dengan perbuatan baik. Niscaya perbutan yang baik itu akan menghapuskan (dosa perbuatan buruk itu, dan sadar diri bahwa perbuatan buruk itu mesti dihindari), dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik” [HR At-Tirmidzi]



PENDAHULUAN

T
ujuan dari shaum (puasa) itu apa? Seperti yang tertulis dalam firman Allah SWT di surah Al Baqarah ayat 13, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dengan ayat tersebut makna dari tujuan orang puasa adalah tidak lain adalah agar mencapai level ‘taqwa’.

Nah, apakah arti atau makna ‘taqwa’ itu sendiri? Seseorang yang ingin introspeksi ketaqwaan kepada dirinya (bukan kepada orang lain) harus memahami arti taqwa berikut juga dengan ciri-cirinya.

Takwa adalah seseorang beramal (karena) ketaatan pada Allah atas petunjuk (cahaya) dari Allah karena mengharap ‘rahmat’-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena petunjuk (cahaya) dari Allah karena takut akan ‘siksa’-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah.


Pengertian Taqwa secara etimologis

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi- wiqayah yang artinya menjaga diri (berbuat salah dan dosa), menghindari dan menjauhi (perbuatan buruk). Sedangkan pengertian ‘taqwa’ secara terminologi adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran, yaitu dengan mengerjakan segala perintah-Nya, dan tidak melanggar, dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut (waspada) terjerumus dalam perbuatan dosa. Kata taqwa terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya.

Kata taqwa mana mengandung makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara (perbuatan baik), menghindari (dari berbuat salah), menjauhi (dari perbuatan buruk), menutupi (segala kekurangannya dengan perbuatan baik), dan menyembunyikan (aib yang hanya Allah saja mengetahui karena menghindari fitnah yang tidak perlu).


AJARAN ISLAM DALAM BERTAQWA

A
jaran Islam yang berhubungan dengan taqwa dan ciri dari orang-orang yang bertaqwa banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur’an. Malah Al-Qur’an lah yang menguraikan dan mengabarkan tentang ketaqwaan ini dan menggambarkan pula ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagai berikut:

Mengamalkan Taqwa Melalui Ta’aruf

“Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (ta’aruf). Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguha Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS Al-Hujurāt  49:13]


Membenarkan Yang Benar itu Perbuatan yang Baik

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik,” [QS Az-Zumar 39:33-34]


Bersabar menghadapi cobaan dengan Taqwa

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. (Padahal) Jika kamu bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan. [QS Āli ‘Imrān 3:120]


Berinfaq, Menahan Amarah, dan Pemaaf

“(yaitu) orang infak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [QS Āli ‘Imrān 3:134]


Ingat Kesalahan segera mohon Ampun dan selalu menghindari Perbuatan Keji

“dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi (menganiaya) diri sendiri, (segera) megingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [QS Ali ‘Imran 3:135]


Selalu Bertaqwa mendapat Kemenangan

Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan. [QS An-Naba’ 78:31]. Dijelaskan dalam suatau hadist bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Taqwa itu terletak di sini”, sambil beliau SAW menunjuk ke dada (bahasa Indonesia sring disebut hati) beliau tiga kali. Rasulullah SAW dalam do’a beliau, “Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketaqwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.”


Beriman kepada yang Ghaib, mendirikan Shalat dan Berinfaq

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” [QS Al-Baqarah 2:3]


Beriman kepada Kitab-Kitab Allah dan adanya Akhirat

dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS Al-Baqarah 2:4)


Bukan menghadap ke Timur dan ke Barat, tapi…

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada keraba, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir kehabisan bekal), peminta-minta; dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila  berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah 2:177).


Berpuasa Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (QS Al-Baqarah 2:183)


Tidak Silau dengan Keindahan Duniawi

Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu berada di ata mereka pada di Hari Kiamat.” (QS Al-Baqarah 2:212)


Selalu Berbuat Kebajikan

Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya.  Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang ber-taqwa. (QS ‘Āli ‘Imrān 3:115)


PENUTUP

T
aqwa adalah sikap jiwa yang berintikan kesadaran Ketuhanan dan perilaku muslim dalam menjaga, memelihara dan melindungi dirinya dalam hubungan dengan Allah, sehingga terpelihara nilai dan harkat kemanusiannya dalam menuju puncak hubungan yang suci dengan Allah SWT dan bermanfaat atau mempunyai efek kepada hubungan sesama manusia dan alam sekitarnya.

Fokus penulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang makna taqwa, ciri-ciri orang yang bertaqwa, istiqamah dalam bertaqwa, realisasi taqwa, serta taqwa sumber kemenangan dan keselamatan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa taqwa adalah benteng hati yang kokoh yang mendorong kepada perbuatan kebajikan, pertahanan diri dari kejahatan dan dosa yang dimanifestasikan pada prilaku.

Taqwa bukan sekedar benteng batin, sikap jiwa yang bergerak menuju kesucian (kebersihan jiwa yang menimbukkan akhlakul karimah - moral dan integritas yang baik). Tapi juga mencakup prilaku insan dalam hubungannya dengan Tuhan yang implikasinya terlihat pada semua aspek hidup seperti ibadah, amal shaleh, ihsan dan hubungan sesama manusia dan manusia dengan alam lingkungannya.

Demikianlah uraian tajuk diatas. Semoga bermanfaat. “Maha Sempurna Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM



Catatan Kaki:
[1] [QS Al-Hujurāt 49:13]
[2] 3T1I - Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu TA’ARUF (saling kenal mengenal, artinya kemauan orang yang siap hidup bersama dengan orang atau bangsa lain dalam ‘perbedaan’). [QS Al-Hujurāt 49:13].
Prinsip TA’ARUF ini meliputi 3T1I. Yaitu: Ta’aruf; Tafahum; Ta’awun dan Itsar. Maknanya adalah (T) Ta’aruf yakni saling mengenal; (T) Tafahum yakni saling memaklumi latar belakang hidup, keyakinan dan pandangan hidup; namun dapat melakukan (T) Ta’awun yakni kerja sama dalam masalah hubungan sesama manusia; (I) Itsar yakni tidak saling bertengkar, tidak saling memusuhi, tidak saling memerangi. □□

Tuesday, May 7, 2019

Belajar Dari Terjadinya Sejarah





KATA PENGANTAR

A
pa yang dimaksud dengan sejarah? Secara umum, pengertian sejarah adalah suatu peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lalu dan dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan archeology (seseorang yang mempelajari sejarah manusia dan prasejarah melalui penggalian situs dan analisis artefak dan fisik lainnya pada masa itu), catatan-catatan tertulis dan foto-foto serta gambar-gambar perjalanan atau peristiwa-peritiwa suatu bangsa.


Definisi sejarah dapat juga diartikan sebagai suatu cabang ilmu yang melakukan kajian secara sistematis mengenai seluruh perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat yang terjai di masa lalu.

Dalam sejarah, ada 3 aspek yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya, yaitu: Masa Lalu, yaitu gambaran mengenai kehidupan manusia dan kebudayaannya di masa lampau. Melalui gambaran masa lalu maka generasi berikutnya akan dapat merumuskan hubungan sebab akibat terjadinya suatu peristiwa. Dan tidak semua peristiwa atau kejadian dapat tercatat dalam sejarah. Masa Kini, yaitu masa dimana manusia mengalami masa yang terbaru dan merupakan masa yang sangat penting karena dapat menentukan masa depan. Manusia di masa kini memakai sumber pemahaman dari peristiwa di masa lalu sebagai cerminan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masa Depan, yaitu masa yang akan datang dimana segala sesuatu itu belum terjadi, dan segala sesuatu yang dilakukan pada masa kini akan mempengaruhi masa depan. Sejarah bukan terjadi dengan dengan sendirinya, melainkan dibuat oleh para pelaku sejarah dalam suatu peridode masa tertentu.

Pembahasan tajuk seperti diatas dibagi dalam 5 pasal sebagai berikut (1) Kewaspadaan Dalam Menjalani Sejarah; (2) Sejarah Jatuhnya Suatu Peradaban; (3) Mengubah Jalannya Sejarah; (4) Kesimpulan; (5) Penutup.



BELAJAR DARI TERJADINYA SEJARAH
Oleh: A. Faisal Marzuki


“innallāha lā yughoyyiru mā biqaumin hattā yughayyirū mā bianfusihim” Artinya: Sesungguhnya Allah Tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (bangsa) sebelum mereka (bangsa itu) mengubah keadaan diri mereka (anak-anak bangsa itu) sendiri (melakukannya). [QS Ar-Ra’d 13:11]

“lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat.” Artinya: Dia (manusia) mandapat (pahala, kebahagian hidup) dari kebajikan yang dikerjakan - sebagai agents of development, dan sebagai agents of change, dan dia (manusia) mendapat (dosa, kesengsaraan hidup) dari (kejahatan, kerusakan) yang diperbuatnya. [QS Al-Baqarah 2:286]

Perkembangan sejarah masa berikutnya tergantung kepada bagaimana generasi pelanjut mempersiapkannya.


KEWASPADAAN DALAM MENJALANI SEJARAH

R
asulullah SAW bersabda yang artinya: "Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar (agent of developments dan agent of changes), maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah."

"Hampir tiba suatu masa dimana berbagai bangsa/kelompok mengeroyok kamu, bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka." Seorang sahabat bertanya: "Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?" Nabi SAW menjawab: "(Tidak) Bahkan jumlah kamu pada hari itu sangat banyak (mayoritas), tetapi (kualitas) kamu adalah buih, laksana buih di waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan menanamkan penyakit "al wahnu". Seorang bertanya, "Apakah al-wahnu itu Ya Rasulallah?" Rasulullah menjawab: "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud).

Beberapa ayat al-Qur'an memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Qur’an ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang dapat menghancurkan peradaban mereka.


Allah SWT berfirman yang artinya: "Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri" (QS Al A'rāf 7:96)

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa. (QS Al-An'ām 6:44).

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al-Isrā' 17:16)

Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal: (1) sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur'an surat At-Taubah ayat 24. (2) tindakan elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah tampak dominan adanya para pembesar, tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah, atau siapa pun saja yang bermewah-mewah dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT Rasulullah SAW berkata yang artinya: "Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri." (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam hal ini pengertiannya adalah adalah sebagai kisah nyata sebagai berikut: Suatu waktu datanglah Tan Malaka tokoh di Sumatera Barat yang ikut merintis perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari tangan Hindia Belanda. Tahun 1940-an menyisiplah beliau dari perjalanan luar negerinya ke kota Padang memasuki rumah seorang tokoh perjuangan perintis kemerdekaan - Marzoeki Jatim atau ditulis juga dengan ejaan baru Marzuki Yatim.

Yang satu Tan Malaka seorang Muslim partainya Murba aliran pemikiran kebangsaannya menggunakan Karl Marx dan Friederich Engels (Materialisme Dialektika Logika- Madilog). Marzuki Yatim seorang Muslim aliran pemikiran kebangsaannya Islam dari organisasi Muhammadiyah.

Bertanyalah Tan Malaka kepada Marzuki Yatim: “Dia (perempuan) suka Saya, kenapa agama Islam melarangnya. Sama-sama suka (tidak dipaksa) - tanpa nikah. Pendek saja jawaban Marzuki Yatim: “Kalau sistim ini di berlakukan untuk umum, seluruhnya berbuat seperti itu - tanpa nikah, dimana tanggung jawab nafkah hidup seperti makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan perkembangan jiwa anak menjadi tanggung jawab orang tua - bagaimana jadinya (peradaban) dunia?” “Oh Angku Marzuki, sudah saya cukup mengerti sekarang, terima kasih atas jawabannya” Kata Tan Malaka, kemudian Tan Malaka pamit.


SEJARAH JATUHNYA SUATU PERADABAN

D
alam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. "Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS An-Nahl 16:36)

Sebagai misal, Kaum 'Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: "Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?" (QS Fushshilat 41:15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir'aun, Namrudz, dan sebagainya.

Di masa Rasulullah SAW, kaum Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS At-Taubah 9:25).

Sejarah juga mencatat, bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan selama 800 tahun (711-1492) dapat dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di Spanyol. Yang terpenting adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma'mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya. [2] Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah tetapi dapat mengalahkan kaum Muslim yang mayoritas.

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu dan Nusantara. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau peradaban seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah ditemukan dalam wilayah peradaban Melayu dan Nusantara? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara menghindarkannya?


MENGUBAH JALANNYA SEJARAH

Y
ang jelas, jatuh bangunnya suatu peradaban, pada dasarnya tergantung pada kondisi manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban adalah disebabkan oleh tindakan mereka sendiri, yang menciptakan "kondisi layak kalah" (al-qabiliyyah lil-hazimah). Allah SWT menegaskan yang artinya: "Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS al-Anfāl 8:53).

Sebuah buku yang bertajuk “Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza 'Ādat al-Quds” karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. [2] Buku ini menarik, terutama dari sudut pandang kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, adalah yang mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.

Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun. Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187. [3]

Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang "turun dari langit". Tetapi, dia adalah produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh.

Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan cara berfikir hidup kemasyarakatannya. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain. Kata penulis buku ini.

"Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh." [4]

Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan kondisi umat secara mendalam, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenahi pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya' Ulumuddin. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu sendiri) dan jihad melawan musuh dalam bentuk 'qital' (qital dalam Al-Qur'an lebih banyak berarti peperangan dalam arti fisik, ketika umat Islam diserang atau terdesak, mereka diharuskan untuk mempertahankan diri dengan cara qital, berperang semaksimal dan seprofesional mungkin) dengan baik.
 
Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu dengan "Kitabul Ilmi" dan sangat menekankan pentingnya aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar'. Aktivitas "amal ma'ruf dan nahi munkar", kata al-Ghazali, adalah kutub terbesar dalam urusan agama - 'amar ma'ruf (agents of development), nahi munkar (agents of changes). Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar' hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan. [5]

Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar. Tentu, tahap kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?

Rasulullah SAW bersabda: "Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Qur'an." (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehansif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya' Ulumuddin, dengan makna "Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama". Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya.

Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad SAW memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah SAW mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah SAW yang artinya:

Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su', atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang keilmuan harus mendapatkan perhatian dari umat Islam. Apalagi jika kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin umat. [6]


KESIMPULAN

D
ari hasil kajiannya terhadap gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan, bahwa yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. Firman Allah SWT menyebutkan yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (QS Ar-Ra'd 13:11).

Nabi SAW juga menyatakan yang artinya: "Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb." (HR Muslim).

Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan. [7]

Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam Indonesia melakukan introspeksi terhadap kondisi pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. Harus dilakukan evaluasi total terhadap kondisi internal umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit yang sangat membahayakan umat dan telah menghancurkan umat terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan ilmu. Introspeksi dan koreksi internal ini jauh lebih penting dilakukan dibandingkan meneliti kondisi faktor eksternal, sehingga 'kondisi layak terbelakang dan kalah' (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa dihilangkan. 

Kita bisa melakukan evaluasi internal, apakah para elite dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah menerapkan profesionalitas dalam pendidikan mereka? [8] Apakah tradisi ilmu dalam Islam sudah berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru bidang keislaman? Apakah konsep ilmu dalam Islam sudah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam? [9] Apakah para pelajar mencari ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah? Apakah budaya kerja keras dan sikap 'zuhud' terhadap dunia sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah (fanatisme kelompok) masih mewarnai aktivitas umat? Pada tataran keilmuan, bisa diteliti, apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara benar dan bermutu tinggi pada setiap bidang keilmuan? 

Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai potensi umat, dan waktu yang panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi kondisi internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa diteladani oleh umat manusia.

Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas 'Salahuddin al-Ayyubi'. Dan ini tidak mungkin terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia – terutama lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya – amat sangat serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah): berilmu tinggi dan beraklak mulia, yang mampu membawa panji-panji Islam ke seluruh penjuru dunia.


PENUTUP

J
ika generasi baru - seperti yang dimaksudkan dalam tulisan ini - telah lahir, maka akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah terjadi di masa-masa lalu. Yaitu terjadinya bentuk peradaban yang “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofūr”, dari firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā ketika menyebut Negeri Saba’ yang pada waktu itu indah dan subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang mereka terima,  [10] insyā Allāh. Wallāhu A'lam. Billāhit taufiq wal-Hidāyah. □ AFM



CATATAN KAKI:
[1] S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, (Pakistan: S.M. Shahabuddin,1969), 321-323.
[2] Judul dalam bahasa Indonesia adalah Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina (diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dan Amaluddin, Lc, MA). (Bekasi: Kalam Aulia Mediatama, 2007).
[3]  Lihat juga Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives, (Edinburg:Edinburg University Press, Ltd., 1999), 112-131. Hillenbrand mencatat tentang diskursus "the greater jihad" (jihad al-nafs) di masa Perang Salib: "The concept of the spiritual struggle, the greater jihad, was well developed by the time of the Crusade and any discussion of jihad in this period should always take into account the spiritual dimension without which the military struggle, the smaller jihad, is rendered hollow and without foundation." The twelfth-century mystic 'Ammar al-Bidlisi (d. between 590 and 604/1194 and 1207) analyzed the greater jihad, declaring that man's lower soul (nafs) is the greatest enemy to be fought." Abu Shama speaks of Nur al-Din in just these terms: "He conducts a double jihad against enemy and against his own soul." (hal. 161).
[4] Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, hal. 78-79. Dalam bukunya, al-Kilani mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya kondisi umat Islam saat itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan saat istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim, sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru berkata: "Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa', sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya." (hal. 49-65). 
[5] Allah SWT berfirman, yang artinya: "Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS al-Maidah: 78-79). Jadi, karena tidak melarang tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga memperingatkan: "Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya." (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga, sabda beliau saw: "Hendaklah kamu menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).
[6] Uraian lebih jauh tentang al-Ghazali dan Perang Salib, lihat Adian Husaini, Hegemoni Kisten-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: GIP, 2006), bagian Mukaddimah. Lebih jauh tentang bahaya kerusakan ilmu bisa dilihat, pada Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).
[7] al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, 6-7. (Sebagai perbandingan, tidak kalah pentingnya jika kita mengkaji kesuksesan penyebaran dakwah Islam di wilayah Nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Para juru dakwah adalah para wali atau ulama yang bekerja keras dalam mengubah kondisi masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim, sehingga berdirilah berbagai kerajaan Islam di wilayah ini. Maulana Malik Ibrahim, misalnya, diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun 1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, adalah santri dari Sunan Ampel, yang tak lain adalah putra dari Maulana Malik Irahim. Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981).
[8] Secara umum, kondisi buku-buku Pelajaran Agama di sekolah saat ini masih banyak mengandung kelemahan dan kekeliruan. Sekedar contoh, sebuah buku Pendidikan Agama Islam untuk kelas 2 SMA keluaran sebuah penerbit di Bandung, justru merendahkan prestasi keilmuan para ulama di wilayah Nusantara: "Dapat dikatakan, bahwa ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada masa itu, hanyalah ilmu tasawuf dan tarekat, disamping ilmu fiqih dan tauhid sebagai sekedar pelengkap ibadah semata. Para tokoh dan ulama yang muncul pada masa itu juga hanya ulama-ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Hampir tidak ditemukan nama-nama ulama fiqih, hadits, tafsir, dan yang lainnya, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Di Aceh dan Sumatera misalnya, muncul beberapa ulama nusantara kenamaan, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Abdurrauf Singkel, Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Abdusshamad Al-Falimbani yang nota bene semua adalah ulama tasawuf dan tokoh tarekat tertentu. Di Jawa juga muncul beberapa ulama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Siti Jenar dengan kelompok wali songonya, yang juga dapat dikatakan sebagai tokoh tasawuf dan penganut tarekat tertentu. Begitu juga di Sulawesi dan Kalimantan, terdapat nama-nama besar ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Misalnya, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah belajar cukup lama di kawasan dunia Islam, dan pulang ke tanah air sebagai tokoh tasawuf dan tarekat."
[9] Salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah terjadinya hegemoni konsep keilmuan Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi. Lebih jauh tentang fenomena ini lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal (Jakarta: GIP, 2005) dan Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).
[10] Allāh ‘Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr”. [QS Saba' 34:15]

 

SUMBER BAHAN PENULISAN:
http://sejarah-indonesia-lengkap.blogspot.com/2015/12/sejarah-peradaban-islam-di-dunia.html
Dan sumber bacaan lainnya. □□□