Tuesday, May 7, 2019

Belajar Dari Terjadinya Sejarah





KATA PENGANTAR

A
pa yang dimaksud dengan sejarah? Secara umum, pengertian sejarah adalah suatu peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lalu dan dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan archeology (seseorang yang mempelajari sejarah manusia dan prasejarah melalui penggalian situs dan analisis artefak dan fisik lainnya pada masa itu), catatan-catatan tertulis dan foto-foto serta gambar-gambar perjalanan atau peristiwa-peritiwa suatu bangsa.


Definisi sejarah dapat juga diartikan sebagai suatu cabang ilmu yang melakukan kajian secara sistematis mengenai seluruh perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat yang terjai di masa lalu.

Dalam sejarah, ada 3 aspek yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya, yaitu: Masa Lalu, yaitu gambaran mengenai kehidupan manusia dan kebudayaannya di masa lampau. Melalui gambaran masa lalu maka generasi berikutnya akan dapat merumuskan hubungan sebab akibat terjadinya suatu peristiwa. Dan tidak semua peristiwa atau kejadian dapat tercatat dalam sejarah. Masa Kini, yaitu masa dimana manusia mengalami masa yang terbaru dan merupakan masa yang sangat penting karena dapat menentukan masa depan. Manusia di masa kini memakai sumber pemahaman dari peristiwa di masa lalu sebagai cerminan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masa Depan, yaitu masa yang akan datang dimana segala sesuatu itu belum terjadi, dan segala sesuatu yang dilakukan pada masa kini akan mempengaruhi masa depan. Sejarah bukan terjadi dengan dengan sendirinya, melainkan dibuat oleh para pelaku sejarah dalam suatu peridode masa tertentu.

Pembahasan tajuk seperti diatas dibagi dalam 5 pasal sebagai berikut (1) Kewaspadaan Dalam Menjalani Sejarah; (2) Sejarah Jatuhnya Suatu Peradaban; (3) Mengubah Jalannya Sejarah; (4) Kesimpulan; (5) Penutup.



BELAJAR DARI TERJADINYA SEJARAH
Oleh: A. Faisal Marzuki


“innallāha lā yughoyyiru mā biqaumin hattā yughayyirū mā bianfusihim” Artinya: Sesungguhnya Allah Tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (bangsa) sebelum mereka (bangsa itu) mengubah keadaan diri mereka (anak-anak bangsa itu) sendiri (melakukannya). [QS Ar-Ra’d 13:11]

“lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat.” Artinya: Dia (manusia) mandapat (pahala, kebahagian hidup) dari kebajikan yang dikerjakan - sebagai agents of development, dan sebagai agents of change, dan dia (manusia) mendapat (dosa, kesengsaraan hidup) dari (kejahatan, kerusakan) yang diperbuatnya. [QS Al-Baqarah 2:286]

Perkembangan sejarah masa berikutnya tergantung kepada bagaimana generasi pelanjut mempersiapkannya.


KEWASPADAAN DALAM MENJALANI SEJARAH

R
asulullah SAW bersabda yang artinya: "Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar (agent of developments dan agent of changes), maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah."

"Hampir tiba suatu masa dimana berbagai bangsa/kelompok mengeroyok kamu, bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka." Seorang sahabat bertanya: "Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?" Nabi SAW menjawab: "(Tidak) Bahkan jumlah kamu pada hari itu sangat banyak (mayoritas), tetapi (kualitas) kamu adalah buih, laksana buih di waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan menanamkan penyakit "al wahnu". Seorang bertanya, "Apakah al-wahnu itu Ya Rasulallah?" Rasulullah menjawab: "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud).

Beberapa ayat al-Qur'an memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Qur’an ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang dapat menghancurkan peradaban mereka.


Allah SWT berfirman yang artinya: "Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri" (QS Al A'rāf 7:96)

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa. (QS Al-An'ām 6:44).

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al-Isrā' 17:16)

Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal: (1) sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur'an surat At-Taubah ayat 24. (2) tindakan elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah tampak dominan adanya para pembesar, tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah, atau siapa pun saja yang bermewah-mewah dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT Rasulullah SAW berkata yang artinya: "Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri." (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam hal ini pengertiannya adalah adalah sebagai kisah nyata sebagai berikut: Suatu waktu datanglah Tan Malaka tokoh di Sumatera Barat yang ikut merintis perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari tangan Hindia Belanda. Tahun 1940-an menyisiplah beliau dari perjalanan luar negerinya ke kota Padang memasuki rumah seorang tokoh perjuangan perintis kemerdekaan - Marzoeki Jatim atau ditulis juga dengan ejaan baru Marzuki Yatim.

Yang satu Tan Malaka seorang Muslim partainya Murba aliran pemikiran kebangsaannya menggunakan Karl Marx dan Friederich Engels (Materialisme Dialektika Logika- Madilog). Marzuki Yatim seorang Muslim aliran pemikiran kebangsaannya Islam dari organisasi Muhammadiyah.

Bertanyalah Tan Malaka kepada Marzuki Yatim: “Dia (perempuan) suka Saya, kenapa agama Islam melarangnya. Sama-sama suka (tidak dipaksa) - tanpa nikah. Pendek saja jawaban Marzuki Yatim: “Kalau sistim ini di berlakukan untuk umum, seluruhnya berbuat seperti itu - tanpa nikah, dimana tanggung jawab nafkah hidup seperti makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan perkembangan jiwa anak menjadi tanggung jawab orang tua - bagaimana jadinya (peradaban) dunia?” “Oh Angku Marzuki, sudah saya cukup mengerti sekarang, terima kasih atas jawabannya” Kata Tan Malaka, kemudian Tan Malaka pamit.


SEJARAH JATUHNYA SUATU PERADABAN

D
alam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. "Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS An-Nahl 16:36)

Sebagai misal, Kaum 'Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: "Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?" (QS Fushshilat 41:15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir'aun, Namrudz, dan sebagainya.

Di masa Rasulullah SAW, kaum Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS At-Taubah 9:25).

Sejarah juga mencatat, bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan selama 800 tahun (711-1492) dapat dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di Spanyol. Yang terpenting adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma'mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya. [2] Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah tetapi dapat mengalahkan kaum Muslim yang mayoritas.

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu dan Nusantara. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau peradaban seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah ditemukan dalam wilayah peradaban Melayu dan Nusantara? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara menghindarkannya?


MENGUBAH JALANNYA SEJARAH

Y
ang jelas, jatuh bangunnya suatu peradaban, pada dasarnya tergantung pada kondisi manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban adalah disebabkan oleh tindakan mereka sendiri, yang menciptakan "kondisi layak kalah" (al-qabiliyyah lil-hazimah). Allah SWT menegaskan yang artinya: "Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS al-Anfāl 8:53).

Sebuah buku yang bertajuk “Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza 'Ādat al-Quds” karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. [2] Buku ini menarik, terutama dari sudut pandang kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, adalah yang mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.

Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun. Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187. [3]

Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang "turun dari langit". Tetapi, dia adalah produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh.

Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan cara berfikir hidup kemasyarakatannya. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain. Kata penulis buku ini.

"Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh." [4]

Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan kondisi umat secara mendalam, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenahi pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya' Ulumuddin. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu sendiri) dan jihad melawan musuh dalam bentuk 'qital' (qital dalam Al-Qur'an lebih banyak berarti peperangan dalam arti fisik, ketika umat Islam diserang atau terdesak, mereka diharuskan untuk mempertahankan diri dengan cara qital, berperang semaksimal dan seprofesional mungkin) dengan baik.
 
Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu dengan "Kitabul Ilmi" dan sangat menekankan pentingnya aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar'. Aktivitas "amal ma'ruf dan nahi munkar", kata al-Ghazali, adalah kutub terbesar dalam urusan agama - 'amar ma'ruf (agents of development), nahi munkar (agents of changes). Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar' hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan. [5]

Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar. Tentu, tahap kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?

Rasulullah SAW bersabda: "Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Qur'an." (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehansif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya' Ulumuddin, dengan makna "Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama". Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya.

Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad SAW memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah SAW mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah SAW yang artinya:

Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su', atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang keilmuan harus mendapatkan perhatian dari umat Islam. Apalagi jika kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin umat. [6]


KESIMPULAN

D
ari hasil kajiannya terhadap gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan, bahwa yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. Firman Allah SWT menyebutkan yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (QS Ar-Ra'd 13:11).

Nabi SAW juga menyatakan yang artinya: "Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb." (HR Muslim).

Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan. [7]

Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam Indonesia melakukan introspeksi terhadap kondisi pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. Harus dilakukan evaluasi total terhadap kondisi internal umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit yang sangat membahayakan umat dan telah menghancurkan umat terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan ilmu. Introspeksi dan koreksi internal ini jauh lebih penting dilakukan dibandingkan meneliti kondisi faktor eksternal, sehingga 'kondisi layak terbelakang dan kalah' (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa dihilangkan. 

Kita bisa melakukan evaluasi internal, apakah para elite dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah menerapkan profesionalitas dalam pendidikan mereka? [8] Apakah tradisi ilmu dalam Islam sudah berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru bidang keislaman? Apakah konsep ilmu dalam Islam sudah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam? [9] Apakah para pelajar mencari ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah? Apakah budaya kerja keras dan sikap 'zuhud' terhadap dunia sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah (fanatisme kelompok) masih mewarnai aktivitas umat? Pada tataran keilmuan, bisa diteliti, apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara benar dan bermutu tinggi pada setiap bidang keilmuan? 

Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai potensi umat, dan waktu yang panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi kondisi internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa diteladani oleh umat manusia.

Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas 'Salahuddin al-Ayyubi'. Dan ini tidak mungkin terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia – terutama lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya – amat sangat serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah): berilmu tinggi dan beraklak mulia, yang mampu membawa panji-panji Islam ke seluruh penjuru dunia.


PENUTUP

J
ika generasi baru - seperti yang dimaksudkan dalam tulisan ini - telah lahir, maka akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah terjadi di masa-masa lalu. Yaitu terjadinya bentuk peradaban yang “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofūr”, dari firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā ketika menyebut Negeri Saba’ yang pada waktu itu indah dan subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang mereka terima,  [10] insyā Allāh. Wallāhu A'lam. Billāhit taufiq wal-Hidāyah. □ AFM



CATATAN KAKI:
[1] S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, (Pakistan: S.M. Shahabuddin,1969), 321-323.
[2] Judul dalam bahasa Indonesia adalah Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina (diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dan Amaluddin, Lc, MA). (Bekasi: Kalam Aulia Mediatama, 2007).
[3]  Lihat juga Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives, (Edinburg:Edinburg University Press, Ltd., 1999), 112-131. Hillenbrand mencatat tentang diskursus "the greater jihad" (jihad al-nafs) di masa Perang Salib: "The concept of the spiritual struggle, the greater jihad, was well developed by the time of the Crusade and any discussion of jihad in this period should always take into account the spiritual dimension without which the military struggle, the smaller jihad, is rendered hollow and without foundation." The twelfth-century mystic 'Ammar al-Bidlisi (d. between 590 and 604/1194 and 1207) analyzed the greater jihad, declaring that man's lower soul (nafs) is the greatest enemy to be fought." Abu Shama speaks of Nur al-Din in just these terms: "He conducts a double jihad against enemy and against his own soul." (hal. 161).
[4] Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, hal. 78-79. Dalam bukunya, al-Kilani mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya kondisi umat Islam saat itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan saat istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim, sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru berkata: "Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa', sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya." (hal. 49-65). 
[5] Allah SWT berfirman, yang artinya: "Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS al-Maidah: 78-79). Jadi, karena tidak melarang tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga memperingatkan: "Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya." (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga, sabda beliau saw: "Hendaklah kamu menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).
[6] Uraian lebih jauh tentang al-Ghazali dan Perang Salib, lihat Adian Husaini, Hegemoni Kisten-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: GIP, 2006), bagian Mukaddimah. Lebih jauh tentang bahaya kerusakan ilmu bisa dilihat, pada Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).
[7] al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, 6-7. (Sebagai perbandingan, tidak kalah pentingnya jika kita mengkaji kesuksesan penyebaran dakwah Islam di wilayah Nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Para juru dakwah adalah para wali atau ulama yang bekerja keras dalam mengubah kondisi masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim, sehingga berdirilah berbagai kerajaan Islam di wilayah ini. Maulana Malik Ibrahim, misalnya, diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun 1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, adalah santri dari Sunan Ampel, yang tak lain adalah putra dari Maulana Malik Irahim. Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981).
[8] Secara umum, kondisi buku-buku Pelajaran Agama di sekolah saat ini masih banyak mengandung kelemahan dan kekeliruan. Sekedar contoh, sebuah buku Pendidikan Agama Islam untuk kelas 2 SMA keluaran sebuah penerbit di Bandung, justru merendahkan prestasi keilmuan para ulama di wilayah Nusantara: "Dapat dikatakan, bahwa ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada masa itu, hanyalah ilmu tasawuf dan tarekat, disamping ilmu fiqih dan tauhid sebagai sekedar pelengkap ibadah semata. Para tokoh dan ulama yang muncul pada masa itu juga hanya ulama-ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Hampir tidak ditemukan nama-nama ulama fiqih, hadits, tafsir, dan yang lainnya, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Di Aceh dan Sumatera misalnya, muncul beberapa ulama nusantara kenamaan, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Abdurrauf Singkel, Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Abdusshamad Al-Falimbani yang nota bene semua adalah ulama tasawuf dan tokoh tarekat tertentu. Di Jawa juga muncul beberapa ulama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Siti Jenar dengan kelompok wali songonya, yang juga dapat dikatakan sebagai tokoh tasawuf dan penganut tarekat tertentu. Begitu juga di Sulawesi dan Kalimantan, terdapat nama-nama besar ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Misalnya, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah belajar cukup lama di kawasan dunia Islam, dan pulang ke tanah air sebagai tokoh tasawuf dan tarekat."
[9] Salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah terjadinya hegemoni konsep keilmuan Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi. Lebih jauh tentang fenomena ini lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal (Jakarta: GIP, 2005) dan Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).
[10] Allāh ‘Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr”. [QS Saba' 34:15] □□

 

SUMBER BAHAN PENULISAN:
http://sejarah-indonesia-lengkap.blogspot.com/2015/12/sejarah-peradaban-islam-di-dunia.html
Dan sumber bacaan lainnya. □□□

Wednesday, April 24, 2019

Air Sumber Kehidupan




wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30.

PENDAHULUAN

D
ari penyelidikan yang ada seperti teleskop raksasa yang ada di bumi, setelit teleskop hubble yang menjelajahi angkasa, pengiriman manusia yang menggunakan pesawat Apollo yang kapsulnya mendarat di permukaan bulan. Selanjutnya menggunakan robot kendaraan Spirit and Opportunity serta Curiosity yang membawa peralatan dan instrumen penelitian di daratan Mars. Di permukaan dan alam sekelilingnya yang dijelajahinya termasuk penelitian dari galian tanah di planet Mars. [1] Dari keduanya penelitiannya baik di bulan maupun di mars tidak ditemukan  adanya sumber air. Tidak ada pula kehidupan makhluk hidup seperti pepohonan, tanaman. Begitu pula  kehidupan makhluk biologis dan lainnya, apa lagi manusia seperti di bumi.

Demikianlah dengan tidak ada sumber air, maka makhluk biologis tidak ada pula. Dapat disimpulkan bahwa korelasi antara sumber air dan adanya kehidupan makhluk biologis sangat signifikan sekali. Hal ini dipertegas lagi oleh Yang Maha Benar  dan Maha Pencipta atas firman-Nya,  “wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin”. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30. Pahamlah sekarang kita kenapa baik di Bulan dan di Mars tidak ada kehidupan makhluk biologis, karena di sana itu tidak ada sumber air, seperti sungai, laut dan lautan serta air terjun atau mata air.



AIR  SUMBER  KEHIDUPAN
Agar Sadar Diri dan Imannya Teguh
Oleh: A. Faisal Marzuki


K
ajian kita mulai dari mengambil dalil dari Firman-Nya yang artinya “Allah-lah yang menciptakan Langit Ruang Angkasa (Samāwāti) dan Bumi (Ard) dan segala apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa...maka apakah kamu tidak memperhatikan”, Qur’an Surah As-Sajdah 32:4.

Mempelajarinya adalah bernilai ibadah, karena dianjurkan untuk mengetahui agar keimanannya tambah mantap artinya tidak goyah dengan adanya kemajuan-kemajuan dari iptek dan adanya 'cara pandang berpolitik tidak perlu lagi bersumber dari kebenaran' disebut (nama kerennya) 'post-truth politics'.

Di era millenial ke-3 dengan 'post-truth politics' ini yang dengan itu orang mulai tidak perlu menggunakan ajaran integritas moral dan kejujuran dari ajaran agama dalam bernegara, karena post-truth politics' dianggap ilmiah dan modern, padahal menghancurkan sendi-sendi bernegara yang tegaknya oleh karena integritas. Dalam catatan secarah jelas peran Islam dan Nasionalis saling memahami satu sama lain karena masing-masing berintegritas, lihat Sejarah Indonesia khususmya hubungan antara UUD 45 dan Piagam Jakarta. [2]

Di gelombang ketiga kemerdekaan Indonesia lahirnya zaman Orde Reformasi - post-g30s/pki’ ”agama dipisahkan dalam kehidupan bernegara.” Yaitu agar memisahkan persoalan politik dan negara. [3] Hal tersebut bisa cenderung disalah gunakan tafsirannya. Karena dalam  perjalanan sejarahnya menunjukkan seperti itu. (2) Pada zaman Orde Baru mengatakan ”bukan negara sekuler bukan pula negara teokrasi. Orde Lama mengatakan bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) bersumber dari Piagam Jakarta. (2) Ini artinya ‘ruh agama’ ada di UUD 45 sebagaimana sila pertama Pancasila  Ketuhanan Yang Maha Esa. [2]

Bahasan ini di dorong oleh kepedulian berbangsa yang perlu 'jurdil' (kejujuran dan keadilan) yang ada pada ajaran Islam. Dan keteladanan dari kualitas pemikiran atau pemahaman seorang Ūlil Albāb melihat 'alam nan terkembang jadi guru' [4] yang memotivasi penulis sebagaimana Qalam Illāhi mengatakan:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat Kauliyah kebesaran Allah di Alam Semesta - Universe ) bagi Ūlil Albāb.

yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata,

“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Mahasempurna Engkau (atas segala ciptaan-Nya), lindungilah kami dari azab neraka (karena salah sangka, duga negatif, atau tidak memanfaatkan di jalan-Nya)”, Qur’an Surat  Āli ‘Imrān 3:190-191.

Selanjutnya yang menjadi bahan memahami kajian tema ini adalah clues (petunjuk) ada di Qur’an Surah As-Sajdah 32:4 seperti telah disebutkan diatas sekali. Dan Surah An-Nāzi’āt yang artinya ”(27) Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangunnya? (28) Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, (29) dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). (30) Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.  (31) Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (32) Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (33)  (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”, QS An-Nāzi’āt 79:27-33.


PENJELASAN PENCIPTAAN
ALAM SEMESTA DALAM ENAM MASA

A
l-Qur’an surat ke-32, As-Sajdah, ayat ke-4 penggal pertama menerangkan bahwa Samāwāti (Langit Ruang Angkasa) dan Ard (Bumi) dan apa yang ada diantara keduanya – disebut sebagai Alam Semesta terbentuk sampai seperti yang ada sekarang ini diperlukan dalam enam (sittati) masa (ayyāmin). Ada pula dalam terjemahan yang lain dari kata Al-Qur’an - ayyāmin mengartikan dengan kata hari.

Kalau tidak paham fenomena (ayat-ayat) Kauniyah ini  sering menimbulkan permasalahan. Sebab, enam masa tersebut ditafsirkan berbeda-beda, mulai dari enam hari, enam periode, hingga enam tahapan. Oleh karena itu, pembahasan berikut mencoba menjelaskan bahwa sittati  ayyāmin itu maksudnya adalah enam masa, dari sudut pandang keilmuan kosmologi, astronomi dan fisika atau fisika nuklir serta geologi yang mempelajari dengan sungguh fenomena Kauniyah ini. Dasar penelitiannya dengan mempelajari fenomena-fenomena Alam Semesta yang dikaitkan dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang bertalian dengannya.

Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kata sittati ayyāmin yang artinya enam masa bukan enam hari adalah pada surat ke-79, surat An-Nāzi’āt. Isi firman Allah dalam surat An-Nāzi’āt pada ayat 27 sampai dengan ayat 33 seperti ayat-ayat Kauniyah dalam Qalam Illahi tersebut di atas, tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa terjadinya penciptaan Alam Semesta secara kronologis. [5] Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayat-ayatnya. Bahasan lengkapannya ada di (klik -->) Penciptaan Alam Semesta Dalam Enam Masa.

Topik yang akan dibahas disini adalah penciptaan makhluk dari air [6] sebagai yang menyebabkannya adanya makhluk biologis. Selanjutnya dengan air ini sebagi sumber kehidupan makhluk biologis termasuk kemudiannya manusia. [6]

Makhluk biologis waktu penciptaan Alam Semesta masa pertama dari alam semesta ini belum ada. Makhluk biologis ada setelah memasuki masa kelima penciptaan alam semesta. Karena alam semesta belum cukup untuk dapat memungkinkan dan memenuhi syarat kehidupan makhluk biologis.

Alam semesta belum stabil. Panasnya sangat kepalang tanggung amat-amat-amat panasnya, karena benda-benda di alam jagat raya seperti langit, bintang-bintang, gugus bintang, dan benda-benda angkasa seperti matahari, planit-planit sedang dalam keadaan prosesmenjadi dan air pun sebagai sumber kehidupan makhluk biologi belum ada. Malah benda-benda angkasa ini saling bertabrakan. Baru pada masa kelima proses penciptaan alam semesta ada tanda-tanda akan adanya makhluk biologis, yaitu adanya sumber air.


MULAI ADA AIR DI BUMI

“Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”, Al-Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 31.

P
engiriman Air ke Bumi Melalui Komet, Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 31). Bunyi firman-Nya: “Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”. Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air.

Jadi, darimana datangnya air? Air [6] diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. [6] Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. [5] [6] Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya. [5]

Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama mulai ada berupa tumbuhan bersel satu itu pun mulai muncul di dalam air.


MULAI ADANYA KEHIDUPAN
MAKHLUK BIOLOGIS DAN MANUSIA

Dan kamu lihat bumi ini kering (tak ada kehidupan makhluk biologis samasekali), kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) diatas (bumi)-nya hiduplah bumi itu menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis (makhluk-makhluk biologis seperti burung-burung, kupu-kupu, bunga-bungaan tetumbuhan, dst, dst) yang indah (rupanya), Qur’an Surah Al-Hajj 22:5.


P
roses geologis serta lahirnya hewan dan manusia, Qur’an Surah An-Nāzi’āt, ayat 32 dan ayat 33. Bunyi firman-Nya ayat 32: ”Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh” Makna dari tinjauan ilmuan Kauniyah, ”gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan ’daratan’, ’pembentukan air’ dan ’munculnya tumbuhan pertama’. Gunung-gunung terbentuk dari adanya interaksi antar lempeng superkontinen disebut Pangaea yang tadinya satu superkontinen menjadi kontingen-kontingan yang disebut benua-benua. Kemudian terpisah menyebar menjadi bagian benua-benua dengan nama masing-masing seperti Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. [5]

Sedang fungsi gunung-gunung yang ada pada setiap benua adalah sebagai ”pasak” Bumi benua masing-masing, sebagaimana yang tercantum dalam surat ke 16, surat An-Nahl ayat 15 yang artinya: ”Dan Dia menancapkan gunung di Bumi agar Bumi itu tidak bergoncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”[5]

Guna adanya dataran tanah di Bumi pada masing-masing benua bagi manusia oleh Tuhan Mahapencipta diterangkan dalam firman-Nya sebagai berikut: “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu,” Surat An-Nāzi’āt ayat 33. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, dan adanya air di laut dan di sungai-sungai serta jalan-jalan, maka terciptalah tumbuhan dan hewan. Dan last but not lease akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi. [5]

Jika diurutkan dari Masa Ketiga hingga Masa Keempat, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang artinya: ”Dan Dia ciptakan padanya (bumi) gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa. Memadai (memenuhi kebutuhan) untuk mereka yang memerlukannya”.[5]


PENUTUP

D
emikianlah proses sejak kemunculan alam semesta hingga akhirnya terciptanya manusia seperti kita sekarang ini. Uraiannya diambil dari penafsiran ”enam masa penciptaan alam” dalam surat As-Sajdah ayat 4, kemudian pada penggal terakhir menyebutkan ”maka apa kamu tidak perhatikan,” Qur’an Surah As-Sajdah 32:4.

Hal ini mengundang Ulil Albab [4] mencari tahu, yaitu dengan mengunakan sebagai perantara antara kombinasi aqli dan naqli. Aqli, kajian (penelitian) alam semesta (ayat-ayat kauniyah) menggunakan metodelogi sains. Naqli, pentadabburan (kajian) ayat-ayat Al-Qur’an (terutama ayat alam semesta) yang bertalian dengan alam semesta yang sedang diselidiki.

Apa yang terjadi dalam setiap masa proses penciptaan alam semesta yang disebutkan dalam Surah An-Nāzi’āt dari ayat 27 sampai ayat 33. Dari memahami Surah tersebut  dengan pengetahuan yang baru menggunakan metodelogi sains dan pentadabburan (kajian) ayat-ayat Al-Qur’an Surah-Surah An-Nāzi’āt, Al-Anbiyā’, As-Sajdah, An-Nahl,  Āli ‘Imrān, Al-Hajj, dengan itu tersimpulkan manfaat Alam Semesta bagi manusia. Yaitu untuk kesejahteraan kehidupan manusia di bumi dan lingkungan hidupnya sekitarnya - sebagaimana yang disebutkan dalam surat Fushshilat ayat 10 - Dia ciptakan bumi, gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi. Dan Dia berikan rezeki-rezeki yang cukup bagi kebutuhan dan keperluan hidupnya di Bumi.

Memang sungguh Dia (Allah) Mahahidup. Dia (Allah) Mahaberdirisendiri mengurus semua makhluk-Nya dengan sebaik-baiknya melalui perantaraan fasilitas yang telah Dia (Allah) ciptakan dan sediakan bagi makhluknya dengan sebaik-baiknya.

Tinggal lagi manusia yang diberi kemampuan sebagai khalifah pemakmur kehidupannya di Bumi sadar dan syukur akan pemberian-Nya bagi kepentingan sesama ummat manusia dengan lingkungan alamnya agar hidupnya sejahtera.

Itu hanya dapat dicapai dengan bekerja (ikhtiar sunatullah) menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Namun, hal itu hanya dapat dicapai dengan baik asalkan adanya dalam kehidupan bersosial kemasyarakatannya ditegakkan dengan keadilan, dari adil timbul keamanan. dari keamanan timbul kedamaian. Baru peradaban manusia yang di ridhoi-Nya, ada dan maju serta berkembang secara signifikan sebagai negara yang adil dan makmur (aman, damai serta sejahtera) dalam naungan dan suasana ”Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofūr” [7] bagi seluruh penduduknya. Wallāhu A’lam bish-Shōwab. Billāhitt Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM



Catatan Kaki:
[1] NASA's Mars Exploration Rover (MER) mission was a robotic space mission involving two Mars rovers, Spirit and Opportunity, exploring the planet Mars. It began in 2003 with the launch of the two rovers: MER-A Spirit and MER-B Opportunity—to explore the Martian surface and geology; both landed on Mars at separate locations in January 2004. Both rovers far outlived their planned missions of 90 Martian solar days: MER-A Spirit was active until March 22, 2010, while MER-B Opportunity was active until June 10, 2018 and holds the record for the longest distance driven by any off-Earth wheeled vehicle. Terjemahannya: Misi Mars Exploration Rover (MER) NASA adalah misi robot luar angkasa yang melibatkan dua penemu Mars, Spirit dan Opportunity, menjelajahi planet Mars. Itu dimulai pada tahun 2003 dengan peluncuran dua penemu: MER-A Spirit dan Peluang MER-B — untuk menjelajahi permukaan Mars dan geologi; keduanya mendarat di Mars di lokasi yang terpisah pada Januari 2004. Kedua penjelajah jauh melampaui misi yang direncanakan selama 90 hari matahari Mars: MER-A Spirit aktif hingga 22 Maret 2010, sementara Peluang MER-B aktif hingga 10 Juni 2018 dan rekor yang bertahan lama dalan kemampuan jelajah jarak yang terpanjang digerakkan oleh kendaraan roda di luar bumi.
[https://en.wikipedia.org/wiki/Mars_Exploration_Rover]

Curiosity is a car-sized rover designed to explore the crater Gale on Mars as part of NASA's Mars Science Laboratory mission (MSL). Curiosity was launched from Cape Canaveral on November 26, 2011, at 15:02 UTC and landed on Aeolis Palus inside Gale on Mars on August 6, 2012, 05:17 UTC. The Bradbury Landing site was less than 2.4 km (1.5 mi) from the center of the rover's touchdown target after a 560 million km (350 million mi) journey. The rover's goals include an investigation of the Martian climate and geology; assessment of whether the selected field site inside Gale has ever offered environmental conditions favorable for microbial life, including investigation of the role of water; and planetary habitability studies in preparation for human exploration. Terjemahannya: Curiosity adalah penjelajah seukuran mobil yang dirancang untuk menjelajahi kawah Gale di Mars sebagai bagian dari misi Laboratorium Sains Mars (MSL) NASA. Curiosity diluncurkan dari Cape Canaveral pada 26 November 2011, pukul 15:02 UTC dan mendarat di Aeolis Palus di dalam Gale on Mars pada 6 Agustus 2012, 05:17 UTC. Situs Pendaratan Bradbury berjarak kurang dari 2,4 km (1,5 mi) dari pusat target touchover rover setelah perjalanan 560 juta km (350 juta mi). Tujuan penjelajah termasuk penyelidikan iklim dan geologi Mars; penilaian apakah lokasi lapangan yang dipilih di dalam Gale pernah menawarkan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan mikroba, termasuk investigasi peran air; dan studi kelaikan planet dalam persiapan untuk eksplorasi manusia. Pada Desember 2012, misi dua tahun Curiosity diperpanjang tanpa batas waktu, dan pada 5 Agustus 2017, NASA merayakan ulang tahun kelima pendaratan penjelajah Curiosity. Bajak masih beroperasi, dan pada 23 April 2019, Curiosity telah berada di Mars selama 2386 sol (2451 total hari) sejak mendarat pada 6 Agustus 2012. (Lihat status saat ini). Desain Curiosity direncanakan dan berfungsi sebagai dasar untuk penjelajahan Mars sampai tahun 2020 yang  membawa berbagai instrumen peralatan ilmiah.
[https://en.wikipedia.org/wiki/Curiosity_(rover)]
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2017/12/sejarah-piagam-jakarta.html
[3] https://nasional.kompas.com/read/2017/03/24/19084521/presiden. jokowi. pisahkan.agama.dan.politik
[4] Qur’an Surat  Āli ‘Imrān 3:190-191.
[5] Prof. Dr. T. Djamaluddin, Ahli Astronomi, Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa.
[6] wa ja’alnā minalmā-i kulla syay-in hayyin. Artinya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, Qur’an Surah Al-Anbiyā’ 21:30.
wa laqad khalaqnal insāna minsulālatim min thīn. Artinya: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, Qur’an Surah Al-Mu’minūn 23:12.
[7] Makna lughawi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafūr. Mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebut Negeri Saba’ sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr? Karena dalam bahasa kalimat tersebut mempunyai arti “Negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun”. Meski kalimatnya singkat namun maknanya padat, dan dapat mewakili semua kebaikan yang dulunya ada pada Negeri Saba’ tersebut, karena “negeri yang baik” bisa mencakup seluruh kebaikan alam dan pemerintahannya yang berkuasa ketika itu, dan “Rabb Yang Maha Pengampun” bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala , Rabb Alam Semesta. □□



Sumber:
https://misykatulanwar.wordpress.com/2008/06/10/proses-penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa/
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/10/penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa.html
https://spaceplace.nasa.gov/space-robots/en/
http://www.skyandtelescope.com/astronomy-news/hubble-confirms-dark-energys-clout/
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2014/05/islam-ilmu-pengetahuan-i.html
http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2014/05/islam-modernisasi-i.html
Terjermahan arti ayat al-Qur’an diambil dari ALFATIH, Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka ALFATIH □□□