Thursday, February 28, 2019

Panorama Danau Maninjau




PENDAHULUAN

D
anau Maninjau merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera dari letusan besar gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km3 material piroklastik. Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatera yang bernama gunung Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding.

Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai ketinggian 459 m dari permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m. Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan. □



PANORAMA
DANAU MANINJAU


Saya sangat terkesan dengan negeri kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu.” [Buya HAMKA]


D
anau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel (Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.

Untuk mencapai Danau Maninjau ini, Anda bisa melalui dua jalur, dari arah utara dan selatan. Jika dari selatan, melewati Kabupaten Padang Pariaman. Dari Kota Padang ke Maninjau sekitar 140 km.

Kalau melewati Kota Bukittinggi, Anda akan melalui jalan berkelok-kelok yang terkenal dengan nama Kelok 44, sepanjang sekitar 10 km jika mengambil jalur utara.

Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.


KELOK 44

K
elok 44 adalah kelokan yang terdapat di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Kelok 44 merupakan daerah perbukitan berada di di atas Danau Maninjau yang dilingkari jalan yang berkelok-kelok dilerengnya. Kelok 44 merupakan tikungan berjumlah 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluh Ampek.


Setiap kelokan memang patah. Setiap kelok itu diberi nomor berurut. Sepanjang perjalanan dari bukit tinggi menuju danau ini, para wisatawan akan disuguhin pemandangan yang sangat indah berupa sawah-sawah yang berbentuk susunan-tangga, pancuran-pancuran air dari sungai yang bertingkat-tingkat, serta hijaunya deretan Bukit Barisan.

Kelok 44 juga merupakan ikon dalam balap sepeda Tour de Singkarak. kemudian di bagian bawah kelok 44 ini terdapat keindahan objek wisata Danau Maninjau. Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.


PUNCAK LAWANG


U
ntuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan yaitu Kelok 44. Puncak Lawang merupakan nama suatu puncak dataran tinggi di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Dari tempat ini, kita bisa meihat birunya Danau Maninjau. Puncak Lawang terletak di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ini daerah puncak menuju Danau Maninjau. Dari sini kita dapat melihat pemandangan Danau Maninjau secara utuh.

Puncak Lawang berada di 1.210 mdpl. Di zaman penjajahan, tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan bangsawan Belanda. Puncak Lawang sering digunakan untuk kejuaraan olahraga paralayang kelas internasional karena merupakan salah satu spot terbaik di Asia Tenggara.


PENUTUP

M
engunjungi Ranah Minang tanpa mengunjungi Danau Maninjau ini, rasanya tidak lengkap. Inilah magnet keindahan luar biasa, khas alam Sumatera yang memukai para pecinta alam. Salah satunya adalah Danau Maninjau yang amat indah.

Selain itu, danau ini juga dijuluki Danau Terhening di Indonesia. Di sinilah kita bisa menikmati keheningan permukaan danau dan gunung-gunung yang mengitarinya, juga balutan rumah-rumah adat minang yang atapnya menjulang. Luasnya yang mencapai 100m2 membuat danau ini menjadi keajaiban alam yang begitu luar biasa dan sangat tepat untuk dijadikan tempat menenangkan diri.

Dari kelok 44, terlihat pesona danau Maninjau yang begitu anggun,  terutama terlihat dari di Puncak Lawang -sebaiknya mampir disini- terlihat sekeliling danau dan barisan bukit berdiri tegak yang diliputi hijau nan cantik. Tampak panorama danau dengan nuansa kebiruan berpayungkan langit yang dipenuhi gumpalan awan yang bergerak teratur.

Sesekali perlambatlah laju kendaraan untuk sekedar menikmati panorama dari atas, sungguh damai rasanya. Tak cukup dengan danaunya yang menawan, persawahan padi di sekelilingnya juga menambah keanggunan danau kebanggaan Indonesia ini.



Danau ini meninggalkan bekas yang dalam di memori. Setiap kali mengingatnya, mendatang kerinduan yang dalam. Kabarnya begitu pula dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno saat berkunjung ke sana, pun terpesona dengan keindahan danau vulkanik itu. Untuk mengungkapkan kekagumannya tersebut ia menulis sebuah pantun yang berbunyi: “Jika makan arai Pinang, makanlah dengan sirih yang hijau; Jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”. Pantun yang ditulis oleh Presiden pertama RI ini, cukup mewakili untuk menggambarkan keindahan panorama alam Danau Maninjau nan eksotis. Buya Hamka yang lahir dan dibesarkan di Maninjau dalam buku Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka, mengatakan: Saya sangat terkesan dengan negeri kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu.” Subhanallah!

Kebesarannamanya, keanggunannnya, dan keheningannya membuat dorongan ingin selalu kembali visit ke Selingkar Danau Maninjau. Billahit Taufiq wal-Hidayah. AFM


Saksikan pula video PANORAMA (klik--->) KELOK44; (klik--->)  PUNCAK LAWANG; (klik--->) DANAU MANINJAU.


Sumber:
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2019/02/wisata-linggai-danau-maninjau.html
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/07/maninjau-negeri-para-inspirator-dan.html
https://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2019/02/menikmati-pesona-danau-maninjau.html
PANORAMA KELOK 44
https://www.youtube.com/embed/YNt9gyQ0iJY
PANORAMA PUNCAK LAWANG
https://www.youtube.com/embed/itrNI9I9L94
PANORAMA MANINJAU
https://www.youtube.com/embed/MLMMQZ7aesc  □□