Tuesday, February 19, 2019

Memahami Qalbu Dan Potensinya 1




KATA PENGANTAR

T
ema tulisan ini adalah “Memahami Qalbu Dan Potensinya - Bagi Keselamatan-Kesejahteraan Hidup Manusia Di Dunia dan Di Akhirat”. Kata “qalbu” berasal dari bahasa Arab ditulis “qalb” yang sering di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia: hati, artinya jantung. Makna jantung atau qalbu itu sendiri ada dua, fisik dan non-fisik. Qalbu tidak ditulis Kalbu, karena kata kalbu dalam bahasa Arab berarti makhluk khewan - anjing, maka dalam hal ini tetap dituliskan menggunakan huruf q (qaf).

Memahami qalbu ini sangat penting dan berguna, karena ada peringatan Allah SWT untuk mempelajari hal ihwal yang menyelamatkan kita dari neraka jahanam:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai jantung (qalb, qulūb, qalbu, sering disebut hati), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat- ayat Allah)……. (QS Al-A’rāf 7: 179)

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, mempunyai jantung (qulūb, akal) mereka dapat memahami (mana yang baik - membangun, dan mana yang buruk - merusak), telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata (al-abshār) itu yang buta, tetapi yang buta adalah jantung (qulūb, qalbu) yang di dalam dada (shudūr).” (QS Al-Hajj 22:46)

Jadi bahasan tema ini mewajibkan kita mengetahuinya mengingat hadits Nabi saw. Abu Nu’aym menceritakan bahwa Rasulullah saw berkata:
“Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah qalbu”. □





MEMAHAMI QALBU & POTENSINYA
BAGI KESELAMATAN-KESEJAHTERAAN HIDUP MANUSIA
DI DUNIA DAN DI AKHIRAT  (1)
Oleh: A. Faisal Marzuki



DAFTAR ISI:
BAGIAN 1
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN
FUNGSI JANTUNG (QALBU)
   KONSISTENSI BAHASA
   JANTUNG (QALBU) PUSAT KARAKTER
MEMAHAMI QALBU
   RUH


I. PENDAHULUAN

S
emua orang sudah tahu bahwa organ tubuh yang berfungsi untuk melihat, adalah mata. Begitu pula organ tubuh yang berfungsi untuk mendengar, telinga. Selanjutnya untuk mencium bau, hidung. Untuk mengecap dan mendeteksi rasa makanan, lidah. Untuk merasakan suhu panas atau dingin, kulit.

Namun satu hal, yaitu organ tubuh yang berfungsi untuk berfikir kebanyakan orang akan menjawab, otak sambil memegang kepalanya. Dan bila ditanyakan, apakah organ tubuh yang berfungsi untuk merasakan bahagia atau sedih? Biasanya sebagian tampak kebingungan, tidak ada organnya karena itu pekerjaan batin. Namun ada yang mengatakan hati-lah yang berfungsi untuk merasakan bahagia dan sedih, senang dan duka - sambil meletakkan tangan di dada. Organ yang terletak dalam dada itu bukanlah hati, melainkan jantung.

Telah terjadi kesalahan massal dalam memahami dan menggunakan kata “hati” dalam masyarakat kita, baik kalangan akademik atau terpelajar maupun awam. Kita sering keliru membedakan mana fungsi hati dan mana fungsi jantung. Kesalahan ini sepertinya berpangkal dari minimnya pemahaman mengenai fungsi jantung untuk manusia. Jantung, termasuk dalam pelajaran di sekolah, selama ini dipahami sebagai organ tubuh yang berfungsi untuk memompa darah dalam tubuh manusia.



II. PEMBAHASAN


FUNGSI JANTUNG (QALBU)

U
ntuk memiliki pemahaman yang utuh mengenai jantung, berikut ini adalah kesimpulan dari hasil kajian Dr. Abd Daim Kahil, seorang ilmuwan pengkaji mukjizat saintifik Al-Qur’an dari Syria. Setelah meneliti 70 referensi ilmiah mengenai  jantung, Kahil mencatat kesimpulan sebagai berikut:


  • Mulai abad 21 dan sejak perkembangan pesat bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung buatan, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan samar yang terjadi pada psikologis pasien setelah pencangkokan jantung. Kahil menyimpulkan bahwa jantung memiliki peranan vital dalam psikologis manusia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan psikologis pasien yang jantung aslinya diganti oleh jantung buatan.
  • Jantung tercipta mendahului otak, dan terus berdetak sampai akhir hayat.
  • Jantung berisi jaringan neuron yang rumit. Ia mengeluarkan hormon-hormon yang mengendalikan seluruh badan. Ia dapat mengingat, merasa dan mengendalikan emosi setiap detakannya dengan mengirim pesan-pesan ke otak dan semua organ-organ tubuh. Pesan-pesan ini tak lebih dari sinyal-sinyal elektromagnetik. Performa jantung dan sinyal-sinyal itu berubah sesuai status jantung. 
  • Banyak peneliti percaya bahwa jantung memimpin otak dan setiap sel jantung memiliki memori. Dr. Schwartz berkata bahwa sejarah manusia tertulis di dalam setiap sel tubuh manusia. Banyak peneliti yang juga yakin kalau sel-sel jantung menyimpan informasi.
  • Baru 30 tahun terakhir para peneliti menyadari adanya hubungan antara otak dan  jantung. Jantung memiliki peranan vital dalam pemahaman lingkungan sekitar. Jantung dapat mempengaruhi aktivitas listrik otak.
  • Dr. Armour berkata bahwa jantung memiliki sebuah sistem spesial dalam pengolahan informasi yang datang dari seluruh tubuh. Dan keberhasilan setiap pencangkokan  jantung bergantung dari sistem syaraf dari  jantung donor dan kemampuannya beradaptasi dengan pasien.
  • Prof. Gary Schwartz specialis kejiwaan di Universitas Arizona dan Prof. Linda Russek  yakin kalau jantung memiliki kekuatan khusus yang membuatnya dapat menyimpan dan mengolah informasi. Karenanya memori itu tidak saja ada di otak tapi juga di jantung. Prof. Gary melakukan penelitian yang melibatkan lebih dari 300 pasien yang melakukan operasi pencangkokan jantung. Dia menemukan kalau semua pasien itu mengalami berbagai perubahan psikologis setelah operasi.
  • Temuan menarik pada semua orang yang mengganti jantungnya dengan jantung buatan, mereka telah kehilangan perasaan dan kemampuan untuk mencinta. Pada 11/8/2007, koran Washington Post  memuat laporan tentang Peter Houghton yang melakukan operasi pencangkokan jantung buatan. Dia berkata: “Perasaanku telah berubah, saya tidak mampu mengetahui apa  yang saya benci dan apa yang saya cintai, bahkan saya tidak punya rasa apa pun kepada cucu-cucu saya.”
  • Dr. J. Andrew Armour memastikan adanya sebuah otak yang sangat rumit di dalam  jantung. Di dalam jantung kita terdapat lebih dari 40.000 neuron yang bekerja dengan presisi yang sangat tinggi untuk mengendalikan detak jantung, produksi hormon dan penyimpanan informasi. Selanjutnya informasi ini dikirim ke otak. Informasi ini memegang peranan vital dalam kesadaran dan pemahaman.
  • Peneliti memastikan bahwa informasi mengalir dari jantung ke dalam otak melalui jalur-jalur khusus, sehingga mengarahkan sel-sel otak agar dapat memahami dan menyadari. Sekarang ini, para ilmuwan bekerja membangun banyak pusat-pusat penelitian  yang mempelajari hubungan antara jantung dan otak dan hubungan antara jantung dan kecerdasan kognitif dan operasional psikologis.
  • Setelah melakukan banyak penelitian, Dr. Paul Pearsall berkata: “Jantung dapat merasa dan mengingat dan ia mengirimkan getaran untuk berkomunikasi dengan jantung-jantung lain. Ia juga membantu pengaturan imunitas tubuh. Ia juga mengirimkan informasi pada setiap detakan ke seluruh tubuh.” Beberapa peneliti bertanya: “Mungkinkah ingatan tetap di lubuk jantung terdalam?” Di dalam bukunya, Dr. Paul menulis: “Saat tiba-tiba Anda merasa gembira atau sedih, Anda menempelkan tangan di dada tanpa Anda sadari.”
  • Para peneliti memastikan jantung dengan pengaturan harmonisnya mengendalikan seluruh tubuh. Hal yang dianggap sebagai metode menghubungkan semua sel saat darah mengalir ke setiap sel kemudian memberi makan tidak saja dengan oksigen tapi juga informasi.
  • Di Heart Math Institute, mereka menemukan  jantung memiliki medan listrik yang kuat yang mempengaruhi lingkungan sekelilingnya. Karenanya manusia dapat berkomunikasi dengan yang lain dengan jantungnya tanpa berbicara. Mereka juga menemukan relasi antara pulsa jantung dan gelombang yang dipancarkan dari otak (gelombang alfa). Semakin banyak jantung berdetak semakin banyak gelombang ditransmit dari otak. Heart Math Institute  telah melakukan banyak percobaan untuk membuktikan jantung memancarkan getaran elektromagnetik yang mempengaruhi otak. Maka, jantung boleh jadi mempengaruhi kesadaran dan pemahaman manusia. Mereka juga telah menemukan bahwa jantung memancarkan medan listrik  yang kuat yang mengendalikan seluruh tubuh manusia.
  • Rollin McCraty dan Mike Atkinson melakukan penelitian yang dipublikasikan di pertemuan tahunan Pavlovian Society. Mereka menemukan adanya hubungan antara jantung dan kesadaran. Mereka membuktikannya dengan mengukur aktivitas elektromagnetik  jantung dan otak saat orang berusaha memahami sesuatu. Mereka menemukan bahwa saat performa jantung pada level rendah, kesadaran pun akan rendah.


Dari temuan-temuan ilmiah tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi jantung yang sesungguhnya adalah lebih dari sekadar memompa darah dan menyuplai oksigen, namun juga berfungsi untuk berpikir dan merasakan berbagai emosi yang terjadi dalam diri kita. Itulah karenanya, ketika kita merasa sedih, kecewa, marah, atau bahagia tanpa sadar tangan kita memegang dan mengelus dada, karena di dalam  jantung yang tersimpan dalam dada itulah segala perasaan bermuara.

Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, jawaban untuk pertanyaan; apakah organ tubuh yang berfungsi untuk merasakan bahagia dan sedih, adalah jantung, bukan hati. Hati yang terletak di sebelah kanan perut kita sama sekali tidak memiliki fungsi untuk berpikir dan merasa. Di sinilah terjadi kerancuan itu, kata yang dipilih adalah hati tetapi organ yang ditunjuk adalah  jantung, padahal keduanya jelas berbeda.


KONSISTENSI

Secara leksikal -makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus- dengan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi hati tidaklah merujuk pada jantung melainkan sebuah organ tubuh yang berwarna kemerahan  yang berfungsi untuk menetralisir racun dalam tubuh. Dan itulah organ tubuh yang bernama hati. Artinya menyebut hati sebagai organ yang berfungsi untuk merasa adalah kesalahan bahasa yang terlanjur menjadi ‘kesepakatan’ bangsa kita.

Bila dilakukan perbandingan dengan dua bahasa dunia lainnya, yaitu Arab dan Inggris, kerancuan seperti dalam bahasa Indonesia ini ternyata tidak terjadi dalam dua bahasa tersebut. Dalam bahasa Arab organ tubuh dalam dada yang bernama jantung itu disebut dengan nama qalb. Demikian pula ketika berbicara mengenai perasaan, untuk menyatakan hati senang misalnya diungkapan dengan fariha qalbi. Ini menunjukkan adanya konsistensi bahasa, baik secara fisik maupun psikis, sama merujuk pada satu organ tubuh yaitu qalb atau jantung.

Lebih menarik lagi, dalam Al-Qur’an sebagai rujukan kesahihan berbahasa Arab, bukan sekadar penyebutan organ tubuh pemompa darah dan oksigen itu dengan kata qalb, melainkan dari Al-Qur’an-lah sesungguhnya informasi pertama mengenai fungsi jantung untuk berpikir dan merasa didapatkan. Fungsi jantung yang mengejutkan para ilmuwan melalui temuan mereka di awal abad 21, sesungguhnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an 14 abad lalu. Bacalah surat Al-Hajj ayat 46 yang artinya:

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, mempunyai jantung (qulūb, akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata (al-Abshār) itu yang buta, tetapi yang buta adalah jantung (qulūb) yang di dalam dada (shudūr).”

Atau surat Al-A’raaf ayat 179 yang dengan jelas menjelaskan fungsi setiap indera yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai jantung (qalb), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat- ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Jelaslah bagaimana Al-Qur’an mengenalkan fungsi jantung yang sesungguhnya sejak ia diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu. Dari sini juga dapat diketahui kesalahan menterjemahkan kata qalb dalam Al-Qur’an dengan hati. Qalb dalam Al-Qur’an merujuk pada jantung bukan hati. Perbandingan lainnya dapat kita lihat bahasa Inggris. Jantung sebagai organ fisik vital manusia dalam bahasa Inggris disebut heart. Begitu pun untuk mengungkapkan perasaan batin digunakan kata yang sama. Misalnya don’t hurt my heart  dimaksudkan sebagai permohonan agar orang lain tidak menyakiti perasaan kita. Terlihat jelas bahwa terdapat konsistensi bahasa mengenai jantung dalam bahasa Inggris.


JANTUNG (QALBU) PUSAT KARAKTER

Dalam konteks pendidikan karakter, dapat disimpulkan bahwa sumber karakter adalah jantung manusia bukan hatinya. Maka pendidikan karakter harus dimulai dari bagaimana memperlakukan jantung dengan baik. Bila dalam Islam shalat dipahami sebagai salah satu ibadah yang memiliki kekuatan pengendalian diri dan pembentukan karakter, dapat dipahami di antaranya dari gerakan shalat yang sangat memuliakan jantung. Saat berdiri tegap dalam shalat, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menaruh kedua tangan di bawah dada sedikit (tahta ash-shadri qalilan). Dan itu adalah tepat pada posisi jantung. Maka dalam shalat jantung didekap erat agar hanya fokus kepada penciptanya, Allah SWT. Begitu pula dalam tawaf, bagian tubuh sebelah kiri di mana jantung berada menjadi tubuh yang paling dekat dengan Ka’bah, mengikuti arah kebalikan putaran jarum jam.


MEMAHAMI QALBU

L
ebih lanjut dalam kitabnya Al-Ghazali menguraikan perbedaan mendasar antara qalb (jantung, qalbu) dan hati (liver) yang oleh masyarakat kebanyakan dianggap sama. Begitu pula istilah qalb itu, seperti ruh, nafs, ’aql, shadr-shudūr, qalb, fu'ad-af'idah, dan albab-lubb yang masing-masing akan diterangkan. Sebagiannya dibahas dibagian ke-2.


RUH

Ruh dalam pemaknaan Al-Ghazali menyebutkan, bahwa dia adalah sesuatu yang abstrak - bukan bersifat material, yang bersemayam dalam rongga dada dimana di situ ada jantung biologis. Di dalam rongga ini mengalir melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, ke seluruh anggota tubuh. Adapun mengalirnya dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman ke dalam semua anggota badan.

Sedangkan makna yang kedua adalah bagian dari manusia yang bersifat lathīfah - unsur rohani yang paling dalam, yang juga memiliki kemampuan untuk mengetahui dan menyerap, sebagaimana ungkapan Allah dalam firman-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang ruh, katakanlah ruh itu termasuk amr - urusan Rabbku. Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit” (QS Al-Isrā’ 17:85)

Begitulah, ruh memang ciptaan Allah yang amat sangat menakjubkan, membuat kebanyakan akal dan pemahaman manusia tak berdaya meliputi pengetahuan tentang hakikatnya. [Bersambung ke-2]



Lanjut atau Kembali ke:     1      2

Sunday, February 17, 2019

Sastrawan Nur Sutan Iskandar




Kata Pengantar

T
ercatat sejumlah nama para inspirator dan pembaharu negara ini, lahir atau dibesarkan dari rahim nagari-nagari (sebutan desa atau kampung) di tepian danau Maninjau. Menyebut beberapa nama saja, misalnya DR. H. Karim Amarullah (pembaharu Islam Abad 19), Buya Hamka (ulama besar dan mantan Ketua MUI serta pahlawan nasional), Muhammad Nasir (mantan Perdana Menteri, Ketua Masyumi dan pendiri DDII), Isa Anshary (politisi muslim Masyumi).

Ada pula Buya AR Sutan Mansur (Ketua dan Tokoh Muhammadiyah), Muhammad Nazir (Laksamana TNI AL dan pendiri Akademi AL), Rasuna Said (tokoh pendidikan dan emansipasi wanita), R. St. Pamuntjak (diplomat ulung), Syafruddin Prawiranegara (mantan Perdana Menteri PDRI dan Menteri Keuangan), Marzuki Yatim (mantan Menteri), Kaharuddin (mantan Gubernur Sumbar) serta Nur Sutan Iskandar (sastrawan). Kali ini yang akan dibahas adalah Nur Sutan Iskandar seorang sastrawan, asal Nagari Sungai Batang, Maninjau.



SASTRAWAN NUR SUTAN ISKANDAR
Oleh: A. Fasial Marzuki


N
ur Sutan Iskandar, Sastrawan Minang, lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat, tanggal 3 Novenber 1893 dan meninggal di Jakarta tanggal 28 November 1975 pada umur 82 tahun. Ia adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka masa pemerintahan Hindia Belanda - zaman sebelum Kemerdekaan Indonesia.

Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya, Muhammad Nur mendapat gelar Sutan Iskandar ketika menikah. Kemudian dipadukan dengan nama aslinya, Muhammad Nur Sutan Iskandar. Namun lebih dikenal sebagai Nur Sutan Iskandar atau Nur St. Iskandar, sampai sekarang. Nur Sutan Iskandar lahir dan besar dalam lingkungan Islam.

Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu sekolah rakyat (desa, rendah) di Sungai Batang. Sebelumnya ia menempuh ujian guru bantu, tetapi tidak berhasil. Untuk itu, ia diminta oleh guru kepala untuk "magang" (kwrekeling) di sekolah itu sebagai pelatihan mengenali sekolah dan mengajar murid.

Tahun 1911 Nur Sutan Iskandar diangkat sebagai guru baru di Muara Bakti (Palembang). Tahun 1914 ia dipindahkan ke Padang dan mengajar di sekolah rendah kelas II.

Pada tahun 1919, Nur Sutan Iskandar hijrah ke Jakarta. Di sana beliau bekerja di Balai Pustaka. Pimpinan Balai Pustaka, Sutan Muhammad Zein, menugaskannya sebagai pengoreksi naskah karangan. Karena kecerdasannya, beliau kemudian berhasil lulus dari ujian KAE (Klein Amambtenaar Exam) pada tahun 1921, yaitu ujian khusus bagi orang Indo Belanda yang pernah  bertugas sebagai juru tulis di kantor pemerintah untuk dapat memperoleh jenjang jabatan yang lebih tinggi. Tiga tahun kemudian beliau juga mendapatkan ijazah dari Gemeentelijkburen Cursus (Kursus Pegawai Pamongpraja).

Kariernya di Balai Pustaka dimulai dari seorang korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (hoofdredacteur) dari tahun 1925 sampai tahun 1942. Pada tahun 1950 ia menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang karya asli ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle. Dia sudah menulis novel sejak tahun 1920-an. Sesuai dengan kecenderungan umum pengarang dasawarsa itu, Nur Sutan Iskandar amat tertarik pada permasalahan adat dan kaum muda, khususnya yang menyangkut perkawinan. Tiga novel novelnya yang terkenal adalah Abu Nawas, Hulubalang Radja dan Salah Pilih.

Selain itu, Nur Sutan Iskandar pernah menjabat pengurus Budi Utomo tahun 1929. Pada tahun 1935-1942 ia menjabat bendahara Partai Indonesia Raya (Parindra). Setelah Indonesia merdeka, ia bekerja sebagai anggota pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada pemilihan umum tahun 1955, Nur Sutan Iskandar terpilih sebagai anggota konstituante. Istri Nur Sutan Iskandar berasal dari Minangkabau. Dari perkawinannya itu ia memperoleh beberapa orang anak. Anaknya yang tertua bernama Nursinah yang menikah dengan pemuda Jawa dan oleh H.B. Jassin dijuluki sebagai "perkawinan Indonesia" karena perkawinan seperti itu pada tahun 1930-an merupakan peristiwa yang langka.

Nama Nursinah pernah dipakai oleh Nur Sutan Iskandar sebagai salah satu nama samarannya ketika menulis “Apa Dajaku karena Akoe Perempoean”. Tulisan Nur Sutan Iskandar yang terakhir pada tahun 1962. Di samping menulis karya asli, Nur Sutan Iskandar juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing. A. Teeuw mengatakan bahwa Nur Sutan Iskandar telah menerjemahkan berbagai buku, dari Quo Vadis hingga Conan Doyle, dari buku tentang kasti hingga sayur-sayuran. Dia juga menyadur kisah Abu Nawas, dan L'Avare karya Moliere untuk masyarakat Indonesia dengan judul Si Bachil (Jakarta: Balai Pustaka, 1926).

H.B. Jassin menyatakan bahwa Nur Sutan Iskandar sebagai tokoh penting generasi 1920-an. Dia sangat penting bukan saja karena karangannya yang asli, terjemahan, atau saduran, tetapi kedudukannya di Balai Pustaka sebagai penimbang naskah dan penyunting naskah yang akan diterbitkan. Di samping itu, ia juga orang yang berjasa dan bersemangat dalam perkembangan bahasa dan cita-cita kebangsaan.

Di Balai Pustaka ia banyak meloloskan karya sastra, termasuk mengedit karya itu. A. Teeuw, dalam Pokok dan Tokoh menempatkan Nur Sutan Iskandar sebagai pengarang penting sebelum perang. Teeuw menyatakan bahwa Nur Sutan Iskandar pastilah salah seorang pengarang Balai Pustaka yang terkemuka sebelum perang dunia. Baik melihat jumlah buah tangannya maupun isi (nilai) karangannya, Nur Sutan Iskandar banyak mendapat perhatian.

Selain itu, ia pada umumnya mempunyai pengaruh yang besar atas seluruh hasil kesusastraan Balai Pustaka. Chairil Anwar, pelopor Angkatan 45, menyatakan bahwa kita harus mengetahui dan meniru Nur Sutan Iskandar dalam kegiatannya bekerja. Nur Sutan Iskandar adalah orang yang kuat fantasinya. Zuber Usman mengemukakan beberapa pujian dan kritiknya terhadap Nur Sutan Iskandar. Dalam bukunya Kesusastraan Baru Indonesia, ia menyatakan bahwa kalau Nur Sutan Iskandar menceritakan sesuatu ia takkan berhenti sebelum orang jemu membacanya.


Karya-Karya Sastranya

K
arya Sastra Nur Sutan Iskandar banyak sekali, antara lain Apa Dayaku karena Akoe Perempoean (novel, 1922), Tjinta jang Membawa Maoet (novel, 1926 ditulis bersama Abd. Ager). Salah Pilih (novel, 1928), Karena Mentoea (novel, 1932), Hoeloebalang Radja (novel, 1934), Katak Hendak Djadi Lemboe (novel, 1935), Neraka Doenia (novel, 1937), Tjinta dan Kewadjiban (novel, 1940, dikarang bersama dengan L. Wairata), Tjinta Tanah Air (novel, 1944), Tjobaan (novel, 1946), dan Moetiara (novel, 1946). Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929), Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933), Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935), Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942), Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946), Pengalaman Masih Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949), Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang), Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II (Jakarta: JB Wolters, 1952), Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952), Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datu Majoindo, Jakarta: JB Wolters, 1946), Sesalam Kawin (t.t.), Si Bachil (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)*

Karena keaktifannya mengurus Jong Sumatranen Bond, Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai tokoh perintis kemerdekaan RI dan pada tahun 1961 ia menerima Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah Indonesia.


Penutup

N
ur St. Iskandar dan Hamka sebagai dua tokoh sastrawan asal Sungai Batang Maninjau. Keduanya menggambarkan sketsa masyarakat Minangkabau sebelum kemerdekaan, sebagaimana tercermin dalam novel Iskandar dan Hamka.

Dalam novel Iskandar, karakter yang baik di masyarakat adalah orang berpendidikan Barat yang merupakan majikan di kantor Belanda. Dalam novel Hamka, karakter masyarakat yang baik adalah karakter yang memegang pendidikan agama (Islam) dan bekerja sebagai wirausaha.

Kedua karakter mencerminkan kelompok sosial yang cenderung menunjukkan rasionalitas dan sikap yang baik, tetapi menentang tradisi yang bertentangan dengan agama (Islam). Sketsa kehidupan yang tercermin dalam novel Iskandar dan Hamka juga berdampak pada cara berpikir masyarakat Minangkabau.

Demikianlah sajian kami untuk mengenang almarhum Muhammud Nur Sutan Iskandar yang penulis panggil Babo Iskandar. Beliau mempunyai 5 orang anak. Anak laki-laki, Noorsan Iskandar, seorang Penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia seangkatan - dengan Umar Dani, KSAU 1962-1965  - angkatan Talco / California 1950-1952 ** yang meninggal tahun 1956 (?) dalam menerbangkan pesawat mengalami kecelakaan. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Sumber:
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/07/maninjau-negeri-para-inspirator-dan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Nur_Sutan_Iskandar
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Nur_Sutan_Iskandar
https://www.merdeka.com/muhammad-nur-sutan-iskandar/
*Sastra dan Sejarah Indonesia, Tiga Belas Karangan, Oleh Henri Chambert-Loir, h. 48, Di Terbitkan oleh: KPG (Gramedia).
**http://www.redchevron.com/wp-content/uploads/2017/04/SekbangTNIAU1-1945-1961.jpg
via-http://www.redchevron.com/alumni-sekbang-tni-au-di-museum-jogjakarta/□□