Wednesday, July 12, 2017

5 Alasan Mengapa Orang Minang Gemar Merantau





J
ika kita coba melakukan survei pada orang-orang yang bukan bersuku Minang, apa kira-kira yang terpikirkan di benak mereka saat mendengar kata “Minang”, lebih spesifiknya “Orang Minang”, beberapa hal yang terbayang barangkali: ● Rendang (nama gulai daging yang lezat lagi gurih); ● Manggaleh (berdagang, berusaha); dan ● Merantau. 

   Tiga kata tadi adalah yang paling dominan muncul di pikiran orang-orang banyak terkait Minangkabau. Terkhusus untuk kata ketiga “merantau” itu, budaya merantau sudah melekat pada diri orang-orang Minang sejak berabad lalu. Salah satu penduduk Negeri Sembilan di Malaysia adalah berasal dari Minang. Sehingga kebiasaan (adat istiadat) masih sama dengan asal Minang.

   Tak heran, jika orang Minang bisa ditemukan hampir di seluruh wilayah nusantara dan dunia. Konon kabarnya (dari penuturan orang saja), untuk wilayah Jakarta, pada setiap 10 orang yang ditemui 1 diantaranya adalah orang Minang. Intinya, orang Minang dari dulu memang gemar merantau ke daerah-daerah baru karena beberapa alasan tertentu. Apa saja alasan orang Minang suka merantau itu? berikut ulasannya dari Sumbar.co.


Pertama: Belum Berguna di Kampung

   Tradisi merantau di Minangkabau sudah dimulai sejak dahulu. Dulunya merantau ini bukan meninggalkan Sumatera Barat namun meninggalkan daerah-daerah inti Minangkabau. Orang-orang Minang terdahulu merantau dari Luhak Nan Tigo ke daerah rantau seperti Pariaman, Pesisir Selatan dan lainnya. Kebanyakan yang merantau adalah para pemuda, sebagaimana mamangan adat berikut:

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau Bujang dahulu
Di kampuang baguno balun

Seyogyanya seorang bujang Minang merantau ke negeri orang untuk belajar hidup mandiri, untuk menempa diri agar lebih dewasa lagi, untuk mencari pengalaman yang akan dibawa kembali ke kampung halaman ketika waktunya telah tiba.


Kedua: Mencari Ilmu Pengetahuan

   Alasan lain mengapa orang Minang suka merantau adalah untuk menimba ilmu pengetahuan. Sebagaimana falsafah adat alam takambang jadi guru, alam Minangkabau saja tentu belum cukup untuk memberikan ilmu. Ilmu bertebaran di muka bumi, itulah yang akan dicari. Pada konteks kekinian pula, banyak anak-anak muda Minang yang merantau untuk belajar, seperti berkuliah dan lain sebagainya. Ilmu yang didapatkan di rantau itulah nanti yang akan digunakan untuk membangun nagari.

Ketiga: Mencari Isi Periuk

   Tak bisa dipungkiri, alasan kuat mengapa orang Minang suka merantau adalah untuk mencari harta. Untuk mengisi periuk. Membuat dapur rumah di kampung berasap hingga memenuhi kebutuhan keluarga. Faktanya, sebagian besar orang Minang yang merantau mengambil peran sebagai pedagang. Mengumpulkan pundi-pundi uang demi keluarganya.


Keempat: Mencari Pangkat atau Jabatan

   Sepintas memang alasan merantau yang satu itu terkonotasi negatif, tapi begitulah adanya. Sebagian dari orang Minang merantau untuk mencari pangkat atau jabatan. Di tanah perantauan mereka mulai membangun reputasi. Segala kemampuan mereka kerahkan untuk orang banyak dengan umpan balik orang-orang di rantau akan menyukai mereka. Tidak sedikit juga orang-orang Minang yang sukses jadi orang-orang besar dan berpengaruh di perantauan, dari dulu hingga sekarang.


Kelima: Mambangkik Batang Tarandam

   Alasan terakhir mengapa orang Minang suka merantau adalah demi mambangkik batang tarandam, artinya merubah nasib dirinya dan keluarganya. Alasan itu menjadi kompilasi dari alasan-alasan lainnya. Ini pula lah yang menjadi motivasi terbesar orang Minang dalam merantau.

Tatkala mereka mulai malas dan sudah agak melenceng dari tujuan awal, mereka harus merenungi hal satu ini agar bisa kembali ke jalan yang benar.  

   Tak peduli kemanapun orang-orang Minang merantau, di manapun mereka berada falsafah-falsafah adat harus senantiasa mereka genggam erat. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah tetaplah menjadi acuan utama, sebab dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang. Alam selalu terkembang untuk mereka jadikan guru. Setinggi-tingginya bangau terbang, pulangnya ke kubangan jua, maksud sejauh apapun mereka merantau, kampung halaman harus diingat jua.

   Dari lirik lagu minang “Kasiah Mandeh” ini tercermin kebiasaan marantau yang berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau sbb:



Janiah aianyo danau Maninjau
nampak nan dari si ambun pagi
nampak nan dari si ambun pagi

Lapehkan denai pai marantau
kok untuang isua lai barasaki
kok untuang isua lai barasaki

Gadang aianyo Batang Antokan
nampak nan dari si Aia Bangih
nampak nan dari si Aia Bangih

Doakan denai pai bajalan
untuang salamai pulang jo pai
untuang salamai pulang jo pai

Tabanglah alang tabang si Kiki
hinggo dirantiang si Kayu Aro
hinggo dirantiang si Kayu Aro

Doakan denai pado Ilahi
mandeh dikampuang di kana juo
mandeh dikampuang di kana juo

Jawih sia nan panjang tandua
makan barulang ka padang sago
makan barulang ka padang sago

Malang badan indak bainduak
makan balinang jo aia mato
makan balinang jo aia mato

Gadang aianyo Batang Antokan
namak nan dari si Aia Bangih
namak nan dari si Aia Bangih

Doakan denai pai bajalan
untuang salamai pulang jo pai
untuang salamai pulang jo pai

Tabanglah alang tabang si Kiki
hinggo dirantiang si Kayu Aro
hinggo dirantiang si Kayu Aro

Doakan denai pado Ilahi
mandeh dikampuang di kana juo
mandeh dikampuang di kana juo


   Namun, sebagian besar, marantau cino. Artinya menetap di negeri seberang, pulang kampuang sekedar visit (kunjungan). Karena kini populasinya melebihi kapasitas daya tampung tempat asal.

   Namun begitu, rasa dan solidaritas tetap “merasa di kampung”, walaupun di rantau. Lagu Kasiah Mandeh tersebut pelepas rindu kampung, “taraso taraga kampung, lapeh”.  □ AFM


Dengarkan Video Lagu: KASIAH MANDEH


Sumber:
Sumbar.co dan kaisosogarcia-blogspot serta sumber-sumber lainnya. □□□

Jam Gadang Bukittingi dan Big Ben London




Pengantar

B
ukittinggi adalah kota bersuhu sejuk atau dingin yang pernah jadi ibukota negara di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia tahun 1948. Kota Bukittinggi terkenal karena Jam Gadang ini sebagai ikonnya. Jam Gadang sebagai penanda waktu, penanda pusat kota, dan lokasi berfoto paling kondang se-Sumatera Barat, juga kebanggaan seluruh warganya.

   Umur Jam Gadang tahun ini sudah 91 tahun. Kota kenangan penulis, karena lahir disini sewaktu Indonesia masih berumur dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika itu rumah dinas tempat tinggal orang tua diantarai oleh jalan besar ditengah, dan berikutnya Ngarai Sianok sebagai Grand Canyon Khatulistiwa, dikanan ngarai terletak Lubang (terowongan) Jepang.

   Jam Gadang ini megah dan anggun. Pelatarannya bersih. Tempat sampah dan taman pepohonannya dirawat baik, juga kursi-kursi betonnya dicat. Taman Sabai Nan Aluih, tempat tegaknya Jam Gadang, juga Istana Bung Hatta dan Pasar Ateh,  seperti menjadi kesatuan yang indah dibingkai oleh panorama Ngarai Sianok di kejauhan.


   Keindahannya inilah yang menjadi magnet hadirnya ratusan pengunjung dari pagi, siang, petang, hingga malam. Berfoto dengan latar belakang Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi, jadi wajib bagi setiap orang yang datang ke sini. Tempat yang favorit untuk arena bermain bagi keluarga dengan anak balita pada pagi sampai petang hari.


Jam Gadang Bukittinggi

   Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "Jam Besar".

   Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.


Struktur Bangunan

   Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.

   Terdapat 4 sisi jam dengan diameter masing-masing 80 senti meter pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Roterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur, Padang, dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Benterletak di tengah kota London, sebagai ibukota kerajaan Inggris.


   Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yang bertuliskan Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang dari pembuat jam, nama lengkapnya Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.

   Bangunan memanjang keatas tempat Jam Gadang berada, dibangun tanpa menggunakan konstruksi rangka besi dan semen beton sebagaimana layaknya sebuah bangunan bertingkat tinggi dibuat, melainkan berbahan dari susunan batubata kokoh dengan disemen yang menggunakan campurannya bahan kapur, putih telur, dan pasir putih.


Sejarah Jam Gadang

   Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka namanya diganti menjadi kota Bukittingi, karena kota ini terletak di dataran bukit yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Abidin Rajo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.

   Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, suatu biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak mulai dibangun dan kemudian diresmikan, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Apalagi terletak di atas bukit yang mudah dilihat oleh penduduk sekitarnya. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.


Atap Jam Gadang berubah mengikuti zaman siapa yang berkuasa.

   Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa kekuasaan Hindia Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk selinder yang diatasnya ada kubah setengah bulat yang memanjang dengan patung ayam jantan terletak diatas atap kubah menghadap ke arah timur di atasnya.


   Kemudian pada masa pendudukan Jepang sebagai penguasanya diubah menjadi bentuk atap pagoda. Terakhir setelah  Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk atap gonjong sebagaimana rumah adat Minangkabau yang disebut Rumah Gadang.

   Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.


Favorit Turis Berfoto dan Berbendi

   Keindahan seperti yang telah dipaparkan diatas itulah tempat ini tidak heran lagi menjadi magnet hadirnya ratusan pengunjung, berfoto dengan latar belakang Jam Gadang.

   Satu lagi sasaran kegemaran wisatawan di sini adalah naik Bendi yang di Jakarta disebut Delman atau Andong di Jogja. Bendi, kereta berkuda yang dikemudikan saisnya banyak berjajar di depan pelataran Jam Gadang, atau di jalan menurun arah Panorama Ngarai Sianok.

   Bendi di Bukittinggi sebenarnya alat transportasi yang digunakan sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Saisnya sebagian besar adalah juga pemilik kuda yang tinggal di sekitar Pacuan Kuda Bukit Ambacang.


Dari kiri atas: 1. Rumah Moh. Hatta; 2. Benteng Fort De Kock;
3. Lubang Jepang; 4. Ngarai Sianok; 5. Taxi Tradisional Bendi.

   Untuk para turis, sangat menyenangkan naik Bendi berkeliling melihat atau menuju tempat wisata lain di sekitarnya seperti Lubang Jepang, Benteng Fort de Kock, Panorama Ngarai Sianok atau Rumah Kelahiran Proklamator Hatta.

   Demikianlah kota kenangan ini segar kembali bagi penulis yang jauh dari kampung halaman. Konon dulu tahun 50-an tempat penulis bermukim selama 30 tahun sampai sekarang ini ditempuh menggunakan Kapal Api. Jarak tempuhnya memakan waktu sebulan, sebagaimana yang diceritakan Taufiq Ismail Tokoh Budaya kondang yang sempat bercerita tentang pengalamannya ketika diundang ke Masjid IMAAM Ccenter, Silver Spring, Maryland. Beliau ketika itu sebagai siswa SMA kelas terakhir dalam program AFS bersekolah di Amerika Serikat. Namun kini dengan pesawat udara jet air liner memakan waktu 24 jam. □ AFM




Sumber:
id-wikipedia, Kompas-com, dan sumber lainnya. □□□

Sunday, July 2, 2017

Kemunduran Peradaban Islam




"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan yang munafik dan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim" [QS Āli ‘Imrān 3:140]


Kata Pengantar

   Bagi kaum muslimin, salah satunya, negeri Andalusia adalah sepenggal kenangan yang selalu hinggap dalam ingatan. Kenangan tentang betapa kaum muslimin dan risalah Islam yang dibawanya, pernah menguasai sebuah wilayah di benua Eropa selama kurang lebih 800 tahun atau 8 abad lamanya. Sebuah rentang waktu yang cukup lama, dan meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

   Andalusia, negeri indah dan eksotis, berada dalam pemerintahan Islam dari tahun 92 H/711 M hingga tahun 797 H/1492 M. Kekhilafahan Islam dan dinasti-dinasti kaum muslimin, berhasil mengubah wilayah di daratan Eropa itu menjadi simbol kegemilangan peradaban dan kekuatan kaum muslimin. Umat Islam mengisinya dengan tinta emas kejayaan dan keunggulan peradabannya. Ketika wilayah Andalusia, yang saat ini terletak di Spanyol dan sebagian kecil Portugal berada di bawah kekuasaan kaum muslimin, jejak-jejak kecermelangan peradaban mereka menjadi rujukan bangsa-bangsa Eropa.

    Bangunan-bangunan dengan estetika dan kemegahan tegak berdiri. Ilmu pengetahuan dan penelitian berkembang pesat. Para sejarawan yang meneliti negeri Andalusia banyak menceritakan bagaimana umat Islam yang bercokol di wilayah itu berhasil memberikan sumbangsih bagi peradaban dan ilmu pengetahuan ke segala penjuru Eropa dan Dunia.

    Jika hari ini kita mengenal kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, dan sebagainya yang hari ini tersohor di sebagai basis klub-klub sepak bola ternama serta menjadi tujuan wisata dunia, maka ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin, dan berada di bawah pemerintahan Islam. □ AFM


Kemunduran Peradaban Islam


S
etelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya – yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal – berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya.

   Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahan Turkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20. Faktor-faktor tersebut adalah sbb:
  1. Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu (ketika itu sumber ladang minyak mentah sebagai bahan bakar alat transportasi dan tenaga penggerak mesin industri manufaktur belum dikenal). Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar.
  1. Faktor eksternal. Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.” Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.
  1. Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 170 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.
   Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

   Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

“Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.”

   Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

   Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:
 
“…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.”

Lebih lanjut ia menyatakan:

“Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan.”

   Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan. Di Baghdad keperdulian al-Ma’mun, pendukung Mu’tazilah dan al-Mutawakkil pendukung Ash’ariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu: 1) rusaknya moralitas penguasa, 2) penindasan penguasa dan ketidak adilan, 3) Despotisme atau kezaliman, 4) orientasi kemewahan masyarakat, 5) Egoisme, 6) Opportunisme, 7) Penarikan pajak secara berlebihan, 8) Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat, 9) Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama, dan 10) Penggunaan pena (media pengabaran) dan pedang (power) secara tidak tepat.

   Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania atau ke Barat yaitu Cairo.

   Itulah sebagian pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang disampaikan oleh para sejarawan Muslim tentang kemunduran peradaban Islam. Jika al-Hassan memfokuskan pengamatannya pada masa-masa terakhir kejatuhan kekuasaan Islam pada abad ke 16 hingga abad ke 20, Ibn Khaldun mengamati peristiwa-peristiwa sejarah pada abad ke 15 dan sebelumnya. Kini masih diperlukan redifinisi tentang kemunduran ummat Islam secara umum dan mendasar, agar kita dapat memberikan solusi yang tepat. □ AFM



Sumber:
banihamzah-wordpress-com dan sumber-sumber lainnya. □□□