Friday, July 21, 2017

Misykat Golakan Pemikiran Konsep Hidup Dunia





Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya (6) ; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7). [QS Al-Fatihah 1:6,7]


Pendahuluan


K
etika membaca Misykat karya ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkayi yang lulusan Gontor, (studinya dilanjutkan) lulusan dari Pakistan, (studinya dilanjutkan) lulusan dari Inggris, dan (studinya dilanjutkan) lulusan dari Malaysia, saya perlahan bisa mengerti dan memahami mengenai Liberalisme, Pluralisme, Westernisasi dan istilah-istilah lainnya dengan mudah. Bahasa yang digunakan beliau pun tidak terkesan menggurui, mengalir bagai air, apalagi ditambah lagi dengan pengalaman-pengalaman pribadi beliau, semakin menambah wawasan para pembaca mengenai topik tersebut, apalagi saya lebih senang saat membaca suatu buku jika dilengkapi dengan kisah-kisah atau pengalaman pribadi penulis, buku menjadi semakin interaktif.

   Lemahnya kita umat Islam dalam menghadapi barat dan agen-agennya di Indonesia (sebut saja JIL, dll) adalah kurangnya wawasan, bacaan dan ilmu. Sehingga banyak di antara kita yang hanya bisa melawannya dengan cercaan, hinaan bahkan aktivitas fisik, sehingga makin menguatkan argumentasi mereka bahwa kita adalah penganut paham kekerasan. Padahal jika menguasai ilmunya kemudian dituliskan dalam bentuk buku, plus pernah kuliah di Eropa, mereka aktivis yang sangat terpesona dengan paham-paham yang lahir dari Barat akan kejang-kejang, marah-marah bahkan protes. “Bilang sama Mas Hamid”, kata seorang kawannya dalam sebuah milis, “dulu di Birmingham dia nyantri dengan para orientalis, sekarang dia mencela dan mengkritik orientalis. Jangan seperti kacang lupa pada kulitnya.” Ternyata mereka (yang memprotes buku Misykat) yang (ia) sering mengatakan Islam, MUI, al-Qur’an anti di kritik bila dikritik, padahal mereka sendiri anti di kritik, ini yang namanya standar ganda.

   Saya juga pernah membaca Catatan Pinggir, tulisan Goenawan Mohamad di majalah Tempo, jujur saya terpana dan terpukau, karena memang asyik membacanya. Ustadz Cholis Akbar, redaktur pelaksana Hidayatullah.com, dalam komentarnya mengenai buku ini mengatakan, saat membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, mendapatkan informasi, tetapi saat membaca Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi selain mendapatkan informasi, kita juga mendapatkan ilmu plus meneguhkan keyakinan. Itu juga yang saya alami, kebanggaan akan agama Islam (yang sangat baik) ini semakin bertambah.

   Para pemuda Islam wajib membaca buku ini, untuk menambah khazanah dan perbendaharaan akan keterkaitan antara Westernisasi, Liberalisasi dan Islam. Agar kita tak mudah dikelabui oleh mereka yang ngaku lulusan pesantren, bisa baca kitab kuning terus lanjut “belajar” Islam di Barat, dan sering menggunakan bahasa-bahasa tingkat tinggi. Kata ustadz Bachtiar Natsir, Sekjen MIUMI dalam sambutannya untuk buku ini, “kemajuan dunia Barat sebenarnya telah menyilaukan (mereka) kaum lemah pemikiran, lemah aqidah dan lemah wawasan.”

   Kita boleh kagum pada sisi kedisiplinan, teknologi dan tradisi keilmuan dunia Barat, tetapi tidak untuk aspek pandangan hidup, moralitas, kemanusiaan, keluarga dan lain-lainnya. Karena sebenarnya mereka menjadi maju setelah meninggalkan Gereja dan agamanya, tetapi tidak dengan kita umat Islam.

   Kita akan jatuh, terbelakang dan menjadi bodoh saat kita meninggalkan Islam, dan akan maju dan jaya saat kita menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, seperti yang terjadi beberapa abad yang lalu. Mari kita perluas wawasan kita tentang Islam - apa lagi ditengah-tengah gemerlapan kehidupan dunia yang menyilaukan mata yang dapat merugikan dunia kita sebagai ladang ibadah menuju kehidupan sejati di akhirat. □


Latar Belakang Lahirnya Buku Misykat

T
ahun 1973, Cak Nur (Dr. Nucholish Madjid) menggebrak dunia pemikiran Islam Indonesia dengan gagasan yang menggoncang nalar umat: Islam perlu disekularisasi. Saat itu, 3 Januari 1973, Cak Nur memaparkan makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.”

   Dalam disertasinya di Monash University Australia – yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul “Gagasan Islam Liberal di Indonesia” (1999) – Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish dihadapkan pada satu dilema dalam tubuh umat.

Di satu sisi, menurut Nurcholish, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru, namun di sisi lain, arah baru tersebut berarti menimbulkan perpecahan dan mengorbankan keutuhan umat. Kata Cak Nur dalam makalahnya: “… pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan.

Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam” yang ada sekarang ini...”

   Menurut Nurcholish Madjid, ada tiga proses yang harus dilakukan dan saling kait-mengait: (1) sekularisasi, (2) kebebasan intelektual, dan (3) ‘Gagasan mengenai kemajuan’ dan ‘Sikap Terbuka’. Jadi, Nurcholish Madjid sendiri pada tahun 1970 sudah menggunakan istilah ”liberalisasi” untuk proyek Pembaruan Islam-nya. Karena itu, bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia, secara sistematis di mulai pada awal tahun 1970-an.

   Selama empat dekade, gagasan Nurcholish Madjid terus dipertahankan. Sebagian, bahkan mensakralkan gagasan sekularisasi. Sudah banyak ulama dan cendekiawan Muslim mengkritisi gagasan sekularisasi. Mohammad Natsir, Prof. HM Rasjidi, Endang Saefuddin Anshari, Ridwan Saidi, Abdul Qadir Djaelani, adalah diantara sederet tokoh dan cendekiawan Muslim yang secara tajam mengkritisi gagasan sekularisasi Cak Nur. Puluhan cendekiawan lain pun telah angkat pena secara tajam.

   Kritik tajam, mendasar, dan sistematis terhadap gagasan sekularisasi telah diberikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melalui bukunya, Islam and Secularism, sejak awal 1980-an. Tahun 2010, Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A., guru besar Universitas Islam Negeri Yogyakarta menerbitkan bukunya yang berjudul Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu Sekularisasi dalam Islam. Tahun 1995, Faisal Ismail, menyelesaikan S-3 di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada.

   Meskipun sudah begitu banyak cendekiawan yang mengkritisi Nurcholish Madjid, tetapi nama dan pemikiran Cak Nur tetap saja dikibarkan dan disakralkan. Berbagai acara ritual tahunan bahkan digelar untuk mengenang dan melestarikan gagasannya. Karena merupakan alumnus Pesantren Modern Gontor Ponorogo, nama Cak Nur terkadang diidentikkan dengan Pesantren Gontor Ponorogo.

***

J
ika ditelaah, gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid memang mengadopsi pemikiran sekularisasi dalam dunia Kristen yang sebelumnya sudah dilontarkan oleh Harvey Cox melalui buku terkenalnya, The Secular City. Menurut Cox, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).

   Pengaruh buku Harvey Cox ini sangat besar, melintasi batas-batas negara. Di Yogyakarta, sekelompok aktivis yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group di bawah bimbingan Mukti Ali, sangat terpengaruh oleh “The Secular City” nya Harvey Cox. Diantara sejumlah aktivis dalam diskusi itu adalah Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib. (Lihat, Karel Steenbrink, “Patterns of Muslim-Christian Dialogue in Indonesia, 1965-1998”, dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today, (Leuven:Peeters, 2000), hal. 85).

Dalam artikelnya tersebut, Steenbrink menggunakan redaksi “The book The Secular City by Harvey Cox had a great impact in these young students.” Dalam Catatan Hariannya, Ahmad Wahib menulis: “Sejauh yang aku amati selama ini, agama terjadi telah kehilangan daya serap dalam masalah-masalah dunia. Petunjuk-petunjuk Tuhan tidak mampu kita sekularkan. Padahal, sekularisasi ajaran-ajaran Tuhan mutlak bagi kita kalau kita tidak ingin sekularistis.” Wahib adalah anak asuh Romo Willenborg dan Romo H.C. Stolk SJ. (Lihat, Djohan Efendi & Ismet Natsir Ahmad (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, (Jakarta: LP3ES dan Freedom Institute, 2003, cet ke-6), hal. 37-41, 79).
 
   Tetapi, gagasan Cox ketika itu belum terlalu berkembang. Ahmad Wahib hanya menulis catatan Harian yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku selepas meninggalnya. Djohan Effendi pun tidak terlalu kuat pengaruhnya. Pengaruh Cox baru tampak jelas pada pemikiran Nurcholish Madjid yang ketika itu menjadi ketua umum satu organisasi mahasiswa Islam.

   Sejak awal mula, pemikiran Nurcholish Madjid ini menimbulkan kehebohan. Meskipun pernah dijuluki sebagai “Natsir muda”, tetapi Mohammad Natsir sendiri mengaku kecewa dengan gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid. Dilaporkan, dalam sebuah pertemuan di kediamannya, pada 1 Juni 1972, M. Natsir mengungkapkan kerisauannya akan gagasan Pembaharuan yang ingin “menjauhkan diri dari “cita-cita akidah dan umat Islam.” (Lihat, Muhammad Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim (Ciputat: Lingkaran Studi Indonesia, 1987), hal. 155-156. Buku ini diterjemahkan oleh Ahmadie Thaha, dari judul aslinya “Muslim Intellectual Response to “New Order” Modernization in Indonesia, yang merupakan disertasi doktor Kamal Hassan di Columbia University, AS.

   Respon yang sangat keras terhadap gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid juga diberikan oleh tokoh DDII, Prof. Dr. HM Rasjidi. Tahun 1972, Rasjidi menulis buku Sekularisme dalam Persoalan Lagi: Suatu Koreksi atas Tulisan Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: Jajasan Bangkit). Setahun kemudian, Rasjidi kembali menulis buku berjudul Suatu Koreksi Lagi bagi Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: DDII, 1973).

   M. Natsir juga pernah memberikan pesan khusus kepada para cendekiawan Muslim Indonesia, seperti Amien Rais dkk., tentang bahaya sekularisasi: “Di tahun tujuh-puluhan kita ingat adanya” gerakan sekularisasi” dalam rangka apa yang mereka sebut “pembaharuan” Islam. Demikian pula yang terjadi akhir-akhir ini, ada “reaktualisasi” ada ”kontekstualisasi”, dan sebagainya. Jadi memang ada usaha aktif.

   Proses sekularisasi ini amat nyata terutama dalam sistem pendidikan kita. Pelajaran atau pemahaman agama diberikan bukan saja dalam content yang terbatas, tetapi diberikannya pelajaran lain yang isinya mengaburkan atau bahkan bertentangan dengan tujuan mendidik manusia religius. Proses sekularisasi juga menggunakan jalur publikasi dan media massa. Baik dalam bentuk buku-buku maupun tulisan. Dalam kaitan ini saya mengajak pada para intelektual muslim khususnya untuk memikirkan bagaimana menghadapi arus sekularisasi ini, baik yang terjadi secara alamiah maupun yang disengaja.” (A. Watik Pratiknya (ed.), Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak (Jakarta-Yogya: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989).

***

K
ini, setelah empat dekade gelombang sekularisasi yang dimotori Cak Nur dan kawan-kawan digulirkan dan sebagiannya bahkan sengaja dilestarikan, -- atas kehendak dan izin Allah – tampillah sosok unik di pentas pemikiran dan dakwah Islam Indonesia, bahkan dunia internasional. Sosok itu adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

   Selama beberapa tahun terakhir, tampilnya putra pendiri Pesantren Gontor Ponorogo di pentas pemikiran Islam telah memberikan tawaran baru yang berlawanan dengan gagasan sekularisasi Cak Nur. Dr. Hamid F. Zarkasyi (Gus Hamid) bukan saja mengkritisi pemikiran Cak Nur, tetapi juga menawarkan gagasan besar yang sedang melaju kencang di dunia Islam, yaitu Islamisasi Ilmu.

   Selama tahun 2004, masyarakat sudah mulai mengenal pemikiran Gus Hamid melalui rubrik Prolog dan Epilog di Jurnal (Majalah) ISLAMIA. Dalam catatan Redaksi ISLAMIA, kolom Gus Hamid merupakan kolom yang paling banyak diminati pembaca.

Kemudian, sejak tahun 2009, INSISTS menjalin kerjasama degan Harian Republika untuk menerbitkan Jurnal Pemikiran Islam, Islamia-Republika, yang terbit bulanan, setiap hari Kamis pekan ketiga.

   Di Jurnal Islamia versi koran yang terbit empat halaman ini, Gus Hamid juga menulis kolom tetap yang diberi nama MISYKAT. Gagasan-gagasannya tentang de-sekularisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi, secara konsisten mewarnai berbagai tulisannya. Uniknya, kolom MISYKAT Gus Hamid di Harian Republika ini tercatat sebagai kolom yang paling diminati pembaca. Survei Litbang Harian Republika tahun 2010 menunjukkan, Jurnal Islamia-Republika, merupakan rubrik non-berita yang paling banyak dibaca oleh pembaca Republika.

   Tidaklah berlebihan jika dikatakan, bahwa saat ini, Gus Hamid merupakan salah satu dari deretan kolomnis terbaik saat ini. Dan kini, kumpulan artikel dan berbagai tulisannya yang tersebar di beberapa media, telah dihimpun dalam satu buku berjudul “MISYKAT: ISLAM, WESTERNISASI, DAN LIBERALISASI (JAKARTA: INSISTS, 2012).

   Membaca beberapa karya Gus Hamid, khususnya buku Misykat ini, tidaklah berlebihan jika kita berkesimpulan, bahwa Era Sekularisasi Nurcholish Madjid sudah memasuki masa senja. Kini, insyaAllah, dunia pemikiran Islam Indonesia sedang memasuki gairah dan era baru: Era Islamisasi Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

   Demikianlah sajian tajuk dari "Misykat Golakan Pemikiran Konsep Hidup Dunia" sebagai pengantar kepada pemikiran kontemporer Islam dalam menghadapi gelombang pemikiran barat tentang hidup. Dengan itu diharapkan kita dapat mendudukkan posisi keislaman kita ditengah gelombang hidup dunia. Gelombang kehidupan di dunia "yang hingar bingar informasi ini" jika tidak diwaspai dapat mengombang-ambingkan kita, setelah itu kehilangan arah, Kemudian tenggelam di jalan yang dimurkai-Nya dan di jalan yang sesat dari Jalan-Nya, naudzubillah min dzalik. Allāhu ‘Alam, bilLāhit Taufiq wal-Hidāyah.  □ AFM

Sumber:
abudarda-crb.blogspot.com yang mengangkat tulisan Dr. Adian Husaini dan sumber-sumber lainnya. □□□ 

Thursday, July 20, 2017

Sumbangan Islam Kepada Peradaban Barat







“Para arsitek yang merancang bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi adalah mereka para matematikawan yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengan itu komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Mereka para dokter yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk menyembuhkan penyakit. Mereka para astronom yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa” - mereka itu adalah para ilmuan dan penemu Muslim pada zaman kejayaan Islam di abad tengah. [Carli Fiorina, CEO dari Hewlett Packard produsen Industri komputer Amerika]


Pendahuluan

U
ntuk melihat watak atau karakteristik peradaban Islam, ada baiknya jika dilihat dari apa yang disumbangkan Islam kepada peradaban lain, khususnya Barat. Atau dengan perkataan lain apa yang dimanfaatkan peradaban lain dari Islam telah menunjukkan karakter peradaban Islam itu sendiri. Fakta sejarah membuktikan bahwa di Spanyol orang-orang Kristen tenggelam kedalam apa yang disebut sebagai Mozarabic Culture. Kultur Islam yang dominan inilah mungkin yang memberi sumbangan besar bagi lahirnya pandangan hidup baru di Barat. Morris menggambarkan bahwa kontak dan konflik antara Kristen-Yahudi dan Muslim memberi stimulus tidak saja kepada bangkitnya ideologi dan intelektualitas Eropa Abad Pertengahan, tapi juga imaginasinya. Maksudnya keingintahuan orang-orang Barat tumbuh ketika menyadari bahwa Muslim memiliki pandangan hidup yang canggih (sophisticated) dan ilmu pengetahuan yang kaya lebih dari apa yang terdapat di dunia Latin. Inilah yang sebenarnya terjadi.

   Dari perspektif teori terbentuknya pandangan hidup kita dapat menyatakan bahwa Spanyol adalah tempat dimana Barat menyerap aspirasi dari Muslim bagi pengembangan pandangan hidup mereka. Atau setidak-tidaknya, Barat memanfaatkan pertemuan mereka dengan Muslim untuk memperkaya pandangan hidup mereka. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Barat menempuh berbagai macam cara untuk mentransfer aspek-aspek penting pandangan hidup Islam yang berupa konsep-konsep itu. Jayusi mengkaji dan menemukan bahwa model transformasi kultur Islam ke dalam kebudayaan Barat ada lima:

● Pertama, melalui cerita-cerita dan syair-syair yang ditransmisikan secara oral oleh orang-orang Barat.

● Kedua, dengan cara kunjungan atau turisme, pada abad ke 7 M, Cordoba adalah ibukota negara Islam yang menonjol dan merupakan kota yang paling berperadaban di Eropa, dan karena itu orang Eropa berduyun-duyun mengunjungi tempat ini untuk belajar dari peradaban Islam.

● Ketiga, waktu itu terdapat hubungan perdagangan dan politik resmi melalui utusan yang dikirim dari kerajaan-kerajaan di Eropa.

● Keempat, dengan cara menterjemahkan karya-karya ilmiyah orang Islam. Faktanya, monastri-monastri Eropa, khususnya Santa Marie de Rippol, pada abad 12 dan 13 M memiliki ruangan penyimpan manuskrip bagi sejumlah besar karya-karya ilmiyah orang Islam untuk mereka terjemahkan.

● Kelima, untuk kelancaran proses penterjemahan raja-raja Eropa mendirikan sekolah untuk para penterjemah di Toledo, tepat sesudah pasukan Kristen merebut kembali kota tersebut pada tahun 1085. Tujuannya adalah untuk menggali ilmu pengetahuan Islam yang terdapat pada perpustakaan-perpustakaan bekas jajahan Muslim itu.

   Namun, kebangkitan Barat tidak terjadi langsung sesudah proses tranformasi tersebut di atas. Sebab tidak ada peradaban yang bangkit secara mendadak dan tiba-tiba, sekurang-kurangnya diperlukan waktu satu abad lamanya bagi suatu peradaban untuk bangkit. Islam sendiri bangkit menjadi sebuah peradaban yang memiliki konsep-konsep kepercayaan, kehidupan, keilmuan dan lain sebagainya sesudah beberapa abad lamanya. Dari awal kemunculannya pada abad ke 7 M, Muslim baru dapat dianggap sebagai peradaban yang kuat pada abad ke 10 M, di saat mana para cendekiawannya mampu menguasai ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan India, dan kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan baru yang telah disesuaikan dengan konsep-konsep penting dalam pandangan hidup Islam. Ilmu-ilmu yang dihasilkan di antaranya adalah matematika (termasuk mengganti angka Ramowi dengan “Arabic Numeral” yang jauh lebih bermanfaat untuk kemajuan Teknologi yang membekas sampai saat ini), kedokteran, farmasi, optik dan lain-lain. Ini bukan sekedar sistematisasi ilmu pengetahuan Yunani, seperti yang diduga para orientalis, tapi menyangkut hal-hal yang detail dan bahkan menghasilkan prinsip-prinsip baru dalam bidang sains, sehingga hasilnya sains dalam Islam yang – dalam bahasa Willian McNeil – “went beyond anything known to these ancient preceptors“.

   Dengan datangnya Islam yang menyatukan kawasan-kawasan Timur Dekat kedalam kekhalifahan Islam, kepeloporan di bidang sains berpindah ketangan orang-orang Islam dan bertahan hingga abad ke 12. Namun, menurut Ahmad Y al-Hassan, professor sains di Universitas Toronto, sains Islam masih berkembang dan Muslim masih menjadi pelopor sains pada abad ke 13 hingga ke 16, khususnya di negara-negara Islam bagian Timur. Sebab pada tahun 1259 di Maragha yang terletak di dataran tinggi di barat Maragheh, Propinsi Azerbaijan Timur didirikan Observatorium astronomi dan terus beroperasi hingga tahun 1304. Observatorium ini memiliki perpustakaan dengan 400.000 judul buku, dan didukung oleh para saintis yang mumpuni di bawah pimpinan Nayr al-Din al-Thusy. Mereka itu adalah QuÏb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, MuÍyi al-Din al-Maghriby dan lain-lain. Lembaga ini bukan hanya institusi pengkajian dalam bidang astronomi, tapi juga merupakan sebuah akademi yang memberi kesempatan untuk kerjasama dengan lembaga lain dan bertukar pikiran dengan saintis lain.

   Lebih canggih dari Maragha adalah observatorium yang didirikan di Samarqand,  Uzebekistan. Sponsornya adalah Ulugh Beg putra mahkota yang juga saintis. Observatorium ini selesai dibangun pada tahun 1420 dan terus beroperasi hingga tahun 1470 an. Kemudian observatorium ini dinamakan Obsrvatorium Ulugh Beg. Yang terlibat dalam pusat sains ini adalah ahli astronomi matematika terkenal Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan ‘Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir dalam Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595). Pendiri dan Direkturnya adalah Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy.

   Pusat-pusat kajian sains tersebut tidak bertahan lama karena pada abad-abad ke 12 hingga ke 15 keadaan ekonomi dan politik ummat Islam mulai melemah sehingga kerja saintifik kehilangan momentumnya. Dukungan moral dari masyarakat pun semakin mengecil. Al-Hassan berasumsi bahwa jika ummat Islam tidak kehilangan kekuatannya, dan jika ekonomi ummat Islam tidak rusak dan jika stabilitas politik tidak terganggu dan jika para ilmuwan itu diberi waktu lebih lama lagi untuk berkreasi, maka mereka akan berhasil melebihi apa yang dicapai Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton. Sebab model planetarium Ibn Shatir dan astronomer Muslim lainnya ternyata telah membuktikan adanya sistem heliosentris lebih dulu 200 tahun dari Cipernicus.


Sumbangan dan Peninggalan Karya Ilmuan Muslim Lainnya

A
l-Khawārizmī Bapak Aljabar (780-850). Buku pertama al-Khawārizmī bernama ‘al-Jabar’, atau dalam bahasa Inggris disebut ‘algebra’, sementara di sebagaian kawasan Asia Tenggara disebut ‘aljabar’.  Buku ini membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai ‘Bapak Aljabar’. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai ‘Sistem Penomoran Posisi Desimal’ di dunia Barat pada abad ke-12, yaitu dari angka huruf (angka Romawi) diganti dengan angka ‘Arabic Number’ atau ‘ Arabic Numerical’ yaitu angka seperti 1,2,3 sampai 9 dan 0. Ia juga merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata ‘Aljabar’ berasal dari kata ‘al-Jabr’, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata ‘algorisme’ dan ‘algoritma’ diambil dari kata ‘Algorismi’ yang merupakan Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol dengan sebutan ‘Guarismo’. Dan dalam bahasa Portugis disebut ‘Algarismo’, yang berarti digit. Berkat jasanyalah tekonologi computer lahir dizaman ini.

   Al-Jazari Bapak Robotik (1136-1206). Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad-12. Ia mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, pembangkit tenaga listrik air dan banyak lagi.

Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang pernah disusun oleh Al-Jazari.

Peradaban Islam di era keemasan telah menguasai teknologi yang sangat tinggi. Pada abad ke-13 M, dunia Islam sudah menggenggam teknologi robot. Insinyur Muslim di zaman kekhalifahan sudah mampu menciptakan robot mirip manusia. Pencapaian itu sekaligus mematahkahkan klaim Barat yang kerap menyebut Leonardo da Vinci sebagai perintis teknologi robot.

Da Vinci baru merancang pembuatan robot pada 1478, abda ke-15, itu pun baru berbentuk desain di atas kertas. Sedangkan, insinyur Muslim yang sangat brilian, Al-Jazari, sudah berhasil merancang dan menciptakan aneka bentuk robot pada awal abad ke-13 M. Atas dasar itulah, masyarakat sains modern menjulukinya sebagai “Bapak Robot”. Peradaban Islam lebih maju tiga abad dalam teknologi robot dibanding Barat.

Peradaban Islam adalah perintis dalam bidang teknologi automata (otomaton, automatic) yakni sebuah mesin yang dapat berjalan sendiri (self operating). Automata sering digunakan untuk menggambarkan sebuah robot atau lebih khusus robot autonomous. Kata automata berasal dari bahasa Yunani automatos, yakni berlaku atas kehendak sendiri, bergerak sendiri. Kata itu digunakan untuk menggambarkan mesin-mesin mechanical (non elektronic), khususnya yang dirancang untuk menyerupai gerakan manusia atau hewan.

   Ibnu al-Haitham Penemu Ilmu Optik (965-1040). Mungkin orang mengira dunia Barat-lah yang memperkenalkan kamera. Padahal prinsip kerja kamera telah ditemukan sekitar 1000 tahun silam oleh seorang ilmuwan Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10, al-Haitham menemukan sebuah "kamera obscura". Penemuan ini dia lakukan bersama muridnya Kamaluddin al-Farisi. Mereka berdua mempelajari fenomena gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena tersebut maka al-Haitham membuat lubang kecil yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan pada bidang datar. Kajian ilmu optik berupa kamera obscura. Kamera obscura diambil dari bahasa Italia “camera obscura” yang artinya kamar gelap (dark chamber). Kata “camera’ sendiri adalah dari bahasa yang dipergunakan Ibnu al-Haitham yang berbahasa Arab menyebutkan ‘qamara’ artinya kamar atau box. Kamera obscura, mendasari kinerja “qamara” dimana prinsip kerjanya ditemukan oleh Ibnu al-Haitham, prinsip mana digunakan oleh umat manusia sampai saat ini. Bahkan kemudian mengilhami penemuan alat teropong bintang, mikroskop, filem dan kamera digital. Hasil pemotretan kamera digital ini bukan lagi disimpan di filem tapi di memory card.

   Al-Zahrawi Bapak Ahli Bedah (936-1013). Nama Al-Zahrawi dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Abulcasis - sesuai dengan lidah Eropa, terambil dari nama awalnya, Abū al-Qāsim. Ia adalah seorang dokter Arab Muslim dan ahli bedah, tinggal di Spanyol Al-Andalus. Dia adalah seorang dokter, dan ahli bedah terbesar yang telah muncul dari Dunia Islam di abad pertengahan. Dia digambarkan sebagai “Bapak Ahli Bedah”. Disamping itu kontribusinya yang terbesar juga dalam bentuk obat-obatan, ditulis dalam Kitab al - Tasrif, dalam tiga puluh  jilid buku - ensiklopedia yang membahas praktek-praktek medis. Dia lah sebagai pionir dalam sumbangannya dalam bidang prosedur bedah termasuk menciptakan instrumennya. Penemuan instrumen alat-alat operasi ini memiliki dampak yang sangat besar di Dunia Timur dan Barat sampai abad modern, di mana beberapa peralatan penemuannya masih dipakai dalam dunia kedokteran sampai hari ini.

Dia adalah dokter pertama yang menjelaskan kehamilan ektopik (komplikasi kehamilan di mana embrio menempel di luar rahim), dan dokter pertama untuk mengidentifikasi sifat penyakit turun-temurun dari penyakit jenis hemofilia (penyakit darah).

   Ibnu Khaldu Bapak Ilmu Sosiologi dan Ekonomi (1332-1406). Salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: “Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama. ● Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim. ● Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah.  ● Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14.

Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-‘Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur. Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

“Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng.” Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Al-Muqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; “Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk sosial berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte, pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun.

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. “Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.

Keahliannya dalam sosiologi, filasafat, ekonomi, politik dan budaya, tampak jelas dalam buku ini. Pada saat yang sama, Ibnu Khaldun juga tampak sangat menguasai ilmu-ilmu keislamannya, ketika menguraikan tentang ilmu hadits, fiqh, ushul fiqh, dan lainya.

Salah satu teorinya tentang ekonomi, apa yang disebutkan dengan “Model Dinamika”. Teori tersebut memberikan pandangan jelas bahwa semua faktor-faktor dinamika sosial, moral, politik, dan ekonomi meski berbeda, tapi saling berhubungan satu dengan yang lainnya bagi kemajuan maupun kemunduran pemerintahan dan masyarakat dalam sebuah wilayah atau negara. Selain itu, Ibnu Khaldun juga telah menyumbangkan pemikiran tentang teori produksi, teori nilai, teori pemasaran, dan teori siklus yang dipadu menjadi teori ekonomi umum yang koheren yang disusun dalam kerangka sejarah.

Dalam soal politik, Ibnu Khaldun mengetengahkan teori tentang ashabiyah sebagai perekat hubungan politik antarwarga dalam sebuah negara. Dengan keluasan wawasan ini, wajar jika ilmuwan yang menulis tentang sosok Ibnu Khaldun, antara lain: Spengler yang menulis: Economic Thought of Islam: Ibnu Khaldun, Ahmad Ali menulis Economics of Ibnu Khaldun-A Selection, T.B Irving menulis Ibn Khaldun on Agriculture, dan masih banyak lagi literatur lainya.


Penutup


S
etelah Peradaban Islam berkembang tidak terlepas dari peranan para ilmuan yang. Selanjutnya Eropah telah terbuka akan kemajuan dunia Islam. Seterusnya Eropa dapat melihat manfaat dari perkembangan di dunia Islam. Kemudian mengambil pelajarannya. Pada waktu itu secara ekonomis mulai naik, bergiat mentransfer dan mengasimiliasi buku-buku filsafat dan sains dari orang Islam. Oleh karena itu tidak heran jika karya-karya ilmuwan Eropa Abad Pertengahan tidak lepas dari karya-karya terjemahan dari bahasa Arab. Maka dari itu sejarawan mencatat bahwa perkembangan Eropa Barat yang terjadi pada pertengahan abad ke 13 merupakan kombinasi elemen yang dinamakan Greco-Arabic-Latin. Meskipun begitu di Eropa nama-nama saintis Muslim tidak menonjol bahkan tidak banyak mereka sebut secara eksplisit. Yang pasti setelah mereka mentransfer filsafat dan sains dari Islam Eropa pada akhir abad ke 15 konsep-konsep mereka tentang alam semesta dan ilmu pengetahuan menjadi matang dan melapangkan jalan bagi perkembangan filsafat dan sains di Barat. Kristen di Barat menjadi kekuatan kultural yang menonjol, dan Eropa mencatat peristiwa sejarah yang disebut Revolusi Sains (Scientific Revolution). Itulah sumbangan penting peradaban Islam terhadap peradaban Barat.

   Meskipun demikian kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa karena konsep-konsep penting di dalam kebudayaan Barat itu hasil adapsi dari peradaban Islam, maka sekarang ini kita dapat mengambil kembali begitu saja konsep-konsep itu langsung dari Barat, tanpa proses. Sebab orang-orang Barat mengambil konsep-konsep itu dengan proses epistemologis yang panjang yang pada akhirnya menghasilkan konsep-konsep yang sudah tidak lagi dapat dikenali konsep aslinya, yaitu Islam. Hal yang sama dilakukan orang Islam ketika mengadapsi warisan Yunani. Professor Cemil Akdogan memberi contoh bahwa David Hume, yang meniru konsep dan pandangan al-Ghazzaly tentang hubungan kausalitas, ternyata memodifikasinya sehingga menjadi sekuler, dan hasilnya berbeda dari konsep al-Ghazali sendiri.

   Demikianlah sejarah peninggakan dan peran serta Peradaban Islam untuk dunia. Kemudian telah diserap dan bahkan dikembangkan lagi oleh dunia Barat. Barat kini sedang mewarnai dunia. Sejak kanak-kanak penulis sampai mahasiswa tidak begitu mengetahuinya sejauh mana peranan “agama” Islam untuk dunia, apa ada? Dengan uraian diatas pahamlah kita sekarang bahwa Islam telah ikut ambil bagian membentuk peradaban dunia. Hal ini hendaknya menjadi perhatian Generasi Muda Islam dan Genarasi Islam Selanjutnya bahwa peran Islam sebagai Rahmatan Bagi Alam Semesta (dunia) sungguh besar. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Bahan posting:

Diakses dari banihamzah.wordpress.com yang mengangkat tulisan Dr. Hamid Fahmi Zarkasi dan sumber-sumber tambahan lainnya dari afaisalmarzuki.blogspot.com□□□